Pembelajaran Tatap Muka Harus Segera Dilakukan

Rabu, 17 Maret 2021 – 11:26 WIB
Ilustrasi pembelajaran tatap muka. Foto: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Kebijakan pembelajaran tatap muka (PTM) harus segera dilakukan demi mengindari anak Indonesia dari kehilangan kemampuan dan pengalaman belajar (learning loss).

Data UNICEF Education COVID-19 Response Oktober 2020 mencatat, Indonesia adalah satu di antara empat negara di Asia Timur dan Asia Pasifik yang belum melakukan PTM secara penuh.

BACA JUGA: Forum Guru Pesimistis Target Jokowi Tercapai, Sekolah Tatap Muka Sebaiknya Ditunda

Sampai akhir Oktober tahun lalu, 85 persen negara di dua kawasan tersebut sudah membuka sekolah secara penuh.

Pengamat Sosial Universitas Indonesia Devie Rahmawati mengatakan kembalinya pembelajaran tatap muka menjadi hal yang baik, khususnya terkait penguatan interaksi para siswa.

BACA JUGA: Ucapkan Terima Kasih, Meilia Lau: Salam dari Putri Saya Tercinta, Felicia

Konsep hybrid, menggabungkan antara pembelajaran tatap muka dengan pembelajaran jarak jauh (PJJ), yang akan dijalankan dinilai akan jauh lebih sempurna di tengah situasi saat ini.

Dia menjelaskan, PJJ mendorong anak untuk bisa dengan mudah dan kreatif mengeksplorasi pengetahuan, sementara PTM akan membantu manifestasinya.

BACA JUGA: Para Pria Mari Rapatkan Barisan! Kenali 10 Tanda Anda Sehat, Nomor 2 Ukur Pakai Sendok

“Budaya online akan mengisi kognisi, tetapi untuk melatih dan mempraktikkan membutuhkan ruang offline. Ke depan akan sangat sulit dihindari kehidupan hybrid ini,” ujar Devie di Jakarta.

PTM juga dinilai akan membuat proses transformasi pendidikan yang mengedepankan kerja sama, interaksi antar-siswa dan guru di kelas berjalan efektif.

Dalam konteks hubungan sosial berbasis data yang telah dirilis sejumlah lembaga kredibel, para siswa juga sangat merindukan interaksi dengan temannya secara langsung.

Devie menjelaskan, interaksi langsung di kelas dapat menjadi media rekreasi dan refreshing yang menyenangkan bagi anak saat mereka merasa lelah dan bosan.

PTM juga bisa mengikis budaya ketergantungan anak kepada orang tuanya yang secara tidak langsung tercipta selama masa pandemi.

“Karakter ketergantungan mudah-mudahan setelah nanti kembali adanya ruang offline tidak lagi terjadi,” ungkapnya.

Sementara Pengamat Pendidikan Universitas Gadjah Mada (UGM) Budi Santoso Wignyosukarto menilai ada hambatan PJJ yang berpotensi memicu learning loss, terutama dalam pembelajaran praktik.

“Saat praktikum siswa harus melakukannya sendiri, mencoba sendiri. Ada suatu proses pembelajaran yang penting dan itu kalau tidak dilakukan akan mengurangi apa yang mereka dapatkan,” tutur Budi.

Oleh karena itu, Budi menyarankan pemerintah mempersiapkan fasilitas sesuai protokol kesehatan, percepatan vaksinasi guru dan tenaga kependidikan oleh Kementerian Kesehatan, serta menentukan prioritas pelajar yang memerlukan PTM.

“Kita harus mengupayakan itu terjadi, kendati tidak mudah. Sekarang sudah ada beberapa universitas dan sekolah yang memperbolehkan mahasiswa atau muridnya masuk,” tukas Budi.(chi/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... PJJ Setahun, Anak-Anak Mengalami Krisis Kesehatan Mental


Redaktur & Reporter : Yessy

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler