Oh Cinta...Senyum Genit Campur Manja Nani Widjaja

Senin, 17 April 2017 – 07:24 WIB
Nani Widjaja dan Ajip Rosidi melangsungkan akad nikah di Keraton Kasepuhan, Cirebon, Minggu, (16/4/2017). Foto: Folly Akbar/Jawa Pos

jpnn.com - Siapa sangka, di usia 72 tahun, benih-benih cinta di hati Nani Widjaja kembali merekah kala disiram hangatnya perhatian Ajip Rosidi, 79. Keduanya pun sepakat menikah.

FOLLY AKBAR, Cirebon

BACA JUGA: Satu Tarikan Napas, Ajip Rosidi: Saya Terima Nikahnya Hajah Nani Wijaya...

Nani Widjaja mendadak panik. Langkahnya tertahan. Dari gelagatnya, dia sepertinya tengah mencari seseorang.

Benar saja, di tengah ratusan orang yang memadati Masjid Sang Cipta Rasa di Keraton Kasepuhan Cirebon kemarin (16/4), pemeran Emak dalam serial Bajaj Bajuri itu berteriak-teriak. ”Mana Ajip, mana Ajip?” ujarnya dengan raut gelisah.

BACA JUGA: Momo Geisha dan Reza, Cinta Itu Kamu

Tak lama, sosok yang dicarinya menyeruak dari kerumunan dan tiba di sisinya. Sastrawan gaek yang sudah menelurkan ratusan karya tersebut tampak kalem dan penuh karisma dengan rangkaian kuncup bunga melati yang terkalung.

Seketika, raut gelisah Nani langsung sirna. Berganti dengan senyum merona. ”Saya kira tadi hilang, dibawa kabur orang,” kata Nani, lantas tertawa lepas.

BACA JUGA: Sejoli Tahanan Menikah di Kantor Polisi

Wajar saja jika Nani panik dengan ketiadaan Ajip di sisinya. Sebab, setelah berjalan beriringan, Ajip tiba-tiba tak tampak karena terhalang berjubelnya ratusan pengunjung yang memadati Masjid Sang Cipta Rasa.

”Kan sudah tua, bagaimana kalau terdorong?” katanya sambil melirik Ajip. Senyum genit campur manja menyempurnakan gurat kecantikan yang masih terpancar kuat di wajah Nani.

Kemarin Nani dan Ajip mengikat janji suci. Pada pukul 09.30 WIB, akad nikah berlangsung di bawah naungan masjid yang dibangun para wali itu dengan disaksikan Sultan Kasepuhan Cirebon Pangeran Raja Adipati Arief Natadiningrat. Emas 50 gram menjadi mahar pernikahan.

Sejatinya Nani dan Ajip tak menyebar undangan maupun menyiapkan resepsi. Mereka beralasan, ngapain pernikahan kakek-nenek sampai mengundang orang dan dirayakan. Namun, semuanya berbalik. Justru pernikahan kakek-nenek yang unik itulah yang mendorong warga untuk berjubel. Apalagi, rencana pernikahan tersebut sudah tersebar di media massa.

Tak pelak, suasana masjid yang biasanya sepi mendadak ramai. Meski akad nikah baru digelar pada pukul 09.30 WIB, warga berbondong-bondong datang sejak pukul 08.00. Suasananya bak pasar tumpah.

Semua orang berlomba-lomba mengabadikan momen tersebut dengan ponsel pintar masing-masing. Saking ramainya, tidak mudah bagi kedua mempelai untuk berjalan, baik ketika masuk maupun keluar masjid.

Kenapa memilih menikah di Cirebon? Nani dan Ajip punya alasan tersendiri. Di Kota Udang itulah Nani dilahirkan.

Adapun Ajip merupakan putra kelahiran Kabupaten Majalengka. Salah satu daerah yang secara historis masuk Karesidenan Cirebon, selain Indramayu dan Kuningan. Karena itu, pernikahan kemarin dijadikan ajang nostalgia bagi kedua mempelai.

Sama halnya dengan pemilihan Masjid Sang Cipta Rasa. Tempat itu sengaja dipilih untuk menggaungkan lagi syiar kebudayaan. Ajip yakin, dengan dipilihnya masjid keraton, akan banyak orang bertanya-tanya.

Nah, dari pertanyaan itulah, orang akan kembali mencari tahu keistimewaan masjid yang dibangun pada abad ke-15 tersebut.

”Orang Cirebon sendiri belum tentu tahu bahwa masjid ini masih asli seperti saat dibangun,” tuturnya.

Tentu banyak yang penasaran dengan kisah perjalanan cinta Ajip dan Nani. Ajip menceritakan, hubungannya dengan salah seorang aktris dalam serial Tukang Bubur Naik Haji itu terbangun sejak lama.

Bahkan sejak keduanya masih memiliki pasangan masing-masing. Namun, saat itu hubungan mereka tidak lebih dari sekadar berkawan.

Seperti diketahui, sebelumnya Nani adalah istri Misbach Yusa Biran yang meninggal pada 2012. Nani dan Yusa dikaruniai enam anak.

Adapun Ajip sebelumnya bersanding dengan Fatimah Wirjadibrata yang tutup usia sekitar 2,5 tahun lalu. Ajip dan Fatimah juga dikaruniai enam anak.

Pada akhir 2016, hubungan antara janda dan duda itu menjadi lebih dekat. Itu pun bisa dikatakan tidak sengaja. Semua berawal dari kebutuhan Ajip berobat di Jakarta.

Saat bolak-balik berobat itulah, Ajip kerap bertemu dengan Nani. Entah karena angin apa, komunikasi keduanya semakin lama semakin intens. ”Mungkin karena sama-sama butuh teman,” kata Ajip, lantas tersenyum.

Karena merasa cocok, pria kelahiran 31 Januari 1938 itu pun nekat menyatakan ketertarikan kepada Nani.

Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Feeling Ajip benar, ternyata Nani memiliki perasaan yang sama. ”Maka, kami sepakat menikah,” tuturnya.

Nani mengakui, pada awalnya rencana pernikahan tersebut sempat dipertanyakan anak-anaknya. Penyebabnya, usia keduanya tidak lagi muda.

Namun, setelah dijelaskan bahwa keduanya membutuhkan teman satu sama lain, restu dari anak-anaknya pun datang.

Menurut Nani, menikah di usia yang tua bukan hal yang mudah karena tidak lumrah di masyarakat. Sempat tersirat sedikit rasa malu.

Bahkan, dia merasa bahwa pernikahan keduanya itu jauh lebih mendebarkan daripada yang pertama. ”Ini lebih deg-degan dari yang pertama lho,” ungkapnya, lantas tertawa.

Saat ditanya soal rencana bulan madu, dengan raut tersipu Nani tidak membantah. Meski bukan lagi anak muda, dia menilai kakek-nenek pun berhak menikmati bulan madu.

”Memangnya cinta terbatas ke anak muda saja?” ujarnya, berkelakar. Sayang, Nani menutup rapat-rapat soal ke mana bulan madunya.

Setelah melangsungkan pernikahan, Ajip berencana membawa Nani ke kediamannya di Pabelan, Magelang, Jawa Tengah.

Di rumah yang berada di persawahan itu, dia ingin menghabiskan sisa hidupnya bersama Nani. Tentu dengan melanjutkan aktivitasnya sebagai seniman.

Meski demikian, dia menegaskan tidak melarang istrinya untuk beraktivitas sesuai profesi sebagai aktris.

Namun, dia mengisyaratkan kemungkinan intensitas yang lebih sedikit. ”Tapi, saya tetap akan mengingatkan untuk memperhatikan keluarga,” terangnya.

Salah seorang anak Nani, Cahya Kamila, mengaku senang dengan apa yang telah diraih sang bunda kemarin. Apalagi, ibunya tampak bahagia, bisa kembali menemukan pasangan hidup di masa tua.

Cahya tak menampik bahwa dirinya dan saudaranya yang lain sempat kaget dengan rencana pernikahan tersebut, mengingat usia Nani yang sepuh. Namun, karena Ajip dikenal baik dan bisa membuat sang ibu ceria, mereka luluh.

”Ternyata membawa dampak positif buat ibu, kebahagiaan lahir dan batin. Mudah-mudahan menyehatkan ibu,” tuturnya.

Namun, dia berharap pernikahan itu tidak berujung lahirnya adik baru untuknya. Di usia yang sudah tidak muda, tujuan pernikahan sejak awal hanya mencari pendamping di hari tua.

”Bukan untuk mendapatkan momongan lagi, tapi kita nggak ada yang tahu ya. Tujuan menikah ini adalah menjadi teman hidup, ngobrol, gitu aja,” kata anak ketiga Nani itu.

Sementara itu, Sultan Kasepuhan Cirebon Pangeran Raja Adipati Arief Natadiningrat menyebut kisah Nani dan Ajip bisa menjadi contoh bagi para pemuda, khususnya di Cirebon, bahwa sikap saling menyayangi harus terus dipupuk tanpa terbatasi usia. (c11/owi)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Hidup Melajang Bebas Stres, Masa sih?


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler