Pak Guru di Flores Timur Cerita, Siswa-siswanya Antusias Belajar Daring

Sabtu, 11 April 2020 – 14:13 WIB
Damsianus Tukan SPd, guru IPA SMPK Sanctissima Trintas Hokeng. Foto: Istimewa for JPNN.com

jpnn.com - Pembelajaran daring yang saat ini dilaksanakan seluruh sekolah akibat gejolak pandemi virus corona COVID -19, bukan hal baru bagi guru dan siswa di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Banyak tenaga pendidiknya yang jauh sebelum corona masuk Indonesia, sudah dibekali dengan pembelajaran daring.

BACA JUGA: Mas Nadiem, Lihatlah Siswa Sekolah Pribadi Depok Enjoy Belajar Daring

Mesya Mohammad - Jakarta

Seperti pengakuan Damsianus Tukan SPd alias Damsil, guru IPA SMPK Sanctissima Trintas Hokeng.

BACA JUGA: Belajar Daring Kurangi Kebiasaan Main Game Siswa

Sekretaris IGI (Ikatan Guru Indonesia) Flores Timur ini mengungkapkan, banyak tenaga pendidik yang dilatih untuk meningkatkan kompetensinya melalui kanal-kanal IGI.

Salah satu kanal yang viral yaitu SADAR IGI (Sarasehan Dalam Jaringan) mampu menjawab kebutuhan guru untuk belajar di dunia maya menggunakan aplikasih kekinian.

BACA JUGA: Pengakuan Pasien Positif Corona Pertama di NTT, Ternyata Sempat Singgah di Jakarta dan Bali

Sudah bertahun -tahun, SADAR IGI mampu menghimpun ribuan guru Indonesia melalui pelatihan-pelatihan di dunia maya.

"Aplikasi yang tengah heboh saat ini adalah aplikasi cisco webex room. Salah satu aplikasi kerja sama IGI dan lembaga tingkat Asia Tenggara yang bergerak di bidang pendidikan yang memberikan ruang pelatihan online secara gratis," kata Damsil kepada JPNN.com, Sabtu (11/4).

Selaku guru muda di daerah 3T (tertinggal, terdepan, terluar) yang haus akan IPTEK, Damsil merasa mendapat kesempatan emas bergabung bersama IGI untuk memacu diri, mengejar ketertinggalan.

Hampir setiap Rabu malam dia selalu sempatkan diri unfuk bergabung bersama guru-guru tanah air mengikutidaring kanal SADAR IGI secara online. Baik seminar, workshop maupun pelatihan-pelatihan.

"Sungguh banyak manfaatnya selain update ilmu pengetahuan tetapi juga bertemu bersama bapak ibu guru hebat tanah air ini. Saling bertukar informasi seputar peningkatan kompetensi guru dan siswa," tuturnya.

Berbekal segudang pengetahuan di IGI, Damsil semakin memberanikan diri ini untuk melaksanakan pembelajaran daring bersama anak didiknya.

Selain aplikasi cisco webex room, Damsil juga menggunakan aplikasi www.zoom.us yang diperkenalkan Pakode Abdurachman selaku ketua IGI Maluku.

Damsil menceritakan, tiga hari sebelum belajar di rumah diberlakukan Gubernur NTT dan Bupati Flores Timur, dia langsung bergerak cepat.

Mendata nomor handphone atau WhatsApp para siswa dan orang tua/wali murid. Grup WA pun terbentuk hanya untuk memudahkan komunikasi terkait belajar dari rumah melalui dunia maya tetapi tetap face to face.

"Anak-anak hanya siapkan android dan kuota pulsa secukupnya serta instal aplikasih webex room dan Zoom di playstore masing-masing. Mendengar hal baru ini anak-anak terlihat begitu antusias," ujarnya.

Hari pertama saat daring face to face, menurut Damsil, anak didiknya sangat proaktif. Ini terlihat saat sebelum jam tayang, sudah rame chating-an via grup. Membahas seputar pembelajaran online face to face.

Tiba waktunya ruangan classroom dibuka, Damsil tidak menyangka para siswanya sudah melek teknologi.

Walaupun aplikasi ini baru bagi mereka tetapi anak-anak bisa langsung menyerap dengan cepat. Hampir separuh dari jumlah kelas mereka hadir saat itu.

"Setelah memberikan tata tertib serta hal teknis singkat juga menyapa mereka masing-masing, menanyakan soal kesehatan mereka terkait pandemi virus corona, puji Tuhan mereka sehat-sehat selalu. Memang terbukti sampai saat ini NTT masih negatif covid-19," bebernya.

Selama pembelajaran daring, lanjut Damsil, dia menggunakan waktu 40 menit untuk pemaparan materi dan diskusi singkat. Selama 40 menit berikutnya diisi dengan tanya jawab seputar materi pembelajaran yang berlangsung di sesi pertama.

Sebagai guru mapel IPA, Damsil mengaku bangga karena metode yang dilakukannya ternyata banyak mendapat tanggapan dari anak didik.

Rasa ingin tahu yang begitu besar. Satu per satu pertanyaan mereka jawab sambil memberikan umpan balik kepada mereka.

"Jika soal cakaran, maka tombol tools yang ada di aplikasi saya manfaatkan secara maksimal untuk menjelaskan kepada siswa. Mereka pun sangat mengerti. Ada contoh soal yang kami bahas bersama. Tutor sebaya juga berlaku di kelas maya ini. Belajar di rumah terasa di kelas. Itulah salah satu pengakuan dari anak didik saya," papar Damsil.

Namun, di balik itu masih ada sisi negatif dari belajar di rumah. Damsil mengatakan, beberapa siswanya belum punya android.

Ada juga yang punya handphone tetapi jaringan internet di rumah mereka belum memadai. Dan yang paling mendasar adalah kuota internet mereka sangat terbatas karena rata-rata ekonomi keluarga mereka kelas bawah.

Dia berharap pemerintah secepat mungkin memfasilitasi kekurangan ini agar kelas maya ini terus dilanjutkan dan dirasakan manfaatnya oleh semua siswa. (esy/jpnn)


Redaktur & Reporter : Mesya Mohamad

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler