Pandemi Corona Memperingatkan Manusia untuk Serius Menghadapi Perubahan Iklim

Senin, 13 April 2020 – 16:44 WIB
Ketua Jaringan Ahli Peribahan Iklim dan Kehutanan Indonesia atau APIK Indonesia Network Mahawan Karuniasa. Foto: Humas KLHK

jpnn.com, JAKARTA - Dalam kehidupan manusia semuanya isi semesta saling berkaitan satu dengan yang lain. Seperti virus corona dan penyakit lainnya yang berasal dari binatang atau disebut penyakit zoonotic, dipicu oleh antara lain perubahan iklim, yang dalam kenyatannya masih kurang mendapat perhatian banyak pihak.

Menurut Direktur Environment Institute Mahawan Karuniasa, pandemi corona ini memperingatkan manusia untuk serius urus perubahan iklim dunia.

BACA JUGA: Gakkum KLHK: Kasus Illegal Logging di Ketapang Segera Disidangkan

Ketua Jaringan Ahli Peribahan Iklim dan Kehutanan Indonesia atau APIK Indonesia Network tersebut menyampaikan hal itu saat membuka Indonesia Environment Talks 2020 yang diselenggarakan secara online oleh APIK Indonesia Network bekerjasama dengan Environment Institute pada Senin (13/4).

Topik dalam Indonesia Environment Talks 2020 yaitu Updated Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia, atau Rencana Pengendalian Perubahan Iklim Indonesia - Perubahan.

BACA JUGA: Perjuangan Menyelamatkan Corina di Tengah Pandemi Covid-19

"Seperti diketahui bahwa berdasarkan Kesepakatan Paris, Indonesia telah menyampaikan komitmen aksi iklim global melalui dokumen pertama Rencana Pengendalian Perubahan Iklim Indonesia. Dokumen tersebut dinamakan First NDC Indonesia, yang berisi rencana mitigasi dan adaptasi dengan tahun 2030. Target mitigasi atau reduksi emisi gas rumah kaca yaitu 29% dengan kemampuan sendiri dan sampai dengan 41% dengan kemitraan international," ujar Mahawan.

Target global pengendalian perubahan iklim adalah menjaga agar rata-rata suhu permukaan bumi tidak meningkat lebih dari 20 Celcius.

BACA JUGA: 5 Berita Terpopuler: Ganjar Pranowo Sakit Hati, Jika Jutaan Orang Kena PHK Bagaimana? Tiga Kelemahan Covid-19

Namun, ternyata Kesepakatan Paris belum menjamin tercapainya target tersebut. Kemudian pada 2018, Intergovernmental Panel on Climate Change (IPPC), yang melibatkan ribuan para ahli dari seluruh dunia, menyatakan bahwa tidak lagi kurang dari 20 Celcius, tetapi 1,50 Celcius.

"Dasar inilah yang mendorong perlunya ambisi lebih untuk menghadapi perubahan iklim. Setiap negara dituntut untuk lebih berambisi dalam upaya reduksi emisinya," imbuhnya.

Sementara itu, Nur Masripatin, Penasehat Senior Menteri KLHK yang hadir sebagai pembicara juga menyampaikan bahwa Updated NDC Indonesia tidak meningkatkan target reduksi emisinya, dan lebih banyak mendorong peningkatan bidang adaptasi.

Muatan inilah yang menjadi objek kritik para pihak, karena dianggap tidak meningkatkan ambisi. Selain itu kritik juga ditujukan pada proses yang dianggap kurang inklusif. Mahawan menyatakan bahwa kegiatan Environment Institute bersama APIK Indonesia Network dimaksudkan untuk meningkatkan inklusivitas proses dan diseminasi muatan dari draft dokumen Updated NDC kepada para pemangku kepentingan. (jpnn)


Redaktur & Reporter : Natalia

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler