PB PGRI Nilai Pengisian Kursi Mendikbud tak Sesuai Tradisi Politik

Jumat, 25 Oktober 2019 – 10:02 WIB
Mendikbud Nadiem Makarim. Foto: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Keputusan Presiden Jokowi menunjuk Nadiem Makarim sebagai mendikbud menunculkan pro dan kontra.

Menurut Ketua Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI) Didi Supriyadi, milenial dan pintar ini sangat bagus untuk Indonesia agar mampi melompat jauh ke depan.

BACA JUGA: Pernyataan Ketua Watim MUI Din Syamsuddin soal Kursi Menag dan Mendikbud

Konsep akan memperkuat bahasa international dalam hal ini Inggris sebagai pengantar, penguasaan coding theory sebagai basis digital, statistics, diperkuat sebagai keahlian untuk meramalkan masa depan melalui data. Itu yang dinginkan oleh seorang Nadiem sebagai ahli aplikasi.

"Hanya perlu diingat bahwa kepintaran usia muda dan pengalaman sebagai milenial seorang menteri untuk sukses belumlah cukup," kata Didi kepada JPNN.com, Jumat (25/10).

BACA JUGA: Arsul Sani Sebut Nama Kader PPP Layak jadi Wakil Menag

"Kenapa? Sukses Nadiem di Gojek hanya perusahan besar yang orientasinya profit semata. Beda dengan Kemendikbud. Apa lagi ada pendidikan tinggi," sambungnya.

Dia melanjutkan, menteri merupakan jabatan politik, maka keberhasilannya bukan ditentukan oleh kepintarannya.

BACA JUGA: Nadiem Makarim Harus Perbaiki Nasib Guru Honorer, juga Sertifikasi

"Ingat saat ini ada sebagian masyarakat yang belum mengerti, di mana tradisi mendikbud biasanya diisi oleh orang orang yang kebetulan dari ormas keagamaan. Sama halnya kemenag yang selama ini tradisinya oleh ormas keagamaan terbesar di tanah air," tuturnya.

Didi menambahkan, walau pengangkatan menteri adalah hak prerogatif presiden, akan tetapi secara politik, penunjukan Nadiem Makarim sebagai mendikbud, kurang tepat. "Semoga semuanya baik baik saja, dan sukses selalu," tutupnya. (esy/jpnn)


Redaktur & Reporter : Soetomo

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler