Pak Haji Meninggal dalam Posisi Sujud di Masjid

Sabtu, 07 Januari 2017 – 00:08 WIB
Ilustrasi Foto: dok.JPNN.com

jpnn.com - JPNN.com - H Miftahul Arifin bin Majid (63), warga Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, Jatim, meninggal dunia dalam posisi sujud ketika salat.

Agung Priyo-Malang

BACA JUGA: Mengharukan, Nisa Langsung Menangis

Rumah duka di Jalan Kauman 72, RT07 RW02 Kecamatan Lawang, terus berdatangan para takziyah, Rabu (4/1).

Di depan rumah terpasang tenda untuk berteduh. Di teras depan rumah ada lima orang laki-laki sibuk melipat karpet warna hijau.

BACA JUGA: Bikin Pot, Sekali Tender Omzet Rp 45 Juta

Mereka semuanya adalah kelima anak laki-laki (alm) H Miftahul Arifin. Dengan ramah, mereka menyambut kedatangan Malang Post (Jawa Pos Group). Kendati awalnya tidak kenal, namun mereka menerima dengan baik.

"Sama adik saya saja ya mas. Silahkan duduk di sana (teras depan rumah yang sudah terpasang karpet warna hijau, red)," kata Iwan, anak sulung dari lima bersaudara.

BACA JUGA: Berawal dari Kisah Anjing Pelacak Mengendus di Bandara

Almarhum sebenarnya orang biasa. Tidak ada keistimewaan dari dirinya. Ia bukan imam ataupun pengurus Masjid. Sekalipun rumahnya persis di belakang Masjid Babus Salam Lawang.

Bapak lima orang anak ini, kesehariannya juga seperti warga lainnya. Hanya saja, almarhum sudah dua kali menunaikan ibadah haji, terakhir pada 2010 lalu.

"Awalnya kami setengah tidak percaya. Namun seiring waktu dan banyak yang mengatakan bahwa bapak meninggal dalam posisi khusnul khotimah, akhirnya kami ikhlas. Meninggal di dalam Masjid, sambil sujud," terang Muhammad Subkhan, anak bungsunya.

H Miftahul Arifin bin Majid, lahir pada 1 Januari 1954. Ia meninggalkan seorang istri Hj Nurjannah dan lima orang anak laki-laki serta tujuh orang cucu.

Sebelum meninggal dunia, almarhum memang sudah lama menderita sakit diabetes. Namun selama ini tidak pernah kambuh. Kalaupun kambuh, hanya merasa pusing dan tidak sampai rawat inap.

Selama hidupnya, almarhum tidak pernah meninggalkan salat. Bahkan tidak pernah telat untuk menjalanlan ibadah salat lima waktu. Sekalipun kondisinya sakit ataupun hujan deras sekalipun, almarhum selalu menyempatkan salat di Masjid.

Bahkan, sebelum terdengar suara adzan, almarhum sudah beranjak ke Masjid. Termasuk untuk salat tahajud (tengah malam) sebelum salat subuh, juga dilakukan di Masjid. Ya, karena selama ini Masjid sudah dianggap sebagai rumahnya.

"Bapak memang tidak pernah sekalipun meninggalkan salat lima waktu. Setiap salat selalu di Masjid," kata Subkhan.

Selasa (3/1) siang, almarhum juga sempat pergi ke Pasar Lawang untuk membeli pisang. Tidak ada tanda-tanda atau pesan terakhir. Ketika Maghrib, almarhum juga salat di Masjid.

"Usai salat Maghrib bapak juga masih ikut tadarus. Di Masjid setiap harinya memang selalu ada tadarus," tuturnya.

Setelah itu dilanjutkan dengan salat Isya' berjamaah. Usai salat Isya', almarhum melanjutkan salat sunnah. Jamaah lainnya saat itu sudah pulang.

Ketika sujud akhir, Asep salah satu pengurus Masjid Babus Salam, melihat almarhum sujud sangat lama. Padahal malam itu, Masjid sudah mau dikunci. Karena khawatir, Asep lalu memberitahu Hj Nurjannah, istri almarhum untuk melihatnya.

Ketika dibangunkan, sama sekali tidak ada jawaban. Saat dipegang dahinya, keluar keringat dingin yang menempel pada karpet.

"Waktu itu bapak sudah mau dibawa ke rumah sakit oleh Pak Hanafi (Ketua RW 02). Namun sama ibu tidak boleh karena memang kondisinya sudah meninggal," ucapnya dengan kedua mata yang sembab.

Jenazah H Miftahul Arifin, dimakamkan di tempat pemakaman umum Desa Kalirejo Lawang, berdekatan dengan makam orangtua dan saudaranya.

Dari kepribadian almarhum yang diingat oleh anak-anaknya adalah keikhlasannya dalam menjalankan ibadah.

"Pesannya dulu kepada saya, diminta jangan meninggalkan salat dhuha. Salat wajib harus diutamakan," paparnya.

Selama ini, menurut penuturan beberapa warga memang almarhum dianggap seperti orang biasa saja. Warga hanya mengetahui kalau almarhum, memang tidak pernah absen untuk salat berjamaah di Masjid Babus Salam.

Namun begitu mengetahui bahwa (alm) H Miftahul Arifin meninggal dunia dengan posisi istimewa, warga sekitar sangat kaget.

"Subhanallah,” ungkap Yunus, salah satu warga yang sering salat berjamaah di Masjid Babus Salam bersama dengan almarhum.

Begitu juga dengan Agus, tetangga depan rumah almarhum. Ia mengatakan kalau H Miftahul Arifin tidak pernah absen untuk salat berjamaah. Sebelum jamaah lain datang, almarhum sudah berada di dalam Masjid.

"Almarhum selalu berada di shof depan sendiri. Ia memang tidak pernah absen untuk salat berjamaah di Masjid, yang sudah seperti rumahnya sendiri," jelas Agus, yang diamini oleh salah satu pengurus Masjid Babus Salam. (***)

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Brutal dan Mencekam, Itulah yang Kami Hadapi


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler