Negara Afrika Ini Tidak Terima Warganya Ditembak Mati Polisi Amerika

Rabu, 03 Juni 2020 – 19:02 WIB
Pistol. Foto: pixabay

jpnn.com - Pemerintah Gambia menuntut dilakukannya penyelidikan yang transparan terhadap kasus penembakan ke salah satu warganya oleh anggota kepolisian Amerika Serikat di negara bagian Georgia pekan lalu.

Penembakan diyakini terjadi setelah polisi berusaha mengejar seorang warga Gambia saat ia mengendarai mobil.

BACA JUGA: Trump Tuding Antifa Dalang Kerusuhan di Amerika, Siapa sih Mereka?

GBI pada Selasa (2/6) menyebut pengendara mobil adalah Momodou Lamin Sisay, warga Gambia yang tinggal di Lithonia. Lamin Sisay, 39, merupakan anak dari Lare Sisay, seorang diplomat Gambia yang bekerja untuk Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP).

Pernyataan resmi GBI menerangkan penyelidikan awal menunjukkan beberapa anggota kepolisian mengejar Lamin Sisay karena ia menolak berhenti saat diminta polisi. Petugas meyakini plat mobil Lamin Sisay bermasalah.

BACA JUGA: Amerika Serikat Makin Mencekam, 16 Negara Bagian Mengerahkan Tentara Cadangan

Lewat pernyataan resminya, GBI menjelaskan mobil yang dikendarai Lamin Sisay berhenti tiba-tiba dan petugas pun mendekatinya. Namun, Lamin Sisay menodongkan senjata ke arah petugas.

Petugas pun menembak kendaraan Lamin Sisay dan mundur untuk berlindung di balik mobil polisi.

BACA JUGA: Amerika Diguncang Demonstrasi, Rusia Mendadak Antikekerasan terhadap Jurnalis

Saat tim SWAT berhadapan dengan Lamin Sisay, ia menembak ke arah petugas dan salah satu dari mereka membalas tembakan tersebut. Sisay pun tewas di tempat kejadian, terang pernyataan itu.

Kementerian Luar Negeri Gambia telah meminta kedutaan besar untuk menghubungi otoritas terkait di AS agar ada penyelidikan yang transparan, kredibel, dan objektif terhadap kasus penembakan itu.

Ayah Sisay, Lare Sisay, sebagaimana dikutip media di Gambia, mengatakan ia tidak akan berkomentar sebelum ada hasil otopsi dari penyelidik independen. Diplomat Gambia itu mengatakan anaknya merupakan "orang yang membenci kekerasan".

Sejumlah pemimpin di Afrika mengutuk kekerasan yang dilakukan kepolisian di Amerika Serikat dalam beberapa pekan terakhir, khususnya setelah seorang warga kulit hitam, George Floyd, tewas setelah disiksa oleh seorang polisi di Minneapolis.

Floyd tewas pada 25 Mei setelah seorang anggota Kepolisian Minneapolis, Derek Chauvin, berlutut di atas lehernya selama hampir sembilan menit sampai ia akhirnya tewas kehabisan napas. Chauvin telah dicopot dari kesatuannya dan dituntut bersalah atas dua pasal pembunuhan. (ant/dil/jpnn)


Redaktur & Reporter : Adil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler