Paparan Gadget Hambat Petumbuhan Anak, Orang Tua Harus Waspada

Selasa, 06 Desember 2022 – 21:06 WIB
Ilustrasi anak main gadget. Foto: Hellosehat

jpnn.com, JAKARTA - Sebuah penelitian terbaru menemukan 30 persen anak di bawah usia enam bulan sudah mengalami paparan gadget secara rutin rata-rata 60 menit per hari.

Juru Bicara Siber dan Sandi Negara (BSSN) Ariandi Putra mengatakan paparan gadget berpotensi merusak otak anak jika dibiarkan terlalu lama.

BACA JUGA: Ini Aplikasi untuk Mengatur Anak dalam Penggunaan Gadget

Istilah terhadap perilaku kecanduan gadget adalah screen dependency disorder (gangguan ketergantungan terhadap layer gadget) atau SDD.

Menurut dia, di usia dua tahun, sembilan dari sepuluh anak mendapat paparan gadget yang lebih tinggi dan berpotensi membuat mereka mengalami SDD.

BACA JUGA: 3 Kesalahan Penggunaan Gadget yang Sering Anda Lakukan

"Potensi gadget merusak otak anak bisa lebih tinggi jika si kecil terkena paparan gadget sejak dini,” kata Ariandi Putra, dalam keterangannnya, Selasa (6/12).

Berdasarkan penelitian yang dilakukan, terdapat data yang menggambarkan besarnya dampak anak yang terlalu sering menggunakan gadget.

BACA JUGA: Jangan Terlalu Banyak Berikan Fasilitas Gadget Buat Anak Selama Pandemi

"Kerusakan yang diakibatkan di antaranya merusak otak hingga akibat pada tumbuh kembang otak pada anak,” tuturnya.

Selain itu, anak juga akan mengalami kurang tidur sehingga kemampuan untuk fokus sangat rendah.

Anak pun cenderung tidur di siang hari dan terjaga di malam hari. Penggunaan gadget selama 15 menit dapat mengurangi waktu tidur anak sekitar 60 menit.

"Hal yang menyenangkan belum tentu baik untuk anak kita ke depannya. Selalu ingat bahaya dan betapa ruginya anak kita jika ketergantungan,” katanya.

Dampak lain yang mengkhawatirkan adalah terjadinya speech delay (terlambat berbicara) pada anak; mengalami masalah dalam tumbuh kembang fisik anak seperti berat badan turun atau justru naik dengan drastis.

Kemudian, sakit kepala, kurang gizi, insomnia, hingga masalah penglihatan; dan masalah tumbuh kembang anak seperti kecemasan, perasaan kesepian, rasa bersalah, isolasi diri, dan perubahan mood yang drastis.

“Jangan biarkan ini terus dilanjutkan karena akan merugikan orang tua, anak, bahkan orang-orang di sekitar,” ujar Ariandi. (jol/jpnn)


Redaktur & Reporter : Djainab Natalia Saroh

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler