PDIP: Standar Kemiskinan Versi BPS Sudah Tak Pantas

Sabtu, 22 Oktober 2016 – 14:59 WIB
Maruarar Sirait. Foto: Ricardo/jpnn

jpnn.com - JAKARTA - Politikus PDI Perjuangan Maruarar Sirait menilai, standar penghasilan untuk menilai sebuah keluarga masuk kategori miskin, perlu perbaikan. 

Karena standar yang dipakai Badan Pusat Statistik (BPS) Rp 250 ribu/bulan, masih jauh dari standar internasional yang sudah menetapkan angka USD 2/hari atau berkisar Rp 750 ribu/bulan.

BACA JUGA: Wow, Sayembara Desain Homestay 2016 Raih Rekor MURI

"Percayalah, sudah enggak pantas (berpenghasilan,red) Rp 250 ribu sudah dianggap tak miskin lagi. Ini perlu perbaikan. Jadi saya setuju soal data," ujar Maruarar saat menjadi pembicara pada sebuah diskusi yang digelar di Cikini, Sabtu (22/10).

Menurut pria yang akrab disapa Ara ini, meski duduk sebagai anggota DPR dari Fraksi PDI Perjuangan, namun bukan berarti dirinya hanya memaparkan sesuatu yang baik tentang Pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla. 

BACA JUGA: Yakin Pengangguran dan Kemiskinan Turun di Era Jokowi-JK?

"Kita objektif saja. Karena yang dibutuhkan saat ini adalah orang-orang yang berani mengatakan sesuatu yang benar. Bukan yang enak.
Sama seperti Gerindra, mereka banyak mengkritisi, tapi ada yang dipuji (dari keberhasilan Pemerintahan Jokowi-JK)," ujar Ara.

Selain itu, Ara juga menilai saat ini penting transformasi di bidang politik. Sehingga ke depan, di Indonesia jauh lebih banyak orang-orang yang memiliki sifat negarawan, dari yang hanya sekadar politikus semata. Karena sifat negarawan diperlukan untuk membangun Indonesia lebih baik. 

BACA JUGA: Garuda Indonesia Terbangi Rute Jakarta-Labuan Bajo

"Saya menyampaikan yang benar itu dari dalam (sebagai politikus pengusung Jokowi-JK,red) tak mudah. Tapi meski demikian, intinya menyampaikan kebenaran, saya setuju," ujar Ara.(gir/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Bank Dunia Dukung Pengembangan Infrastruktur 3 Destinasi Prioritas


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler