Nasir Minta PTN Harus Siap Hadapi Era Disruption Innovation

Rabu, 06 Desember 2017 – 02:42 WIB
M Nasir. Foto: JPNN

jpnn.com, JAKARTA - Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir meminta pemimpin perguruan tinggi negeri (PTN) melakukan perubahan. Pasalnya, saat ini adalah era persaingannya yang semakin tinggi. Era saat ini telah mengalami Disruption Innovation.

"Para pemimpin PTN harus siap menghadapi era disruption innovation. Kita tidak lagi mengelola lembaga sebagai 'Business as Usual', tetapi bagaimana suatu lembaga bisa bersaing di era global dengan cepat, akuntanbil dan transparan yang baik," kata Nasir dalam acara pelantikan Rektor dan Direktur Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di lingkungan Kemenristekdikti, Selasa (5/12).

BACA JUGA: Nasir: Kampus Negeri Jangan seperti Kapal Pukat Harimau

Pemimpin PTN yang baru saja dilantik antara lain Rektor Universitas Nusa Cendana, Fredrik Lukas Benu, Direktur Politeknik Negeri Padang, Surfa Yondri, dan Direktur Politeknik Negeri Banyuwangi, Son Kuswadi. Ketiganya akan memulai tugas barunya untuk periode tahun 2017-2021.

Nasir menyebut, tugas para pimpinan PTN ke depan jauh lebih berat karena situasi masa lalu tidaklah mudah dari situasi masa kini.

BACA JUGA: Temui Pelaku Gladiator di Tahanan, Mendikbud Terdiam

"Kerja keraslah yang menjadi kunci utama. Saya harap para pemimpin baru dapat menjadikan universitas dan politeknik supaya lebih baik lagi serta mampu menyediakan lulusan yang bekualitas. PTN juga harus mampu mengubah ke arah tata kelola universitas yang baik, kuncinya yaitu transparansi, jujur, dan bertanggung jawab," tuturnya.

Nasir juga mengingatkan kepada para pemimpin universitas yang baru untuk melakukan perubahan dalam mengelola universitasnya. Minimal bisa menempuh akreditasi A. Kalau bisa akreditasi di tingkat internasional.

BACA JUGA: Siswa SMP Tewas, Mendikbud Marah Besar

"Inilah perjuangan yang harus dilakukan bersama," imbuhnya.

Selain itu, Nasir juga mengingatkan kepada para pemimpin politeknik untuk segera menyiapkan sumber daya yang berkualitas dan punya kemampuan dalam pendidikan vokasi. Tidak cukup lulusan politeknik hanya mendapatkan ijazah. Perlu dikembangkan sertifikat kompetensi pada masing-masing prodi di politeknik tersebut.

"Dosen juga harus mempunyai sertifikat kompetensi agar mereka betul-betul menjadi dosen profesional sesuai bidangnya. Dosen yang ada di politeknik juga tidak cukup dari akademisi saja, tetapi harus melibatkan dari industri yang terkait," pungkasnya.(esy/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Ratusan Ribu Honorer K2 Kecewa pada Mendikbud


Redaktur & Reporter : Mesya Mohamad

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler