Panglima Akui Indonesia Masih jadi Surga Bagi Terorisme

Selasa, 06 Desember 2016 – 17:30 WIB
Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo. Foto: dok.JPNN

jpnn.com - JAKARTA - Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo mengatakan, gerakan-gerakan terorisme di dunia pada umumnya hanya digunakan sebagai alat legalitas.

Contohnya kelompok ISIS, dipastikan berlatar belakang penguasaan sumber-sumber energi.

BACA JUGA: Honorer K2 yang Bakal jadi CPNS Berkurang Banyak

"Hanya saja proses perekrutan anggotanya dari orang-orang yang pernah merasa terhina dengan agamanya, pernah frustasi dan sebagainya, tapi di belakangnya energi," kata Panglima pada seminar nasional yang digelar Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Selasa (6/12).

Karena itu, gerakan terorisme, kata Panglima, harus segera diantisipasi sedini mungkin.

BACA JUGA: Jenderal Tito: Yang Bisa Kalahkan Mereka Pancasila

Apalagi kemungkinan Indonesia bakal menjadi basis baru gerakan terorisme internasional, ketika Syiria dinilai sudah tidak aman bagi perkembangan kelompok radikal.

"Dikatakan, basis teroris apabila Syiria sudah tidak aman, maka di Filipina Selatan. Tapi teroris tidak akan  berkembang sampai ke Filipina semuanya, karena mayoritas (Filipina) beragama Katolik. Jadi itu tempat transit untuk ke Indonesia lewat Poso, lewat Tarakan," kata Gatot.

BACA JUGA: Perlu Sanksi Agar Mobilisasi PNS Saat Aksi 412 Tidak Terulang

Menurut Gatot, ada beberapa kemungkinan Indonesia bakal dipilih menjadi basis gerakan terorisme internasional.

Antara lain, undang-undang yang ada saat ini masih dinilai surga bagi terorisme.

"Jadi (di Indonesia,red) berbuat dulu, baru dilakukan penyidikan. Orang yang melakukan latihan teroris, enggak bisa diapa-apakan. Jadi kalau undang-undang nanti tetap pidana teroris, maka bersiap-siaplah, kita (Indonesia,red) seperti syria, Irak atau Libya," tegas Gatot.

Alasan lain, Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumberdaya alam.

Terutama energi pangan, air dan sumber-sumber energi lain.

Kekayaan tersebut menarik minat pihak tak bertanggung jawab untuk berusaha menguasainya dengan jalan tidak benar.

"Dipastikan konflik itu yang tadinya di Arab spring berlatar belakang energi, berubah di equator, yang dicari energi pangan, air dan ekonomi. Itu adanya di equator. Nah Indonesia paling kaya. Jadi undang-undang (terorisme,red) harus dibuat sebagai kejahatan terhadap negara," tutur Gatot.(gir/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Lokasi Sidang Ahok Jangan Terlalu Didramatisasi


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler