Pembelaan Charles untuk Kiai Ma'ruf dari Hujatan RatnaSpaet

Minggu, 12 Agustus 2018 – 13:06 WIB
TEMUI KONSTITUEN: Anggota Komisi I DPR dari PDIP Charles Honoris saat menemui konstituennya di daerah pemilihannya di DKI Jakarta III. Foto: dokumentasi pribadi for JPNN

jpnn.com, JAKARTA - Politikus muda PDI Perjuangan Charles Honoris merasa tak rela KH Ma’ruf Amin yang menjadi calon wakil presiden (cawapres) pendamping Joko Widodo (Jokowi) dihujat oleh aktivis Ratna Sarumpaet. Menurutnya, Ratna telah membuat tuduhan keji kepada ketua umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu.

“Belum juga pertandingan dimulai, Ratna Sarumpaet sudah menyerang Kiai Ma’ruf dengan sangat keji. Politik seharusnya saling serang ide dan gagasan, bukan menyerang fisik” ujar Charles melalui pesan singkat, Minggu (12/8).

BACA JUGA: Ada Apa Antara Prabowo dan Anies Baswedan?

Sebelumnya Ratna berkicau di Twitter. Ratna dalam kicauannya melalui akun @RatnaSpaet di Twitter menyindir Ma’ruf yang seolah lupa pada fatwa MUI tentang haram memilih pemimpin ingkar janji.

Bahkan, Ratna di sebuah media menyebut Kiai Ma’ruf sudah uzur dan sakit-sakitan. Seniman panggung itu juga menyebut Ma’ruf lemah jantung.

BACA JUGA: Sandiaga Uno Sebut Ada Uang Untuk Partai Pengusung

Charles pun menyanggah tudingan Ratna yang menyudutkan Kiai Ma’ruf. Menurutnya, Ratna tidak memiliki kapasitas untuk menentukan kesehatan seseorang.

“Yang saya tahu Bu Ratna Sarumpaet itu seniman ya, kok tiba-tiba jadi dokter dadakan yang seenaknya memvonis kesehatan seseorang. Oposisi sih boleh saja, tapi jangan menuding serampangan tanpa bukti seperti itu,” tegas Charles.

BACA JUGA: Jokowi – Ma’ruf Kuat, Prabowo – Sandiaga tak Bisa Diremehkan

Menurutnya, tidak ada undang-undang yang dilanggar dalam keputusan Jokowi menggandeng rais aam Nahdatul Ulama (NU) itu sebagai pendamping di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. Ketentuan tentang usia dalam UU Pemilu hanya mengatur batasan paling rendah 40 tahun.

“Jadi tidak ada yang dilanggar, dan tidak ada istilah ketuaan bagi capres/cawapres. Yang ada justru kemudaan kalau usianya di bawah 40 tahun,” tuturnya.

Legislator PDIP di Komisi Pertahanan dan Intelijen DPR itu lantas membandingkan Kiai Ma’ruf dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Charles menegaskan, Kalla yang lebih sepuh ketimbang Kiai Ma’ruf tetap bisa produktif dan gesit.

Selain itu, kata Charles, kepemimpinan Kiai Ma’ruf di NU dan MUI selama ini juga menunjukkan produktivitasnya. Karena itu Charles meyakini faktor usia bukanlah penentu utama produktivitas kinerja.

“Sebaliknya, kita melihat banyak politisi muda yang tidak produktif, bahkan terjerat hukum karena narkoba atau korupsi. Jadi usia tidak selalu mencerminkan kinerja,” ujar peraih penghargaan Ten Outstanding Young Persons (TOYP) dari Junior Chamber International (JCI) itu.

Oleh karena itu Charles meyakini Presiden Jokowi memiliki pertimbangan panjang dan matang sehingga menggandeng Kiai Ma’ruf sebagai cawapres. “Kiai Ma’ruf adalah pilihan terbaik untuk realitas politik saat ini,” ujarnya.(jpg/ara/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Soal Politik, Yovie Widianto: Jangan Baperan


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler