Pakar Prediksi Produksi Beras Naik hingga 1,5 Juta Ton pada 2024, Masih Perlu Impor?

Rabu, 24 Januari 2024 – 09:28 WIB
Ilustrasi impor beras: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas Santosa sekaligus Research Associate Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia menyoroti wacana pemerintah yang akan melakukan impor beras hingga tiga juta ton pada 2024.

Pasalnya, tahun ini ada potensi kenaikan produksi beras nasional sebanyak 0,9 juta hingga 1,5 juta ton pada 2024.

BACA JUGA: Bantah Gibran, Said Abdullah Tegaskan tidak Ada Swasembada Beras di Masa Jokowi

Hal itu diungkapkan Andreas dalam diskusi Outlook Ekonomi Sektor-sektor Strategis 2024 di Jakarta, Selasa (23/1).

Menurut Andreas, jika impor dilaksanakan di tengah kenaikan produksi beras maka, stok beras di pasaran akan banjir.

BACA JUGA: Tolak Impor Beras, Partai Buruh Gelar Aksi di Depan Kementan

Guru Besar IPB itu pun mengkhawatirkan harga beras akan anjlok sehingga merugikan produsen atau petani.

"Kalau stok besar pasti akan menjatuhkan harga yang lebih besar daripada kenaikan stok tersebut. Yang paling dirugikan adalah sedulur tani," ujar Andreas.

Melongok impor 2023, kata Andreas, Pemerintah Indonesia melakukan impor beras sebanyak 3,3 juta ton.

Impor beras dilakukan dengan asumsi bahwa produksi nasional akan turun tajam karena fenomena El Nino.

Namun, produksi beras pada 2023 hanya turun 0,65 juta ton.

Dengan demikian, ada kelebihan stok sebesar 2,65 juta ton beras. Oleh karena itu, ia mengatakan keputusan impor beras perlu ditinjau agar tidak merugikan petani.

Di sisi lain, pada 2024, total produksi biji-bijian di dunia naik 2,33 persen, gandum dunia turun sekitar 0,54 persen, biji kasar termasuk jagung, sorgum, dan rye naik cukup tinggi sebesar 4,7 persen.

Produksi jagung global bahkan meningkat 6,9 persen sehingga harga jagung diperkirakan turun. Selanjutnya, produksi beras dunia naik sedikit dari 513 juta ton pada 2022/2023 menjadi 513,5 juta ton pada 2023/2024.

Produksi kedelai naik dari 250,4 juta ton pada 2022/2023 menjadi 399 juta ton pada 2023/2024 atau sebesar 6,29 persen karena kenaikan produksi di Argentina, Amerika Serikat, Rusia, China, Paraguay dan Bolivia, tetapi menurun di Brasil. Dengan demikian, harga kedelai akan turun karena terjadi kenaikan produksi yang tinggi.

Selanjutnya, produksi minyak nabati juga naik 2,67 persen yakni dari 217,2 juta ton pada 2022/2023 menjadi 223 juta ton pada 2023/2024.(antara/mcr10/jpnn)


Redaktur & Reporter : Elvi Robiatul

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler