Ojol Vs Opang Pecah di Depan Stasiun UI

Selasa, 23 Januari 2018 – 23:14 WIB
Keributan antara ojek online versus ojek pangkalan hampir meletus di depan stasiun UI. (Sabik Aji Taufan/JawaPos.com)

jpnn.com, JAKARTA - Bentrokan pecah antara ojek online dan ojek pangkalan di depan stasiun commuter line Universitas Indonesia UI, Depok, Selasa (23/1).

Kejadian berawal saat Rusman, seorang pengemudi ojek berbasis aplikasi hendak menjemput penumpang. Tiba-tiba, lima orang opang yang biasa mangkal di sekitar stasiun UI mendatanginya dan langsung mengeluarkan kata-kata kasar.

BACA JUGA: Tak Ditahan, Si Peremas Payudara di Depok Hanya Wajib Lapor

"Tiba-tiba nyamperin, di depan saya dikatain di anjing-anjingin, di sampah-sampahin," ucap Rusman, kepada JawaPos.com di kompleks kampus UI.

Selain mengeluarkan kata-kata kasar, oknum ojek konvesional juga diduga melakukan pemukulan kepada pengendara ojek online sesaat setelah Rusman pergi meninggalkan Tempat Kejadian Perkara (TKP).

BACA JUGA: Pengakuan Peremas Payudara di Depok yang Viral di Medsos

Menurut keterangan Rusman, kejadian ini berlangsung sekitar pukul 19:00 WIB. Kabar kekerasan ini menyebar dengan cepat melalui aplikasi berpesan Whatsapp (WA).

Tak lama dari waktu kejadian itu, ribuan ojek online dari beberapa wilayah sekitar Depok yang tidak terima atas perlakukan semena-mena Opang, dengan cepat memadati kawasan UI.

BACA JUGA: Polisi Cek Ulang TKP Kematian Arsitek di Depok

Keadaan sempat memanas. Namun kesigapan petugas keamanan UI berhasil mencegah terjadi baku hantam antara Ojol dan Opang stasiun.

Namun, keadaan panas tidak berhenti begitu saja, beberapa pengendara Ojol dan petugas keamanan yang sama-sama tersulut emosi, hampir terlibat baku hantam.

Setelah dilakukan mediasi oleh pihak keamanan, akhirnya ribuan pengendara Ojol mulai membubarkan diri meninggalkan TKP dengan tertib.

Saat dikonfirmasi terkait hal ini, Kepala Keamanan UI Herman menerangkan bahwa penyebab keributan ini masih simpang siur.

Bahkan hingga saat ini tidak satu orang pun Ojol yang melapor jika telah menjadi korban kekerasan.

"Infonya belum pasti mas, katanya ada yang dipukul tapi di cari korbannya gak ada, cuma katanya saja ada korban, kita juga bingung gimana mau nindaknya," pungkasnya.

Atas ketidakpastian tragedi kekerasan ini Keman menghimbau kepada seluruu pihak agar tidak tersulut emosi dan termakan isu-isu fiktif yang beredar. (sat/JPC)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Fakultas Kedokteran UI Siap Bantu Pemerintah Perangi Difteri


Redaktur & Reporter : Adil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler