Sekitar 300 orang pencari suaka Rohingya yang diyakini telah berada di laut selama enam bulan dilaporkan telah berlabuh di Provinsi Aceh, di ujung barat laut Pulau Sumatra, Indonesia. Para pencari suaka adalah bagian dari kelompok yang lebih besar yang berlayar dari Bangladesh pada bulan Maret atau April Di antara mereka ada seorang anak berusia 13 tahun yang segera membutuhkan perhatian medis Palang Merah berharap sisanya dipindahkan ke pusat evakuasi

 

BACA JUGA: Tiga Tahun Berjalan, Program Kartu Diaspora Indonesia Dinilai Tidak Bermanfaat

Polisi Aceh mengatakan, sebuah perahu kayu yang membawa pengungsi Rohingya ditemukan oleh nelayan setempat beberapa kilometer di lepas pantai dekat Lhokseumawe sebelum bersauh di Pantai Ujung Blang setelah tengah malam hari Senin kemarin.

Rohingya adalah etnis minoritas Muslim dari Myanmar yang telah mengalami penganiayaan dari Pemerintah Myanmar dalam beberapa tahun terakhir.

BACA JUGA: Kaum Jomblo Dapat Keringanan Selama Masa Lockdown di Melbourne

Ada 297 orang Rohingya di atas kapal itu, di antaranya 181 perempuan dan 14 anak-anak, ujar Iptu Irwansyah, Kapolsek Banda Sakti.

Junaidi Yahya, kepala Palang Merah di Lhokseumawe, mengatakan para pengungsi itu masih ditahan untuk sementara waktu.

BACA JUGA: Pembatasan COVID-19 di Melbourne Ditargetkan Berakhir November 2020

"Kami berharap mereka bisa dipindahkan ke pusat evakuasi hari ini, tapi kesehatan mereka, menjadi perhatian utama kami, terutama di tengah COVID," kata Junaidi. Photo: Seorang perempuan Rohingya dibantu berjalan oleh orang lain setelah perahu yang membawa mereka tiba di Lhokseumawe, Aceh. (AP: Zik Maulana)

 

Sementara itu, polisi mengatakan seorang anak berusia 13 tahun yang dalam keadaan tidak sehat telah dibawa ke rumah sakit dengan ambulans.

Dari foto-foto kedatangan pengungsi Rohingya terlihat barisan perempuan yang mengenakan masker yang membawa harta benda mereka dalam kantong plastik, sementara para pria meringkuk di lantai tempat penampungan yang beratap jerami.

Sebelumnya, nelayan Aceh menyelamatkan lebih dari 100 pencari suaka Rohingya, termasuk 79 perempuan dan anak-anak, dari kapal lain bulan Juni lalu, setelah Pemerintah Indonesia awalnya mengancam akan menolak mereka.

Para nelayan tersebut juga mendapat pujian dari dunia internasional karena telah dianggap menyelematkan para pengungsi Rohingya yang hendak ke Australia.

"Mungkin karena orang Aceh sendiri pernah menderita di masa sebelumnya, harus melarikan diri dari konflik dan karena tsunami," ujar Rima Shah Putra dari Yayasan Geutanyoe di Aceh.

Namun ia pernah mengatakan kepada ABC Indonesia jika kapasitas masyarakat Aceh untuk menampung para pengungsi juga terbatas.

"Pada akhirnya, rakyat Aceh menginginkan ASEAN turun tangan untuk menyelesaikan permasalahan ini bersama-sama," ujarnya.

"Kami bukan masyarakat yang kaya-raya," tambahnya. Photo: Pengungsi asal Rohingya beristirahat setelah kapal yang membawa mereka bersauh di Lhokseumawe, Aceh, Indonesia, Senin pagi. (AP: Rahmat Mirza)

 

Ratusan ribu etnis Muslim Rohingya telah melarikan diri dari Myanmar yang mayoritas beragama Buddha dar apa yang dikatakan PBB sebagai "genosida oleh Pemerintah Myanmar".

Banyak diantara mereka kini tinggal di kamp pengungsian padat di Bangladesh.

Pemimpin Myanmar, Aung San Suu Kyi telah membantah tuduhan genosida tersebut.

Aktivis hak asasi khawatir sejumlah besar Rohingya telah pergi ke laut, melarikan diri dari penganiayaan yang sedang berlangsung di Myanmar, dan saat ini mengalami kesulitan di kamp-kamp di Bangladesh setelah para penyelundup menjanjikan mereka kehidupan yang lebih baik di luar negeri.

Menurut beberapa lembaga advokasi, telah terjadi peningkatan kemarahan publik di Asia Tenggara terhadap pengungsi Rohingya dan pencari suaka di tengah semakin dalamnya krisis akibat virus corona.

Chris Lewa, direktur Proyek Arakan, sebuah kelompok nirlaba yang berfokus pada krisis Rohingya, mengatakan mereka yang tiba di Aceh pada Senin telah berlayar dari Bangladesh selatan pada akhir Maret atau awal April, menuju Malaysia.

Tetapi otoritas Malaysia dan Thailand menolak untuk membiarkan mereka berlabuh, katanya.

Para penyelundup membagi penumpang ke dalam beberapa perahu, beberapa di antaranya berhasil menepi di Malaysia dan Indonesia pada bulan Juni, tetapi beberapa ratus lainnya masih di laut.

Sebelum mereka dibawa ke pantai, para penyelundup menelepon keluarga mereka untuk meminta uang pembayaran.

Chris mengatakan para penyelundup tampaknya tidak ingin menurunkan mereka karena tidak semua orang telah membayar biaya yang diminta.

Artikel ini diproduksi oleh Hellena Souisa dari artikel ABC News

BACA ARTIKEL LAINNYA... Ini Daftar Negara Teraman dari Pandemi COVID-19, Indonesia Peringkat Berapa Ya?

Berita Terkait