Pemakainya dari Napoleon hingga Lady Diana

Jumat, 03 Oktober 2014 – 14:06 WIB
Pemakainya dari Napoleon hingga Lady Diana. Nanang Prianto/Jawa Pos/JPNN.com

jpnn.com - INI kali pertama saya menjalani tugas jurnalistik ke Koeln (Köln atau Cologne), Jerman. Tujuan utamanya adalah menyaksikan world premier motor matik 110 cc Suzuki Address pada Selasa (30/9). Juga, bertemu dengan petinggi tim balap Suzuki yang akan turun di ajang MotoGP 2015.

Orang-orang penting di pabrikan asal Jepang itu berkumpul di Koelnmesse yang merupakan arena International Motorcycle, Scooter & E-Bike Fair (Intermot) 2014. Itu adalah salah satu pameran motor paling besar di dunia. Diselenggarakan dua tahun sekali sejak 50 tahun silam, Intermot mampu mendatangkan ratusan ribu pengunjung dan ratusan perusahaan untuk memamerkan produknya pada setiap edisi.

BACA JUGA: Mengunjungi Yunani, Negeri Para Dewa

Di ajang itu semua pabrikan besar meluncurkan produk baru mereka. Suzuki mengeluarkan Address, GSX-S1000, V-Strom 650XT, Bandit S 1250, dan GSX-R 1000. Begitu pula Honda dan Kawasaki yang ikut dalam pameran tersebut.

”Sebagian besar motor yang dipamerkan di sini untuk pasar Eropa. Termasuk Suzuki Address juga untuk pasar di sini selain untuk pasar Indonesia,” kata Yohan Yahya, general manager marketing PT Suzuki Indomobil Sales (SIS).

BACA JUGA: Beli Hanya Rp 35 Ribu, Jual Lagi Sudah Ratusan Juta Rupiah

”Kami bangga, Address yang diproduksi di Tambun, Bekasi, bisa memenuhi standar untuk dipasarkan di Eropa,” tandasnya.

Datang ke Jerman, juara Piala Dunia 2014, tak lengkap rasanya jika tidak nonton langsung fussball alias sepak bola. Kebetulan Koeln juga punya klub sepak bola yang berlaga di Bundesliga, FC Koeln. Sayang, pertandingan mereka Sabtu (27/9) melawan Bayern Muenchen adalah partai away. Saya dan rombongan PT SIS yang datang di Koeln Sabtu sore tidak punya cukup waktu untuk ke Allianz Arena, markas Muenchen.

BACA JUGA: Cerita di Balik Lukisan Raksasa Paviliun Permata

Widjang Djendrawan, manajer marketing Suzuki PT SIS, mengatakan kepada saya agar tidak kecewa karena tidak bisa nonton laga FC Koeln. Ada hal lain yang lebih menarik untuk ditelusuri di Koeln, yakni parfum.

”Pernah pakai (parfum) cologne kan? Nah, itu diciptakan di sini. Kalau di Indonesia yang paling terkenal adalah 4711, ibu saya suka banget memakai cologne itu. Bikin rileks, bahkan bisa meringankan gejala mabuk perjalanan,” jelas Widjang.

Cologne memang sangat populer di Indonesia. Di semua supermarket, minimarket, sampai toko kelontong, pasti dijual cologne. Dengan puluhan merek. Namun, tidak semua pemakai cologne tahu wewangian itu diciptakan di Koeln. Apalagi tentang sejarahnya yang bisa membuat Koeln menjadi kota yang sangat populer pada abad XVIII. Hampir tiap hari datang utusan raja atau orang kaya dari segenap penjuru dunia untuk membeli wewangian di sana.

”Kalau dulu ada penjual tisu basah di kereta api dan bilang ’kolonyet’, itu juga merujuk pada Kota Koeln ini. Sebab, jenis parfum yang digunakan di tisu itu adalah cologne,” tutur Widjang.

Eau de Cologne atau Air dari Cologne yang diciptakan Giovanni Maria Farina yang punya nama Jerman Johann Maria Farina. Pria kelahiran 8 Desember 1685 di Valle Vigezzo, daerah di Pegunungan Alpen yang ada di sisi utara Italia, itu menciptakan Eau de Cologne pada 1709.

Eau de Cologne adalah bahasa Prancis yang berarti air dari Cologne atau air dari Koeln. Hingga kini bangunan yang dipakai Farina membuat dan menjual Eau de Cologne kali pertama pada 1709 masih ”utuh” di Koeln. Yakni, di Jalan Obenmarspforten No 21. Bangunan tersebut kini masih digunakan untuk toko parfum. Sementara itu, lokasi produksinya sudah dipindah. Fasilitas produksi di bangunan tersebut kini dimanfaatkan untuk museum.

Menemukan Farina-Haus alias rumah Farina tidaklah sulit. Bangunan itu hanya berjarak sekitar 300 meter dari Katedral Koeln. Katedral yang dibangun pada abad ke-13 tersebut berhadapan dengan stasiun kereta api Koeln. Kawasan di sekitar katedral tersebut menjadi jujukan turis. Terutama pusat belanja di Hohestrasse yang menghubungkan Katedral Koeln dengan Farina-Haus.

Masuk museum Farina, pengunjung akan diajak kembali ke sejarah ratusan tahun silam. Sebagian besar interior dan perkakas di bangunan di pojok jalan itu konon sama dengan kondisi ketika Farina masih hidup. Meja dan kursi buatan Portugal pada akhir abad ke-17 yang dulu digunakan Farina untuk menulis surat maupun mendokumentasikan Eau de Cologne masih ada.

”Halo, saya Farina versi modern. Saya hidup lagi untuk menemani Anda sekalian menikmati Farina-Haus,” kata Tim Fleischer, pemandu wisata yang berdandan ala Farina, lengkap dengan wig putih keriting panjang.

Satu rombongan tur ke museum Farina berisi 15 orang. Memang jumlah pengunjung yang masuk dibatasi karena ruang museum relatif kecil. Ruang pertama adalah ruang pribadi Farina. Fleischer menjelaskan bahwa di situlah Farina menulis semua kisah tentang Eau de Cologne pada 1709. Di situ juga dipajang peta persebaran Eau de Cologne ke seluruh dunia.

”Pada dekade ketiga abad ke-18, Eau de Cologne sudah tersebar di seluruh penjuru Eropa. Namun, harganya sangat mahal sehingga yang menggunakan kebanyakan para bangsawan,” papar Fleischer.

Saat menemukan Eau de Cologne, Farina berkirim surat kepada saudaranya bahwa wewangian (parfum) ciptaannya mengingatkan dirinya pada aroma di kampung halaman setelah turun hujan. Aroma jeruk bercampur wangi bunga. Karena itu, Eau de Cologne memiliki aroma yang ringan tapi segar seperti yang digambarkan Farina dalam suratnya. Bahan-bahan yang diekstrak menjadi wewangian pada awalnya juga seperti yang ada di sekitar tempat asal Farina seperti melati, mawar, lavender, dan jeruk.

Ketika itu wewangian sudah dikenal. Teknologi suling seperti yang dilakukan Farina untuk mendapatkan ekstrak bahan-bahan tersebut juga sudah banyak dilakukan. Komposisi 4–6 persen ekstrak wewangian yang dicampur etanol dan bahan-bahan tambahan lain menjadikan Eau de Cologne menjadi parfum yang ringan namun segar.

”Pada abad ke-18, membuat parfum dengan aroma yang sama persis setiap produksi adalah hal yang sangat sulit. Bukan bergantung pada kepekaan penciuman, tapi pada memori otak sang pembuat parfum terhadap satu aroma,” jelas Fleischer.

Eau de Cologne menjadi fenomena baru ketika itu. Banyak tokoh besar yang memakainya. Pada 1738 Raja Charles IV dari Austria mengirim utusan ke Koeln untuk membeli Eau de Cologne. Raja Alexander I (Rusia), Ratu Victoria (Inggris), dan Raja Louis XV (Prancis) adalah beberapa penguasa yang pada abad XVIII menggunakan Eau de Cologne. Di era modern, mendiang Putri Diana juga menggunakan Eau de Cologne.

Namun, di antara sekian banyak pelanggan kenamaan, Fleischer menyebut Napoleon Bonaparte sebagai yang paling istimewa. Penguasa Prancis pada awal abad ke-19 itu adalah pelanggan paling setia Eau de Cologne.

”Napoleon memasukkan botol Eau de Cologne ke dalam sepatu botnya sehingga bisa menggunakannya setiap saat,” ujar Fleischer. Botol Eau de Cologne pada saat itu memang berbentuk mirip spidol. Dengan demikian, bisa dimasukkan bot.

Saking besarnya pengaruh Farina, dia diabadikan di City Hall Cologne. Patungnya menghiasi salah satu tower di sana.

Lantas, kenapa merek parfum itu menggunakan bahasa Prancis, bukan bahasa Jerman? Fleischer mengatakan bahwa zaman itu orang Prancis dikenal memiliki strata sosial yang lebih tinggi daripada orang Jerman atau negara lainnya. Otomatis, orang yang berbahasa Prancis juga dianggap lebih keren.

Dalam perkembangannya, kata Fleischer, banyak yang berusaha meniru Eau de Cologne. Eau de Cologne yang asli produksi Farina. Kemasannya berupa botol kaca dengan cap berwarna merah muda. Logo Eau de Cologne berupa bunga tulip.

”Eau de Cologne adalah merek milik keluarga Farina yang sejak 1881 telah disahkan pengadilan Koeln. Tidak boleh siapa pun menggunakannya,” kata tegas Fleischer. (*/ari/c10/bersambung)

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Memajukan Desa lewat Ngerumpi Ibu-Ibu


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler