Untuk mengatasi masalah kekurangan tenaga kerja, Pemerintah Australia akan mengembalikan biaya pembuatan visa mahasiswa internasional dan visa working holiday (WHV).

Saat ini biaya pembuatan visa untuk belajar di Australia adalah AU$630 dan ini akan dikembalikan bagi mereka yang mengajukan visa pelajar dan bisa datang ke Australia dalam waktu delapan minggu. 

BACA JUGA: Pejabat Indonesia Dilaporkan Kunjungi Israel untuk Mempelajari Penanganan COVID-19

Pengembalian biaya pembuatan visa juga akan dikembalikan bagi mereka yang mengajukan visa working holiday dan bisa datang ke Australia dalam waktu 12 minggu.

Saat ini Pemerintah Australia sedang berupaya menarik kembali minat 150.000 mahasiswa dan 23.000 'backpacker' yang sedang berada di luar Australia.

BACA JUGA: Australia Mencetak Rekor Tertinggi Angka Kematian Harian Akibat COVID-19

"Ini adalah bentuk ucapan terima kasih karena mau kembali dan memilih Australia, tapi kami juga memerlukan mereka untuk membantu mengatasi masalah kekurangan pekerja," ujar Perdana Menteri Scott Morrison.

"Khususnya mereka yang bekerja dan sudah menerima pelatihan di bidang kesehatan, perawatan lansia, dan sektor serupa. Ini akan sangat membantu kami."

BACA JUGA: Twitter Punya Fitur Baru yang Bisa Hapus Informasi Tak Benar

PM Morrison juga mengajak 'backpacker' untuk kembali bekerja sambil berlibur di Australia untuk membantu membangkitkan industri pariwisata yang ambruk sejak pandemi.

"Pesan saya untuk mereka adalah: mari datang," ujarnya.

"Datanglah sekarang karena Anda sebelumnya mau datang ke Australia, sudah dapat visa-nya, kami mau Anda ke Australia dan menikmati liburan di Australia."

"Silakan jalan-jalan di Australia sambil membantu menjadi tenaga kerja di sektor pertanian, perhotelan, dan bidang perekonomian lainnya yang membutuhkan saat ini."

Saat ini ribuan tenaga kerja di Australia, termasuk yang bekerja di sektor pasokan dan distribusi, sedang sakit COVID-19 atau harus melakukan isolasi karena pernah melakukan kontak dengan mereka yang positif COVID-19.

Tapi bahkan sebelum penularan varian Omicron, penutupan perbatasan Australia telah menyebabkan berkurangnya pendatang untuk bekerja.

Beberapa bisnis mengatakan kemungkinan terpaksa menaikkan harga produk, karena mereka harus membayar lebih untuk upah pekerjanya dan menarik orang mau bekerja. Permintaan agar perbatasan dibuka sepenuhnya

Lembaga Kamar Dagang Komersil dan Industri Australia menyambut keputusan Pemerintah Australia yang memberikan tawaran menarik bagi mahasiswa internasionall dan 'backpacker', tapi mereka meminta agar turis juga bisa segera masuk.

Kepala organisasi pariwisata Australia, John Hart mengatakan pemerintah seharusnya juga menggratiskan visa jenis lain.

"Menawarkan visa turis gratis akan membuat Australia menjadi tujuan wisata yang diperebutkan," katanya.

"Bisnis yang bergantung pada turis hanya bisa mengandalkan bantuan Pemerintah yang sangat sedikit untuk bisa terus beroperasi.."

Tapi Mark Butler, Menteri Kesehatan Bayangan dari pihak oposisi Pemerintah Australia, mengatakan pengumuman ini sifatnya "ad hoc".

"Kalau Perdana Menteri dan Bendahara Negara mau menangani masalah kekurangan tenaga kerja yang menyebabkan barang-barang di supermarket kosong, restoran yang tidak punya karyawan, mengapa tidak memiliki sistem tes rapid yang gratis dan tersedia saja?"

PM Morrison mengatakan perubahan yang sebelumnya dilakukan, seperti aturan isolasi bagi kontak erat di beberapa industri "penting" dan dilonggarkannya batasan jam kerja bagi mahasiswa, diharapkan dapat membantu menyelesaikan masalah kekurangan tenaga kerja di Australia.

Diproduksi oleh Natasya Salim dari artikel ABC News dalam bahasa Inggris

BACA ARTIKEL LAINNYA... Apa yang Terjadi dengan Gunung Berapi Hunga Tonga-Hunga Haapai yang Baru Meletus?

Berita Terkait