Pasien Sembuh Total dari TBC Bisa Kena Lagi, Ini Penjelasan Pakar Pulmonologi

Jumat, 31 Maret 2023 – 21:18 WIB
Pengurus PDPI (Perhimpunan Dokter Paru Indonesia), Dr. dr. Fathiyah Isbaniah, Sp.P(K) mengungkapkan tingginya kasus TBC di Indonesia. Foto tangkapan layar zoom

jpnn.com, JAKARTA - Indonesia menduduki posisi kedua dengan jumlah kasus TBC atau Tuberkulosis terbanyak. Pemahaman dan kesadaran terhadap penyakit infeksi ini pun penting. 

Pengurus PDPI (Perhimpunan Dokter Paru Indonesia), Dr. dr. Fathiyah Isbaniah, Sp.P(K) mengungkapkan berdasarkan data Global TB Report 2022, dilaporkan 969 ribu kasus TBC di Indonesia. 

BACA JUGA: Kemenkominfo: Cegah TBC Dengan Hidup Bersih dan Sehat

"Hal ini membuat Indonesia menduduki peringkat kedua capaian penemuan kasus. Hingga Februari 2023 adalah 74 persen, tepatnya masih di bawah target penemuan kasus yaitu 90 persen,” ujar dokter Fathiyah dalam media webinar world day, Kamis (30/3).

TBC adalah salah satu penyakit infeksi menular yang penyebarannya melalui percikan air liur saat berbicara, batuk atau bersin. Penularan penyakit ini sering kali pada kondisi imun yang rendah. 

BACA JUGA: Peringati Bulan K3 Nasional, Menaker Ida Menekankan Penanggulangan TBC di Tempat Kerja

dokter Fathiyah menyampaikan siapa saja dapat tertular TBC, tetapi belum tentu menjadi sakit. Orang dengan imunitas atau daya tahan tubuh rendah yang paling berisiko, yaitu anak, orang dengan HIV / AIDS, orang usia lanjut, penyandang Diabetes Mellitus, perokok, peminum alkohol, dan orang kontak erat atau kontak serumah dengan pasien TBC.

Gejala TBC, di antaranya batuk terus-menerus (berdahak maupun tidak berdahak), demam meriang berkepanjangan, sesak nafas dan nyeri dada, berat badan menurun.

BACA JUGA: Akibat Covid-19, Penanggulangan TBC di Indonesia Terhambat

"Kadang-kadang dahak bercampur darah, nafsu makan berkurang, serta berkeringat di malam hari meski tanpa melakukan kegiatan,” ungkap Dr. Fathiyah.

Dia menjelaskan jangan panik apabila terdiagnosis TBC, karena penyakit ini bisa disembuhkan setelah menjalani pengobatan dengan cara tepat selama minimal enam bulan. Pengobatan TBC pun tidak boleh dilakukan sembarangan, tergantung dari tipe penyakit TBC yang dialami. 

Oleh karena itu pengobatan TBC harus diawasi oleh dokter dan dilakukan di fasilitas kesehatan seperti rumah sakit atau puskesmas. 

Kabar baiknya, pengobatan pasien TBC di Indonesia ditanggung BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial).

“Walaupun sudah sembuh total, penyakit TBC masih memiliki kemungkinan untuk kambuh," ucapnya.

Dokter Fathiyah menjelaskan kasus kambuh ini sering terjadi pada penderita dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.

Menjaga daya tahan tubuh setelah dinyatakan sembuh itu sangat penting. Pastikan untuk mengonsumsi makanan seimbang yang mengandung semua nutrisi, seperti karbohidrat, lemak, protein, vitamin, dan mineral.

Pencegahan TBC, ujarnya dilakukan dengan sirkulasi udara yang baik, cahaya matahari alami, serta menjaga kebersihan dan kekebalan tubuh. 

Kalbe Farma juga turut mendukung gerakan pencegahan atau pemutusan mata rantai TBC dengan produk-produk multivitamin yang dibutuhkan untuk meningkatkan imunitas pasien dan keluarga pasien TBC.

Brand Manager Prove D3 & Zegavit PT Kalbe Farma Tbk, Kenny Kowira mengungkapkan produk Kalbe yang dapat mendukung kualitas hidup pasien TB di Indonesia adalah multivitamin Zegavit dan Vitamin D3 Prove D3. Keduanya dapat dikonsumsi setelah makan dan bersamaan, untuk dosisnya Zegavit cukup sekali sehari. 

"Prove D3 dapat dikonsumsi sesuai kebutuhan, dengan sediaan Drops 400 IU dan 1000 IU per tablet,” ujar Kenny Kowira.

Produk Zegavit serta Prove D3 Drops 400 IU dan 1000 IU bisa didapatkan di rumah sakit, apotek, atau e-commerce melalui toko Sahabat Kesehatan atau Kalbe Farma Official.

Untuk pasien TBC yang membutuhkan Vitamin D3 hingga 5000 IU per hari atau lebih, dapat mengonsumsi Prove D3 5000 IU sesuai anjuran dari dokter. Pembelian produk ini membutuhkan resep dokter.

Sementara itu, salah satu survivor TBC, Diky Kurniawan mengungkapkan pengalamannya. Dia menjalani pengobatan sekitar 24 bulan dan bertekad untuk sembuh. 

Selama pengobatan, ia menerapkan pola makan sehat dengan nutrisi yang tepat. Selain upaya diri sendiri, dukungan moral dari orang di sekitarnya juga sangat dibutuhkan. Yakinkan bahwa TBC bisa disembuhkan.

Waktu menjalani pengobatan dampingi, didengarkan keluh kesah pasien, dan hadir sebagai teman, keluarga, dan tempat berbagi. Dukungan keluarga dan komunitas penyintas sangat berpengaruh.

"Kehadiran mereka adalah hal terbesar yang menunjang dan memperkuat proses pengobatan dan kesembuhan,” tutup Pengurus Perhimpunan Organiasasi Pasien TB Indonesia itu. (esy/jpnn)


Redaktur : M. Adil Syarif
Reporter : Mesyia Muhammad

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler