Pakde Karwo Bikin Menpar "Mati Ketawa" di Surabaya

Jumat, 15 April 2016 – 16:37 WIB
Menpar Arief Yahya. Foto: pojoksatu

jpnn.com - SURABAYA - Bukan Pakde Karwo kalau tidak membuat perut keram. Menpar Arief Yahya pun dibuat "mati ketawa" ala Jawa Timuran, dalam dua sesi acara di Kota Pahlawan. Dengan logat Suroboyoan yang khas dan gaya ceplas-ceplos tanpa basa-basi, Gubernur Jatim Soekarwo pun mengkritik Menpar yang berasal dari Banyuwangi, Jawa Timur itu. 

Dengan memasang muka nyinyir, sambil melambaikan tangannya, Pakde Karwo menyebut, jangan berharap target Menpar tercapai! Sekitar 75 orang audience di Ruang Semanggi, Gedung Graha Pena lantai 5 Jawa Pos Surabaya itu pun ikut terbelalak. 

BACA JUGA: Si Doel sampai Door to Door Agar yang Satu Ini Tercapai

Kata-kata itu kontras dan bertolak belakang dengan presentasi Menteri Arief Yahya sebelumnya, yang sangat optimistik. Materi Arief juga diapresiasi peserta diskusi dari pelaku bisnis Tour Operator Tour Agency dan pebisnis pariwisata itu. 

Tapi mengapa Pakde Karwo meragukan? Pertama, kalau hendak menyasar 20 juta wisman di 2019, kata Pakde Karwo, tidak bisa hanya mengandalkan 10 top destinasi prioritas itu. Selain keugggulan nature atau alam dan budaya, ada syarat yang lebih mendesak, lebih penting, lebih nenentukan. Yakni pengalaman, semangat dan antusiasme daerahnya. 

BACA JUGA: SIMAK! Beragam Komentar tentang si Penendang Garuda Pancasila

"Jangan menyuruh orang buta huruf untuk membaca! Sudah pasti gagal! Pasti tidak bisa," kata Pakde Karwo. 

Maksudnya? Dari 10 kantong destinasi baru, tidak semua titik punya spirit yang ngotot untuk mengejar target wisman. Banyak yang belum berpengalaman. "Lebih baik digenjot yang sudah pasti-pasti saja, great Bali Jakarta Batam silakan! Nomor 4-nya Jawa Timur. 

BACA JUGA: Petisi Dukung Penendang Garuda Pancasila, Singgung Habib Rizieq

Kalau mengandalkan destinasi baru untuk menarik, tapi sumber daya manusia dan infrastruktur, itu tidak mungkin. Bagaimana mengajari buta huruf membaca? Mending digerojok program ke Jawa Timur yang sudah jelas-jelas berpengalaman!" kelakarnya yang membuat tawa. 

Rupanya ada maksud di balik kritik itu. Ada udang di balik batu. Jatim sudah pasti, punya semuanya! 

Kedua, lanjut Pakde, jika tetap meneruskan konsep pengembangan destinasi dan industri pariwisata yang diterapkan Menpar dengan 10 top destinasi itu tidak dijamin sukses. Semua orang kembali membelalakkan mata ke arah Gubernur berusia 65 tahun itu. "Secara teoritis, ini sudah tidak masuk! Jangan memulai dari nol, harus berawal dari akhir. Jawa Timur sudahlah, bisa diadu, paling siap diantara yang lain," katanya, lagi-lagi mendapat tepuk tangan audience. 

Kali ini, Menpar Arief Yahya benar-benar tidak bisa menahan ngakak. Karena kalimat "berawal dari akhir" itu adalah magic word yang biasa disampaikan Arief Yahya di berbagai forum saat menginspirasi start up company. Beginilah gaya Jawa Timuran kalau sudah kumpul, saling bersilat lidah, saling menggoda, tetapi tidak membuat tersinggung satu dengan yang lain. 

Masih ada satu lagi, ungkapan Pakde Karwo yang membuat Arief Yahya betul-betul beranjak dari tempat duduknya, tak kuat menahan tawa. "Kalau orang Bali, paling terhina kalau setelah meninggal tidak boleh dimakamkan di kampung halamannya! Ditolak adat, tidak diizinkan Banjar. Jangan sampai itu terjadi pada Orang Banyuwangi. Gara-gara tidak memikirkan kemajuan bumi asalnya," sindir Pakde Karwo yang langsung gerrr. 

Dalam diskusi "Ruang Ide" Jawa Pos itu, pembicara lainnya adalah Abdullah Azwar Anas, Bupati Banyuwangi dan Djarwo Sujanto, Dirut Pelindo III Surabaya. Azwar Anas yang selama ini disupport Arief Yahya pun, ikut-ikutan menyerang. Kompak dengan Gubernurnya. 

"Banyuwangi sudah membuktikan, dengan positioning sport tourism, sudah melambungkan nama Banyuwangi, dan meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan rakyat. Tinggal menunggu, alokasi sumber daya dari Kemenpar yang lebih banyak lagi ke depan, daripada mengembangkan kawasan baru dari nol. Belum tentu tune in, edukasinya lama," sindirnya yang memperkuat Pakde Karwo. 

Selepas acara, Azwar Anas pun bercerita, "Mumpung bisa bicara dengan komunitas orang Jawa Timur sendiri!" bisiknya. Pakde Karwo pun menambahkan, saat ini jumlah wisman ke Jatim sekitar 500 ribu, tidak sulit bagi Jatim menjadi 1 juta. 
Kata-kata serupa juga diungkapkan Pakde Karwo di pembukaan Majapahit Travel Fair 2016 di Grand City Mall, Surabaya. 

Event pertemuan buyers dan sellers yang dilangsungkan pada 14-17 April 2016 itu Soekarwo juga berkelakar yang sama. "Nilai Rp 10 triliun untuk daerah-daerah lain, itu memang besar. Tapi untuk Jawa Timur, itu kurang besar!" ungkapnya yang disambut tepuk tangan riuh. 

Di travel mart yg bertema "marine tourism" itu, Menpar Arief Yahya menjawab tantangan Pakde Karwo dan Bupati Azwar Anas. Dalam forum Travex yang mempertemukan buyers dan sellers itu, tercatat 120 buyers dari 16 negara dan 20 perusahaan dari dalam negeri. Sellersnya 80 pihak, 48 dari Jatim dan 32 dari non Jatim, seperti Bali, Lombok, dan lainnya. "Transaksinya sampai malam ini (14 April 2016), sejumlah 50 Miliar. Saya mau tahun depan double menjadi Rp 100 Miliar,” kata Arief Yahya. 

Bagaimana caranya? "Mengundang lebih banyak buyers dan sellers. Lalu sales mission seperti ini dipromosikan besar-besaran baik di dalam maupun di luar negeri. Majapahit Travel Mart ini sudah benar, ada table top, meet buyers-sellers, famtrip, ada pameran, ada direct sales, ada share ilmu dan up date hasil riset perkembangan pasar tourism dan lainnya,"  puji Arief. 

Menpar juga menerima tantangan Pakde Karwo untuk mewujudkan lebih cepat target 1 juta wisman ke Jatim. Yang direncanakan baru tercapai 2019, dikebut 2017 tahun depan. Apa yang diminta Pakde Karwo untuk membenahi 3A dalam destinasi, akan diperjuangkan. Tiga A itu adalah Akses, Amenitas dan Atraksi. "Kuncinya sama, dipromosikan di dalam dan luar negeri melalui berbagai saluran media," ungkapnya. 

Dia menangkap ada keseriusan dan semangat yang kuat di rakor dengan beberapa kabupaten kota di Kantor Gubernuran. "10 top destinasi pariwisata yang dipilih semua bersemangat! Tetapi yang paling antusias, paling greget, paling siap berkompetisi memang Jawa Timur! Karena itu, kami tantang, bisa secepat apa sih Jatim kalau sudah diberi kesempatan?" tantang Arief Yahya sambil memandang Pakde Karwo. 

Selepas acara, Pakde Karwo pun puas, sudah sukses "memprovokasi " menpar untuk percepatan pembangunan pariwisata Jatim.(dkk/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Ternyata, Penendang Garuda Pancasila Itu Mantan Sekjen BEM


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler