Pakar Sosiologi Unair Komentari Penangkapan Penendang Sesajen di Gunung Semeru, Begini Katanya

Rabu, 19 Januari 2022 – 11:37 WIB
Pakar Sosiologi Universitas Airlangga (Unair) Prof Bagong Suyanto mengomentari kasus pembuangan sesajen di Gunung Semeru. Foto: Dok. Pribadi Prof Bagong

jpnn.com, SURABAYA - Pakar Sosiologi Universitas Airlangga (Unair), Prof Bagong Suyanto memberikan pandangannya terkait penangkapan Hadfana Firdaus, penendang sesajen di Gunung Semeru.

Menurutnya, bangsa Indonesia perlu belajar memaafkan dan memahami orang yang tidak mengerti. Oleh sebab itu, dia tidak setuju penendang sesajen tersebut ditangkap dan ditahan pihak kepolisian.

BACA JUGA: Liga 1 2021: Presiden Persiraja Optimistis Timnya Mampu Raih Poin Penuh dari Persela Lamongan

“Tidak perlu memperpanjang masalah sampai ke ranah hukum. Kita bisa menyelesaikannya dengan cara kekeluargaan,” kata Bagong tertulis sebagaimana dilansir jatim.jpnn.com, Selasa (18/1).

Dosen Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unair itu menilai ketika pelaku sudah meminta maaf, permasalahan tersebut seharusnya sudah selesai.

BACA JUGA: Polres Jember Ungkap Pelaku Pembunuhan Perempuan yang Lehernya Tergorok, Ternyata

“Menurut informasi yang saya dapat juga, pelaku (pembuangan sesajen, red) tidak berasal dari Lumajang sehingga tidak mengetahui adat istiadat setempat,” ujarnya.

Meski tak setuju dengan penahanan terhadap Hadfana, Dekan FISIP Unair itu tetap tak membenarkan perbuatan pelaku. Indonesia merupakan bangsa multikulturalisme sehingga setiap orang perlu menghargai perbedaan.

BACA JUGA: Pembuangan Sesajen di Gunung Semeru Memunculkan Gejolak

“HF, kan, orang luar daerah yang datang ke komunitas lokal maka dia harus berempati dan belajar memahami perbedaan,” tegasnya.

Menurutnya, Hadfana tak bisa membenarkan tindakannya dan menganggap hal lain salah karena akan ada kelompok lain yang tersinggung.

“Kejadian itu bisa menjadi pelajaran bersama,” tutur dia.

Prof Bagong mengatakan masyarakat boleh mempercayai dan mengimani suatu keyakinan. Akan tetapi, mereka juga tak perlu menyalahkan atau merendahkan yang lain.

“Cukup dirasakan sendiri tanpa menyinggung keyakinan lain. Jadi, masyarakat harus betul-betul memahami bahwa kita hidup di lingkungan yang beraneka ragam,” ucap dia.

Oleh karena itu, saat menilai kelompok yang berbeda, jangan sampai memakai pemahaman dan ukuran diri sendiri.

BACA JUGA: Seusai Keliling Surabaya, Sejoli Nginap di Hotel, Baru Sebentar Si Cewek Malah Kabur, Ternyata

“Kita harus berempati dan bertoleransi. Kuncinya, memahami serta menerima segala bentuk perbedaan,” ucap Prof Bagong. (mcr12/jpnn)


Redaktur & Reporter : Budi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler