Pasar Mulai Bangun Optimisme

Jumat, 10 Oktober 2014 – 06:40 WIB

jpnn.com - JAKARTA - Pasar modal Indonesia sudah mulai harus lebih percaya diri akan keunggulan dan potensi besar yang ada di dalam negeri.

Ribut terkait perpolitikan dan ditambah kondisi global harus dilihat secara realistis kemudian menciptakan optimisme sendiri agar iklim investasi tetap kondusif.

BACA JUGA: Politik Panas, Nilai Rupiah Turun

Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI) Hoesen mengatakan sudah saatnya investor di Indonesia membangun mindset sendiri agar tidak mudah terpengaruh situasi di luar industri.

"Harus membangun optimisme. Harus mulai dari sekarang. Mudah-mudahan pak Jokowi juga akan begitu dan kelihatannya memang begitu, optimismenya tinggi,"  ungkapnya ditemui di sela Sosialisasi Go Public untuk Entrepreneurs Organization (EO) Indonesia di gedung BEI, kemarin.

BACA JUGA: Pipa Gas Semarang-Cirebon Masih Belum Jelas

Hal tersebut diungkapkan seiring dengan maraknya kekhawatiran para pelaku pasar terkait dengan situasi politik belakangan ini. Pemerintahan Jokowi   Jusuf Kalla disebut-sebut akan mengalami kesulitan karena lemahnya dukungan dari legislatif.

Sebab legislatif terutama Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) dipimpin oleh koalisi yang berseberangan dengan pemerintahan.

BACA JUGA: BPJT Nyatakan Seluruh Jalan Tol Telah Lulus SPM

Optimisme yang sama juga berlaku dalam menyikapi sentiment dari global. "Jangan sedikit-sedikit misalnya ada berita ekonomi AS (Amerika Serikat) lagi jelek, pasar kita juga ikutan jelek. Terus saat ekonomi AS membaik, kita juga kena imbas jelek karena khawatir dana pindah ke sana. Kalau begitu terus maunya bagaimana?"  sesal Hoesen.

Maka, menurutnya, sebaiknya pasar Indonesia sudah mulai harus fokus kepada apa yang diinginkan dan harus dilakukan.  "Kita tidak perlu lagi terlalu banyak berdiskusi tapi tidak mengerjakan apa-apa. Termasuk juga terhadap ekspektasi kepada pemerintahan baru kita,"  tegasnya.

Hoesen menilai terlalu banyak diskusi tanpa kerja nyata tidak akan banyak menghasilkan. Toh, kata dia, dari kajian terhadap situasi terutama sejak dua tahun belakangan ini, penyebabnya sudah diketahui.  

"Kita juga sudah tahu kan butuhnya apa. Ya ayo, hasil diskusinya sejak lama itu kita buatkan kongsi action. Kita harus optimistis menghadapi tahun depan karena ada harapan baru. Dari setiap pemimpin baru itu selalu ada harapan baru,"  yakinnya.

Di luar itu, faktanya dampak dari kegaduhan politik Indonesia dan sentiment pasar global terutama dari AS belakangan ini memang membuat bursa saham Indonesia dan nilai tukar rupiah terkulai.

IHSG sampai meninggalkan level psikologis 5.000 dan kemarin berhasil mulai menguat lagi ke level 4.993,879. Aliran dana asing lebih besar keluar (capital outflow) belakangan ini dibandingkan aliran masuknya. Akibatnya pembelian bersih investor asing yang sempat menembus Rp 57 triliun kini berkurang menjadi Rp 45,2 triliun sampai dengan kemarin.

Nilai tukar Rupiah juga perlahan melemah dari kisaran 11.700an per dolar AS (USD) ke level psikologis 12.000an per USD. Pada penutupan kemarin nilai tukar Rupiah ada di posisi 12.190 per USD atau menguat dibandingkan 12.241 per USD pada penutupan hari sebelumnya (kurs tengah Bank Indonesia).

Tim Riset PT Mandiri Sekuritas menyatakan perhatian pelaku pasar terhadap kondisi perpolitikan dari dalam negeri saat ini memang tinggi. Saat ini perhatian masyarakat terfokus pada kabinet pemerintahan yang akan dibentuk Jokowi  -JK.  "Publik berharap kabinet yang baru bisa lebih pro rakyat dan bebas dari kepentingan politik,"  harapnya, kemarin.

Meskipun tidak dimungkiri bahwa pada saat yang sama muncul kekhawatiran akan adanya penjegalan program pemerintah yang berujung pada pemakzulan presiden dan wakil presiden terpilih. Hal ini menyusul dikuasainya kursi pimpinan legislatif oleh pihak koalisi merah putih (KMP) selaku oposisi. (owi/wir/mia/gen)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Tarif Tol Jakarta-Cikampek Dinaikkan, GTO Diperbanyak


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler