Pakar Soroti Surplus Perdagangan RI, Dinilai 'Kurang Sehat'

Jumat, 28 Juli 2023 – 06:26 WIB
Center of Reform on Economics (CORE) menilai surplus perdagangan Indonesia dinilai kurang sehat. Ilustrasi: Bea Cukai

jpnn.com, JAKARTA - Center of Reform on Economics (CORE) menilai surplus perdagangan Indonesia dinilai kurang sehat.

Adapun Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data perdagangan RI pada triwulan II/2023, surplus sebesar USD 7,5 miliar, lebih rendah dibandingkan triwulan II/2022 sebesar USD 15 miliar.

BACA JUGA: Polda NTB Bongkar Perdagangan Orang ke Libya

Penurunan ini disebabkan oleh berkurangnya impor migas USD 2,82 miliar (14,51 persen) dan non migas USD 4,6 miliar (4,79 persen).

“Surplus ini sebetulnya kurang sehat karena surplus bukan didorong karena naiknya ekspor, tapi ekspor itu terus mengalami pelemahan,” ujar Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal dalam acara Mid-Year Review 2023 yang diadakan CORE Indonesia secara virtual diikuti, di Jakarta, Kamis (27/7).

BACA JUGA: BKSDA Kalbar Menggagalkan Perdagangan 63 Ekor Burung Berkicau Dilindungi

Faisal membeberkan penyebab penurunan tingkat ekspor dipengaruhi efek kondisi geopolitik 2022 yang berdampak pada kenaikan tingkat inflasi, lalu direspons dengan kebijakan pengetatan dari sisi moneter dan fiskal.

Oleh karena itu, diprediksi kondisi perekonomian global akan melambat untuk pertama kalinya pasca pandemi COVID-19.

“Kondisi proyeksi untuk tahun ini oleh IMF (International Monetary Fund) diprediksikan 2023 tumbuh global sekitar 3 persen, ini lebih baik dibandingkan prediksi April 2023 sebesar 2,8 persen. (Namun), tetap saja kalau dibandingkan 2022 lebih rendahnya setengah persen, karena di 2022 pertumbuhan ekonomi global sampai 3,5 persen,” kata Faisal.

Di sisi lain, kontraksi ekspor terjadi hampir di semua negara mitra Indonesia, baik di negara maju maupun negara dan kawasan berkembang seperti China, India, dan ASEAN (Association of Southeast Asian Nations).

“Ternyata impor juga turun dan bahkan lebih tajam penurunannya, sehingga ini yang menyebabkan surplusnya itu masih terjadi. Penurunan impor ini sebetulnya (mengindikasikan) ada pelemahan daripada permintaan kita di dalam negeri. Dari sisi perbandingan penurunan impor, antara volume dengan value-nya, value lebih dalam penurunannya, volume sebetulnya tidak terlalu tajam,” kata dia.

Penurunan pertumbuhan impor disebut terjadi hampir terjadi di semua jenis golongan barang, kecuali barang modal. “Untuk barang konsumsi kontraksi, bahan baku, dan bahan penolong, ini kontraksinya justru paling tajam," ucap Faisal.(antara/jpnn)


Redaktur & Reporter : Elvi Robiatul

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag
Perdagangan   BPS   impor   ekspor   Perekonomian  

Terpopuler