Pemerintah Komitmen Lanjutkan Biodiesel Demi Ekonomi dan Lingkungan Indonesia

Kamis, 17 Desember 2020 – 19:06 WIB
Bahan bakar biodiesel 30 persen (B30). Foto: dok pribadi for jpnn

jpnn.com, JAKARTA - Pemerintah telah menjalankan program mandatori biodiesel yang diklaim telah sesuai target sehingga dapat berkontribusi positif bagi perekonomian, sosial, dan lingkungan.

“Pemanfaatan produk dan limbah kelapa sawit sebagai sumber energi berkontribusi bagi pencapaian target bauran energi terbarukan. Selain itu, dapat meningkatkan ketahanan energi berbasiskan sumber daya alam di dalam negeri,” ujar Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM Dadan Kusdiana.

BACA JUGA: Penerapan Biodiesel Signifikan Tekan Impor BBM

Hal ini disampaikannya dalam Dialog Webinar bertemakan “Masa Depan Biodiesel Indonesia: Bincang Pakar Multi Perpspektif” yang diselenggarakan Majalah Sawit Indonesia, Rabu (16/12).

Kegiatan ini menghadirkan empat pembicara yaitu Djoko Siswanto, MBA (Sekjen Dewan Energi Nasional), Fadhil Hasan (Peneliti INDEF), Tatang Hernas (Ikatan Ahli Bioenergi Indonesia), dan Petrus Gunarso (Dewan Pakar Persatuan Sarjana Kehutanan Indonesia).

BACA JUGA: 2 Wanita dan Pria di Ruang Karaoke, Lagi Main Kuda-kudaan Tanpa Celana Dalam

Dadan Kusdiana mengungkapkan, pemerintah tidak hanya memastikan sawit mendukung program biodiesel. Namun juga dimanfaatkan kepada ektor energi terbarukan secara luas seperti pemanfaatan limbah cair menjadi biogas dan sudah diujicoba sebagai BioCNG.

Dalam pandangan Dadan Kusdiana bahwa peningkatan nilai tambah berjalan baik dalam untuk dikombinasikan dengan program bioenergi.

BACA JUGA: Buat Pendukung Rizieq Shihab, Simak Permintaan Ridwan Kamil

Langkah ini merupakan strategi tepat karena menumbuhkan industri penunjang seperti industri methanol baik itu berbasis gas alam maupun batubara.

Pemerintah juga akan menjamin kualitas biodiesel dari mulai proses, pencampuran di lapangan hingga ke tangan konsumen terjaga dengan baik.

“Kementerian ESDM akan mulai mengintroduksi prinsip keberlanjutan,” jelas dia.

Selan itu, spesifikasi biofuel disesuaikan dengan kebutuhan konsumen yang lebih ramah lingkungan. Oleh karena itu, penggunaan energi harus menekan pengeluaran gas rumah kaca.

“Maka energi terbarukan tidak bisa ditolak. Kontribusi EBT (Energi Baru Terbarukan) di bauran energi primer pada semester pertama 2020 sebesar 10,90 persen. Dari jumlah tersebut sekitar 34 persen dihasilkan dari kontribusi biodiesel (B30),” kata Dadan.

Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional (DEN) Djoko Siswanto mengungkapkan indeks ketahanan energi Indonesia mencapai 6,57 ini dikategorikan baik karena pasokan energi terbarukan cukup melimpah salah satunya dari biodiesel.

Program mandatori biodiesel mengurangi konsumsi solar sekitar sekitar 7,2 juta KL pada 2019 serta menghemat devisa sebesar USD 2 miliar atau Rp28 triliun.

“Tahun ini program B30 diproyeksikan menghemat devisa sebesar USD 8 miliar,” ungkap Djoko.

Menurut dia, tantangan ke depan menyangkut keekonomian pengembangan biodiesel saat ini karena harga CPO lebih tinggi ketimbang harga solar. Alhasil perlu dukungan insentif untuk menutup selisih harga.

Ketua Ikatan Ahli Bioenergi Indonesia Tatang Hernas Soerawidjaja mengungkapkan masa depan bioesel masih cerah asalkan mutunya makin ideal.

“Biodiesel ini bakar terbarukan dan memanfaatkan bahan mentah lokal,” ujar Tatang.

Pengembangan biodiesel di Indonesia sangat menjanjikan. Bahan mentah semuanya ada di sini. Di sisi lain, Indonesia kekurangan bahan baku BBM.

Inovasi biofuel sangat dibutuhkan untuk mengatasi defisit pasokan minyak bumi. Bahan baku biodiesel tidak mesti bertumpu dari sawit melainkan dari bahan baku tanaman lain seperti pongan, nyamplung, dan kelor.

“Kecuali bangsa Indonesianya tidak inovatif, dengan mengatakan biodiesel tidak ada masa depannya,” ujar dia. (cuy/jpnn)


Redaktur & Reporter : Elfany Kurniawan

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler