Optimalkan Kinerja Operasi, Pertamina Komitmen Jaga Ketahanan Energi Nasional

Senin, 08 Agustus 2022 – 11:00 WIB
Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati menyampaikan komitmen perusahaan yang dipimpinnya untuk menjaga ketahanan energi nasional. Foto: Dokumentasi Pertamina

jpnn.com, JAKARTA - Pertamina terus memaksimalkan kinerja operasi demi menjaga ketahanan energi nasional.

Di bidang hulu sampai dengan Juni 2022, Pertamina mampu meningkatkan produksi migas sebesar 965 MBOEPD dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu sebesar 850 MBOEPD.

BACA JUGA: Pertamina Buka Suara soal Ledakan di SPBU Tapak Kuda, Tolong Simak!

Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan pencapaian tersebut diraih berkat beberapa upaya optimal yang dilakukan para perwira Subholding Upstream.

Pertama, peningkatan aktivitas pengeboran dan kerja ulang sebagai upaya optimasi sumur existing.

BACA JUGA: Raihan Laba Pertamina Perlu Diapresiasi, Meningkat 95 Persen

Kedua, peningkatan aktivitas pada fasilitas produksi dan sarana pendukung.

Ketiga, implementasi teknologi dan transformasi digital di Subholding Upstream Pertamina.

BACA JUGA: Pengumuman! Harga BBM Pertamina Naik Lagi, di Wilayah Jakarta Jadi Sebegini

Salah satu upaya optimal yang ditunjukkan Subholding Upstream adalah keberhasilan Pertamina Hulu Rokan (PHR) dalam melaksanakan alih kelola Blok Rokan dalam satu tahun terakhir ini.

"PHR mampu melewati proses transisi, mencakup cultural engagement yang meliputi penyesuaian proses bisnis, budaya kerja dan sistem manajemen keselamatan, serta sharing best practice dengan entitas Pertamina lainnya sehingga operasional Blok Rokan berjalan lancar," ujar Nicke.

Bahkan menurut Nicke, dengan kompleksitas tinggi dan skala terbesar di regional (SEA), pengelolaan Blok Rokan oleh PHR menjadi model alih kelola terbaik.

Dalam satu tahun alih kelola, PHR juga berhasil melakukan 370 pengeboran atau lebih dari tiga kali lipat dari sebelumnya, yaitu 105 pengeboran sumur dengan eksekusi 15 ribu kegiatan Work Over (WO) dan Well Intervention Well Services (WIWS) yang menyerap 60 persen Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) untuk menggerakkan perekonomian nasional.

Masifnya pengeboran tersebut, otomatis meningkatkan jumlah rig pengeboran aktif menjadi lebih dua kali lipat dari yang awalnya 9 menjadi 21 rig dan akan terus meningkat menjadi 27 rig hingga triwulan akhir 2022.

Demikian juga dengan penggunaan rig WOWS.

"Di awal alih kelola memanfaatkan 25 rig WOWS, saat ini menjadi 32 rig WOWS dan akan terus meningkat hingga 52 rig WOWS di triwulan 4 pada tahun ini," paparnya.

Nicke menyebutkan pengeboran yang masif dan agresif tersebut menghasilkan peningkatan produksi migas dari rata-rata 158,7 MBOPD sebelum alih kelola menjadi 161 MBOPD saat ini.

Volume cadangan pun meningkat dari 320,1 MMBOE pada awal transisi menjadi 370,2 MMBOE setelah satu tahun alih kelola.

"Tak dapat dipungkiri, meskipun kenaikan harga minyak global menyebabkan impact positif untuk Pertamina di bisnis hulu, di sisi lain kondisi ini memberikan tekanan di bisnis penyediaan BBM," ungkap Nicke.

Nicke memaparkan tekanan di bisnis penyediaan BBM dipengaruhi banyak faktor, di antaranya faktor geopolitik luar negeri yang semakin berkembang dan permintaan produk BBM dalam negeri yang terus meningkat padahal kilang existing Pertamina belum mampu memenuhi kebutuhan tersebut.

"Untuk itu, kami berupaya mempertahankan intake sesuai rencana optimasi hilir, meningkatkan keandalan melalui program preventif, prediktive maintenance dan turn around, serta pengembangan dan pembangunan kilang sesuai amanat pemerintah melalui proyek RDMP dan GRR," ujarnya.

Optimasi operasional juga dilakukan lini bisnis lainnya.

Subholding Power, New & Renewable Energy (PNRE) Pertamina berupaya memaksimalkan produksi listrik melalui peningkatan aktivitas pada fasilitas produksi dan sarana pendukung, seperti PLTS dan PLTPb, sekaligus berupaya maksimal menekan unplanned shutdown.

Subholding Gas Pertamina berupaya memaksimalkan operasional dengan menggulirkan beragam program, di antaranya PGN Sayang Ibu dan PGN Masuk Desa.

Subholding Gas juga terus menjalankan opeational excellence, meningkatkan cost optimization program, serta meningkatkan kapasitas jaringan gas dan trading LNG.

Sementara itu, Subholding Integrated Marine & Logistics Pertamina terus meningkatkan sinergi dengan berbagai stakeholder, baik internal mau eksternal.

Mengusung green marine logistics, subholding yang dinakhodai oleh PT Pertamina Internasional Shipping (PIS) ini agresif mengembangkan pasar regional.

Selain itu, yang tak kalah penting dan selama ini menjadi garda terdepan distribusi energi ke seluruh pelosok negeri adalah upaya optimasi operasional yang dilakukan oleh Subholding Trading & Commercial.

"Upaya optimasi operasional tersebut melalui beragam intensif program, seperti BBM Satu Harga, Pertashop, OVOO, Pertamina One Solution, MyPertamina, NFR, Ecosystem EV, serta Subsidi Tepat Saran," sebutnya.

Nicke menegaskan beragam optimasi kinerja operasional yang dilakukan tersebut menjadi bukti komitmen Pertamina dalam rangka menjaga ketahanan energi nasional. (mrk/jpnn)


Redaktur : Sutresno Wahyudi
Reporter : Sutresno Wahyudi, Sutresno Wahyudi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler