Pandemi Covid-19 Tak Surutkan Semangat Karang Taruna Tangsel Berdayakan Ekonomi Rakyat

Sabtu, 22 Mei 2021 – 12:37 WIB
Pandemi Covid-19 tidak menyurutkan semangat para pemuda di Kota Tangerang Selatan bergiat dengan pengelolaan usaha produktif. Foto: Kemensos

jpnn.com, JAKARTA - Pandemi Covid-19 tidak menyurutkan semangat para pemuda di Kota Tangerang Selatan bergiat dengan pengelolaan usaha produktif.

Melalui Karang Taruna, para pemuda mengembangkan berbagai usaha, dari perikanan, udang galah, kerajinan, dan kegiatan sosial.

BACA JUGA: Kemensos Terima Donasi Rp 100 Juta dari Victoria Community Church untuk Penanganan Bencana NTT

Karang Taruna Kelurahan Setu, misalnya, sedang giat mengembangkan berbagai usaha produktif, dari perikanan, dan udang galah.

Menurut Pembina Karang Taruna Setu Syahrul, usaha ekonomi dinilai mampu membantu meringangkan sebagian beban hidup masyarakat sekitar.

BACA JUGA: Peringati HLUN, Kemensos Tekankan Peran Penting Keluarga

Usaha ekonomi kecil ini mampu menciptakan lahan pekerjaan bagi pemuda setempat dan memanfaatkan lahan yang terbengkalai sebagai lahan usaha juga.

“Keramba yang ada sudah puluhan dengan memanfaatkan lahan sawah yang sudah tidak terpakai, juga danau di belakang kelurahan. Usaha ini melibatkan anak-anak muda yang tidak punya pekerjaan,” katanya.

BACA JUGA: Tahun Ini Kemensos Tergetkan Berdayakan 2.500 KK Warga KAT

Selain memberdayakan pemuda yang masih menganggur, usaha keramba ini juga bisa mempekerjakan tukang-tukang pembuat keramba.

“Sesuai dengan moto Karang Taruna Setu, Bang Diki (Bangkit Mandiri di Kaki Sendiri), serta Bang Wira (Pengembangan Wirausaha), Karang Taruna Setu berupaya agar masyarakat bisa survive di masa pandemi,” kata Ketua Karang Taruna Setu 2021-2025 Ade Aulia.

Di masa pandemi ini, usaha Karang Taruna tersebut tidak banyak menghadapi kendala.

“Di masa pandemi ini hasil penjualan tidak berpengaruh, tinggal bagaimana komunikasi kita ke pelanggan. Bahwa tetap aman meski datang langsung ke keramba,” ucap Ade, menambahkan.

Ada alasan tersendiri mengapa pemuda setempat memberdayakan udang galah. “Udang galah dipilih sebagai usaha kreatif karena sedang gaung (banyak permintaan---red.) di pasaran, dan punya nilai ekonomi yang tinggi,” kata Sekretaris Karang Taruna Setu Didi Sukandi, menambahkan. Sejauh ini animo masyarakat sekitar cukup baik.

Karang Taruna menawarkan pelatihan untuk masyarakat, mengangkat semangat dan meyakinkan mereka bahwa hasilnya lumayan.

“Saat ini masyarakat sekitar Setu sudah banyak yang mandiri, yang awalnya hanya membeli bibit udang untuk dikembangbiakkan, saat ini sudah bisa membibitkan sendiri,” kata Didi.

Selain itu masyarakat Setu punya kegiatan kenclengan untuk membuat keramba makin berkembang, sehingga hasilnya selain untuk konsumsi bisa juga dijual.

Usaha karamba juga dikembangkan Karang Taruna Kademangan, meski masih berskala lebih kecil.

Ketua Karang Taruna Kelurahan Kademangan Andri mengatakan, usaha keramba yang diinisiasi kepengurusannya saat itu baru berjumlah lima kolam dan baru panen sekali.

“Semoga ke depan bisa terus dikembangkan, termasuk cita-cita membangun taman bacaan masyarakat (TBM),” ucap dia.

Semangat serupa juga berkembang pada Karang Taruna Kelurahan Muncul.

Di sini, ujar Andri, pemuda bergiat pada usaha kreatif yaitu kerajinan dari kulit telur yang bisa dibuat hiasan dinding, kaligrafi dan hiasan pelapis botol minuman.

“Karang taruna sudah berperan aktif membantu pemerintah, terutama pemuda di sekitar muncul,” kata Lurah Muncul, H.Ahmad.

Karang Taruna lain yang memiliki usaha yang produktif yaitu Karang Taruna Kelurahan Bakti Jaya, dengan usaha pengelolaan daging dan telur puyuh, yang dirintis sejak 2015.

"Usaha puyuh ini dimulai dari pola penetasan dan mengembangbiakan, yang awalnya hanya belajar lewat Youtube, lalu mencari peternak lain yang pengalaman," ujar Fajar anggota Karang Taruna Bakti Jaya.

Awalnya mengelola peternakan hanya berdua saja, tapi sekarang sudah berlima. “Sedikit banyak membantu membuka peluang kerja teman-teman di sini,” ujar Fajar.

Pemasaran puyuh dilakukan lewat langganan pedagang angkringan dan agen telor di warung atau pasar, dan masyarakat sekitar.

"Kesulitannya saat ini, kandang masih tradisional jadi mudah diserang hama, dan mati mendadak,” kata Fajar.

Dia menyebut untuk omset penjualan telur masih kecil, namun terbantu dari penjualan dagingnya.

“Harapan saya, usaha ini bisa mendorong pemuda untuk mandiri, bagaimana pemuda bisa membuka peluang kerja, mengembangkan usaha agar makin maju,” ungkapnya. (jpnn)


Redaktur & Reporter : Elvi Robia

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler