Pembantai Sempat Melayat, Ucapkan Bela Sungkawa

Senin, 17 November 2014 – 05:57 WIB

jpnn.com - TASIK – Otak pelaku pembantaian Ai Cucu (40) dan Elis Restiana (23), Dani (43) pernah berkunjung ke rumah duka Kamis siang (13/11) sebelum ditangkap Polres Tasikmalaya Kota. Dia kala itu ditemani istrinya, Dede (40).

Saat itu, kata Nonok (50), kakak perempuan Ai Cucu, Dani mengucapkan bela sungkawa atas kematian Ai Cucu dan Elis. ”Ngiring bela sungkawa (ikut berbela sungkawa, red),” terang Nonok menirukan perkataan Dani waktu itu, kemarin (17/11) di rumahnya.

BACA JUGA: Pecatan Brimob dan Bidan Dibekuk Usai Pesta Sabu

Kepada keluarga korban, saat itu Dani mengaku telah diperiksa polisi sebagai saksi. Dia pun, kata Nonok, menunjukkan gelagat kekhawatiran dijadikan tersangka. ”Anjeuna nyarios, ‘Pirakunya Teh kan abimah wargi (Dia bilang masa iya ya Teh, saya kan saudara, red),” ungkapnya.

Ketika itu Dani berkunjung tidak terlalu lama. Dia berbincang dengan Nonok tidak sampai satu jam. ”Yah dugika 30 menitan (Ya sekitar 30 menitan, red),”jelasnya.

BACA JUGA: Libatkan Pembunuh Bayaran, Ini Perampokan Sadis Banget

Gelagat Dani memang aneh saat itu. Nonok melihat Dani masuk ke rumah Nonok melelui pintu belakang. Padahal motor milik Dani disimpan di depan rumah. ”Muter ka pengker (berputar ke belakang, red),” ungkapnya.

Saat pulang pun Dani tidak berani melewati rumah Ai Cucu. Dia lebih memilih jalan lain untuk pulang. ”Katingalina rusuh (buru-buru, red),” jelasnya.

BACA JUGA: Pulang dari Jepang, Jadi Begal Motor

Menurut keterangan Nonok, Dani sudah lama pindah dari Sindangjaya ke bilangan Terminal Indihiang Kota Tasikmalaya. ”Upami istrina mah didieu (Kalau istrinya di sini, red),” ungkapnya.

Dani, kata dia, memiliki tiga anak. Dua anak laki-laki dan satu perempuan.  Anak pertama berusia 20 tahun, anak ke dua sekolah SD dan empat tahun.

Saat mengetahui Dani sebagai otak pembunuhan Ai Cucu dan Elis, Nonok kaget dan marah. ”Teu nyangki (nggak percaya, red),” ungkapnya.

Adik Ai Cucu, Dadan (34) mengatakan Dani pernah tersandung masalah mobil bodong. “Kejadiannya sih udah lama,” ungkapnya. Sampai tadi malam, Radar belum bisa mewawancarai Dani karena masih ditahan di Polres Tasikmalaya Kota.

Hingga kemarin, pihak kepolisian belum menetapkan tambahan tersangka baru. Dengan demikian, sama seperti diberitakan Radar Tasikmalaya (Grup JPNN) kemarin (16/11), polisi menetapkan dua tersangka yaitu Dani dan Indra (24).

Mereka menghabisi ibu dan anak itu. Indra diajak Dani dengan imbalan uang Rp 2,5 juta. Mereka terancam hukuman mati.

Sampai Minggu malam (16/11) Polres Tasikmalaya Kota terus mengembangkan kasus tersebut dan mengumpulkan sejumlah petunjuk.

“Belum ada pelaku lain,” ungkapnya Kapolres Tasikmalaya Kota AKPB Noffan Widyayoko SIK, MA tadi malam saat dihubungi Radar.

Pihaknya terus melakukan penyelidikan lebih mendalam soal kasus tersebut. Termasuk kepolisian sudah mendapatkan petunjuk-petunjuk baru terkait pengembangan kasus yang menggegerkan itu. Namun terkait petunjuknya itu, Noffan, belum bisa membeberkannya.

Diakuinya jumlah pelaku kemungkinan bisa bertambah seiring perkembangan kasusnya. “Bisa, kalau ada bukti-bukti yang cukup dan ada petunjuk-petunjuk yang menguatkan. Mengapa tidak?” jelas alumnus Akpol 1994 ini.

Sampai kemarin jumlah saksi yang telah diperiksa kepolisian sudah sebanyak 13 orang. Perkembangan kasus sejauh ini dijelaskannya tidak luput dari bantuan masyarakat yang senantiasa memberikan informasi secara cepat dan tepat.

Untuk itu, dia berterima kasih dan meminta masyarakat untuk terus ikut berpartisipasi membantu pihak kepolisian menuntaskan kasus tersebut. “Masyarakat memberikan informasi satu demi satu dan kita rangkai,” terangnya.

Noffan mengaku merasa tertantang dengan kasus pembunuhan Ai Cucu dan Elis. Meskipun terbilang cukup rumit, dia menganggap kasus itu “cukup menarik.”

Untuk itu pihaknya akan berupaya untuk menyelesaikan kasus ini sampai tuntas dengan tetap menjaga ketelitian tanpa harus diburu waktu. “Kita ingin kasus ini betul-betul terkuak,” tekadnya.

Terkait cara Dani dan Indra mengeksekusi Ai Cucu dan Elis yang cukup rapi, layaknya pembunuh profesional, Noffan mengakuinya. Namun pihaknya belum mendapat informasi tentang dari mana mereka mempelajari teknik-teknik yang mereka praktikkan kepada kedua korban.

“Memang seperti itu (profesional). Mereka sudah tahu titik-titik lemah dari lawan,” tuturnya.

Dani dan Indra, kata dia, kini psikologisnya tertekan. Keduanya seolah memiliki beban psikologis usai pembunuhan itu. “Terkadang (ucapan) dia berubah-ubah. Mungkin dari beban psikis juga,” terangnya. (mg10/rga)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Berawal dari FB, Berakhir Tragis di Kamar Kos


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler