Peluang Prabowo-Zulkifli Hasan Maju Pilpres 2019 Terbuka Lebar

Jumat, 05 Mei 2017 – 18:04 WIB
Zulkifli Hasan. Foto: dok/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Direktur Eksekutif Vox Populi Center Pangi Syarwi Chaniago menilai peluang Prabowo Subianto dan Ketua Umum DPP PAN, Zulkifli Hasan maju berpasangan di Pilpres 2019 sangat terbuka lebar.

Pasalnya, pada pilpres 2014 lalu, Prabowo juga berpasangan dengan Ketum DPP PAN saat itu, Hatta Rajasa. "Prabowo saya kira masih punya kans untuk dicalonkan sebagai presiden. Nah untuk pasangannya, tentu masih ingat pada pilpres 2014 lalu, Ketua umum PAN Hatta Rajasa berpasangan dengan Prabowo. Jadi, bukan tidak mungkin akan terulang kembali koalisi PAN dan Gerindra," ujar Pangi kepada JPNN, Jumat (5/5).

BACA JUGA: Semua Ketum Parpol Berpeluang jadi Capres, Kecuali...

Pengalaman politik selama ini kata Pangi, juga memperlihatkan bahwa setiap ketua umum berpeluang maju dalam pencapresan.

"Tapi ketua umum seperti Golkar, PDIP dan Nasdem, saya menyakini dan menduga agak kesulitan diajukan sebagai calon presiden. Karena dari jauh hari sudah memberi sinyal mendukung Jokowi untuk kembali diusung menjadi capres pada 2019," tutur Pangi.

BACA JUGA: Polarisasi Pilpres 2014 dan Pilkada DKI Berpotensi Lanjut di 2019

Sementara itu, saat ditanya apakah ada kaitan omongan Zul yang menyebut JK berperan besar dalam kemenangan Anies-Sandi pada Pilkada DKI, dengan wacana menyandingkan Prabowo-Zul untuk Pilpres 2019, Pangi belum bersedia berspekulasi. Namun demikian, dia mengaku mendengar hal tersebut.

"Saya melihat juga belakangan santer pembicaraan Zulkifli Hasan mengatakan, bahwa di balik kemenangan Anies Sandi ada peran Jusuf Kalla yang menyedorkan nama Anies ke Prabowo. Pada saat yang sama ada wacana menyandingkan Prabowo-Zulkifli. Saya enggak mau berspekulasi apakah ada hubungannya atau tidak," kata Pangi.

BACA JUGA: Alternatif, Demokrat Bentuk Poros Tengah Usung TGB di Pilpres 2019

Sebelumnya, Zulkifli bercerita mengapa Anies yang dipilih menjadi calon Gubernur pada Pilkada DKI Jakarta 2017. Padahal sebelumnya, nama yang digadang-gadang Yusril Ihza Mahendra-Sandiaga Uno. Menurutnya, karena ada intervensi Jusuf Kalla.

"Jam 12 malam sampai jam satu pagi itu ada intervensinya Pak JK. Saya kan suka terus terang. Pak JK boleh enggak ngaku, saya dengar kok teleponnya. Pak JK lah yang meyakinkan sehingga berubah lah," ujar Zul saat berbicara pada Seminar Nasional Kebangsaan Gerakan Mubaligh dan Sosialisasi Empat Pilar MPR di Gedung Nusantara V, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (2/5) kemarin. (gir/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Tuan Guru Bajang Dinilai Layak jadi Pemimpin Nasional


Redaktur & Reporter : Ken Girsang

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler