Pembukaan kembali kawasan pedalaman Victoria di luar metropolitan Melbourne akan dirasakan manfaatnya bagi mahasiswa internasional.

Alasannya karena sektor perhotelan adalah salah satu sumber pendapatan terbesar bagi mahasiswa internasional yang bekerja paruh waktu.

BACA JUGA: Tiket Terbang Keliling Australia Tanpa Mendarat Laris Terjual dalam 10 Menit

Namun, sejak pandemi COVID-19, mahasiswa internasional yang tidak memenuhi syarat untuk mendapat tunjangan uang 'JobKeeper' dan 'JobSeeker' tidak dapat lagi bekerja di sektor itu.

Survei terbaru menemukan 70 persen dari 6.000 partisipan yang terdiri dari mahasiswa internasional dan pekerja migran, kehilangan pekerjaan mereka di tengah pandemi.

BACA JUGA: Tingginya Stigma Terhadap Pasien COVID-19 di Indonesia, Sangat Memprihatinkan

Lebih dari setengah jumlah partisipan survei mengaku masalah keuangan mereka akan memburuk di akhir tahun ini.

Ribuan mahasiswa internasional menyesalkan kebijakan Pemerintah Australia yang tidak memasukkan mereka dalam penyediaan paket bantuan dana di tengah pandemi.

BACA JUGA: Lockdown Dilonggarkan, Warga Indonesia di Pedalaman Victoria Tersenyum Lagi

Baca juga: Lockdown dilonggarkan, warga Indonesia di pedalaman Victoria 'tersenyum lagi' Photo: Juru bicara kampus 'Federation Square' menemukan banyak mahasiswa internasional yang mengakses bantuan dari universitas tersebut. (Supplied: Federation University)

  'Kami hanya butuh pekerjaan'

'Federation University', yang memiliki kampus di Ballarat, Berwick, dan Gippsland, memiliki lebih dari 1.600 mahasiswa internasional yang terdaftar di semester kedua.

Juru bicara universitas tersebut mengatakan banyak di antaranya mengakses bantuan yang mereka sediakan untuk akomodasi, makanan, dan layanan konseling.

Salah satu mahasiswa yang mengaksesnya adalah Rushmitha Konreddy, mahasiswi internasional di 'Federation University' di Ballarat.

Sejak beberapa bulan yang lalu, mendapat bantuan dari 'dapur komunitas' yang memberikan makanan gratis di universitasnya. Baca juga: Inilah bantuan yang tersedia bagi mahasiswa internasional di beberapa negara bagian Australia

"[Layanan] itu sangat membantu kami, namun kami juga masih harus mencari pekerjaan; saya sedang berusaha mencarinya saat ini," kata dia.

Rushmita sudah tinggal di Australia sejak Juli tahun lalu, dan sempat bekerja di restoran sebagai pelayan dan pembuat minuman, namun kehilangan jam kerja sejak pandemi.

"Waktu itu saya takut sekali kehilangan pekerjaan saya. Ini masih enimbulkan stress mental bagi saya sampai sekarang," ungkap Rushmita.

"Stress mental ini mengganggu saya ketika mengerjakan tugas." Photo: Rushmitha Konreddy mengatakan hanya ingin mendapatkan pekerjaan sesegera mungkin di tengah pelonggaran aturan di pedalaman Victoria. (Supplied: Rushmitha Konreddy)

 

Besar harapannya pelonggaran aturan pandemi ini akan membuka peluang bekerja di dunia perhotelan seperti dulu kala.

"Saya berusaha keras, melamar setiap pekerjaan yang membuka lowongan online dan harapannya saya akan menemukannya," kata dia.

"Harapannya, semua orang akan mendapatkan kembali pekerjaan mereka dan semua orang segera bahagia." Bisnis 'optimis' dapat menambah tenaga kerja

Hotel dan pusat penyelenggara acara Mercure di Ballarat saat ini mempekerjakan 30 karyawan yang dibantu oleh skema 'JobKeeper'.

Simon Monk, Manager Umum hotel tersebut mengatakan skema ini telah menolong mereka agar tetap aktif selama beberapa bulan terakhir.

"Semua karyawan yang memenuhi syarat untuk mengakses JobKeeper dijaga agar tetap sibuk," kata Simon.

Meski para karyawan sempat kekurangan aktivitas di awal pandemi, mereka sudah semakin sibuk sekarang.

"Kami sudah mengecat setiap kamar akomodasi, dan melakukan banyak kegiatan di taman seperti bersih-bersih dan hal lainnya." Photo: Survei menemukan bahwa dari 6.000 mahasiswa internasional, 70 persen di antaranya kehilangan pekerjaan sejak pandemi. (ABC News: Nick Haggarty)

 

Sayangnya, mahasiswa internasional dan pekerja migran yang bekerja di sana sebelum pandemi COVID-19, tidak tertolong karena tidak dapat mengakses tunjangan uang 'JobKeeper'.

"Dan banyak dari mereka [hanya bekerja] sementara, sehingga belum bekerja cukup lama untuk memenuhi syarat."

Walau demikian, Simon berharap penambahan jam operasi hotel dapat membuka ruang bekerja lagi untuk mereka.

"Dengan [pelonggaran aturan], kami akan membuka hotel lebih lama dan semoga dapat menarik kembali karyawan lama yang belum bisa mengakses JobKeeper, atau orang lain di Ballarat yang mencari pekerjaan," ucapnya.

"Waktu tidak ada yang tahu, tapi kami optimis akan sampai ke tahap itu."

Diproduksi oleh Natasya Salim dari artikel bahasa Inggris yang dapat dibaca di sini.

Ikuti berita seputar pandemi COVID-19 di Australia lainnya di ABC Indonesia.

BACA ARTIKEL LAINNYA... Warga Australia Tetap Semangat Belajar Bahasa Indonesia Online di Tengah Pandemi

Berita Terkait