Partai Demokrat Bikin AS Lebih Berwarna

Kamis, 08 November 2018 – 23:02 WIB
Calon Gubernur Georgia dari Partai Demokrat, Stacey Abrams. Foto: AFP

jpnn.com, GEORGIA - Perebutan kursi gubernur di Negara Bagian Georgia menjadi sorotan utama pemilu sela Amerika Serikat (AS) Selasa (6/11). Stacey Abrams, kandidat Partai Demokrat, bersaing ketat dengan Brian Kemp dari Partai Republik.

Mereka membidik kursi yang ditinggalkan Nathan Deal. Hasil penghitungan suara memberikan kemenangan kepada Kemp. Tapi, Abrams yang kalah kurang dari 2 persen berharap ada pertarungan ulang.

BACA JUGA: Pemilu Sela Awal Kejatuhan Donald Trump?

Sejak awal kampanye pemilu sela, Georgia sudah menarik perhatian publik. Abrams digadang-gadang menjadi perempuan kulit hitam pertama yang menjadi gubernur.

Demokrat bahkan sampai menghadirkan mantan Presiden Barack Obama dalam kampanye untuk Abrams. Oprah Winfrey, selebriti Hollywood yang selama ini selalu mendukung Obama dan Demokrat, juga ikut menggalang dukungan untuk Abrams.

BACA JUGA: Dua Perempuan Muslim Catat Kemenangan di Pemilu Sela AS

Namun, hasil pemilu sela mengecewakan Demokrat. Kemp unggul dengan 1,9 juta suara atau 50,4 persen. Abram menyusul dengan perolehan 1,86 juta suara atau 48,6 persen. Hanya beda sekitar 100 ribu kertas coblosan. Selanjutnya, kandidat ketiga Ted Metz mengantongi sekitar 36 ribu suara saja. Metz memang tidak diunggulkan.

Kekalahan tipis selalu menyakitkan. Namun, perempuan 44 tahun itu tidak mau menyerah. Dia menyatakan bahwa penghitungan belum selesai. Belum final. "Kami akan berjuang sampai semua suara terhitung," ungkapnya menurut NBC tadi malam, Rabu (7/11). Abrams berfokus pada kertas-kertas suara yang belum terhitung. Jumlahnya ribuan.

BACA JUGA: Caleg Partai Pak SBY Pajang Baliho Bergambar Presiden Jokowi

Masalah teknis sedikit mengganggu pelaksanaan pemilu sela di Georgia Selasa. Menurut NBC, ada ribuan kertas suara yang tidak terhitung karena gangguan teknis tersebut.

Ada juga balot dari warga yang tidak dicoblos. Jumlahnya tidak jelas. Ada juga kertas suara sementara yang harus dimasukkan secara manual dan masih dalam proses penghitungan.

Gangguan teknis itu juga sempat menghambat voting Kemp. Dia kesulitan saat mencoba memasukkan surat suara. Dia pun terpaksa mengambil kertas suara baru. Kesulitan tersebut terjadi berkali-kali lipat di wilayah lain. Jurnalis Ontaria Wood juga mengalaminya.

"Saya pergi ke lokasi pemungutan suara pukul 06.30, tapi baru bisa memberikan suara pukul 11.45. Saya lihat puluhan orang yang menyerah karena menunggu lama," ujarnya kepada Washington Post.

Dia dan warga lainnya terhalang untuk memberikan suara karena masalah teknis yang terlalu lama. Kejadian itu juga terjadi di wilayah lainnya. Hakim Negara Bagian Georgia pun meminta agar durasi buka tempat pemungutan suara (TPS) diperpanjang. Satu lokasi harus beroperasi 12 jam penuh.

Sementara itu, sesuai aturan yang berlaku, Abrams memang berhak menuntut pemungutan suara ulang. Hal tersebut bisa terjadi jika perolehan suara Kemp tidak sampai 50 persen setelah seluruh kertas suara dihitung.

Meski fokus kompetisi masih diselimuti kegelapan, Demokrat puas dengan hasil kali ini. Sebab, setidaknya kandidat mereka yang memiliki latar belakang beragam mendapatkan kursi.

Misalnya, Jared Polisyang menjadi gubernur homoseksual pertama di AS. Dia menggantikan John Hickenlooper di Colorado. Selanjutnya, Kate Brown yang secara terbuka mengaku bahwa dia biseksual juga berhasil merebut kursi gubernur Oregon. (bil/c22/hep)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Demokrat Diprediksi Berjaya di Pemilu Sela


Redaktur & Reporter : Adil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler