Ngemis Selama Puasa, Dapat Rp 7,5 Juta

Rabu, 30 Juli 2014 – 04:14 WIB

jpnn.com - SERIBU satu cara pengemis mengais rezeki lebaran seolah tak akan berakhir, meski takbir berhenti berkumandang. Tak kehilangan akal, untuk menghindari petugas penertiban, Parusmono (40) dan Udin (30), menyamar sebagai petugas sapu jalanan.

Selama bulan puasa bergulir, dua pengemis ini bisa meraup penghasilan minimum hingga Rp 7,5 juta. Nahas, kedok dua pria asal Brebes, Jawa Tengah ini terungkap petugas Suku Dinas Sosial, Jakarta Selatan.

BACA JUGA: Delapan CCTV Awasi Kemacetan Puncak

Setelah terlibat aksi kejar-kejaran dengan petugas, keduanya berhasil  tertangkap saat beraksi di Jalan Patal Senayan, Jakarta Selatan pada malam takbir, Senin (28/7) dinihari.

"Meski sempat berupaya kabur, mereka akhirnya berhasil kami tangkap," ungkap Kepala Seksi Penertiban Suku Dinas Sosial Jakarta Selatan, Miftahul Huda, Senin (28/7).

BACA JUGA: Macet Total Sepanjang Kalimalang

Ia menuturkan, kala itu, mereka terlihat percaya diri, berseragam oranye khas penyapu jalanan Dinas Kebersihan DKI. Tak getir sedikitpun meski petugas berpatroli di sekitar kawasan mereka beroperasi.

Dilala, ketika dihampiri keduanya malah ambil langkah seribu. Sambil melepas seragam, mereka tunggang langgang menuju kegelapan malam.

BACA JUGA: Wali Kota Bogor Minta Maaf Belum Mampu Atasi Macet

"Pas kita sergap dari belakang, ternyata mereka kaget, terus melarikan diri ke tempat sepi dan gelap. Mereka juga sempat nyopot pakaian, sapu juga mereka tinggal," tutur Miftahul.

Tak kalah cerdik, petugas lantas mengepung arah pelarian Parusmono dan Udin. Keduanya kemudian diamankan ke panti sosial terdekat. Kepada petugas, Parusmono mengakui, kalau modus serupa dia lakukan bersama Udin dan dua pengemis lainnya.

"Tapi yang dua lainnya kabur saat mengetahui gelagat petugas penertiban yang hendak menangkapnya," ujar Miftahul.

Lanjut Miftahul, informasi pengemis bermodus petugas kebersihan ini sebenarnya diketahui dari Wakil Gubernur DKI, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Sejak pagi hari, beliau sudah menginstruksikan kepada Kepala Dinas Sosial DKI untuk segera menindaklanjuti.

"Siang hari kita buru tapi hasilnya nihil. Berdasarkan investigasi petugas, mereka beroperasi malam hari di Patal Senayan. Malamnya, kita langsung menuju sasaran," kata Miftahul.

Kecurigaan petugas sapu jalanan gadungan itu terendus, karena tidak ada aturan Pemprov yang memberlakukan jam malam bagi mereka untuk bekerja. Jika memang ada, dipastikan petugas tersebut gadungan. Untuk itu, Ahok berpesan, agar masyarakat tidak tetipu.

"Karena selama ini Pemprov sudah menggaji mereka sesuai UMP (Upah Minimum Provinsi). Kalau memang ada jam malam, hanya untuk kegiatan tertentu saja," jelasnya.

Modus kedua petugas kebersihan gadungan ini juga, kata Miftahul, sudah dikeluhkan masyarakat. Selama bulan puasa, mereka kerap bekerja sampai malam hari.

Itu membuat masyarakat mempertanyakan, kemana nurani Pemprov yang membayar dengan upah minim, tapi kerja sampai larut malam. Bahkan, dini hari pun mereka masih sibuk.

"Selain untuk menghindari petugas, modus belas kasihan ini yang mendorong mereka menyamar. Hasil setiap malamnya di bulan puasa, mereka bisa meraup Rp 250 ribu. Terlebih mendekati hari H lebaran," beber Miftahul. (asp/ibl)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Rumah Terbakar, Batal Mudik, Ngungsi di Kolong Jembatan


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler