Pemuda Muhammadiyah dan Panggilan Politik Kebangsaan

Senin, 26 November 2018 – 23:25 WIB
Dosen Universitas Muhammadiyah Lampung Mohamad Nizar. Foto: Ist

jpnn.com - Mohamad Nizar
Dosen Universitas Muhammadiyah Lampung

Pada 25-28 November 2018 Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah (PPPM) menggelar muktamar ke- XVII yang berlangsung di Yogyakarta. Muktamar yang mengambil tema “Mengembirakan Dakwah Islam, Memajukan Indonesia” diikuti sebanyak 1500 peserta dari seluruh Indonesia.

BACA JUGA: Hasto Minta Kader PDIP Dekati Nahdiyin & Warga Muhammadiyah

Tantangan terbesar kepemimpin PPPM ke depan adalah bagaimana menguatkan kualitas dan kapabilitas kader Pemuda Muhammadiyah dalam menghadapi berbagai perubahan sebagai dampak perkembangan teknologi informasi.

Dalam kaitan ini, panggilan perjuangan dakwah Pemuda Muhammadiyah baik di bidang kebangsaan maupun keumatan bukan perkara mudah.

BACA JUGA: Cak Nanto Tekankan Antihoaks di Muktamar Pemuda Muhammadiyah

Tujuan strategis agenda muktamar dengan melihat tema di atas bahwa para kader Pemuda Muhammadiyah dituntut harus mampu melakukan kegiatan-kegiatan dakwah (menyeru, mengajak) yang mengembirakan.

Maksud daripada dakwah mengembirakan di sini para kader Pemuda Muhammadiyah dituntut memiliki pemahaman yang baik tentang Islam serta pendekatan-pendekatan dakwah yang humanis.

BACA JUGA: Amien Mau Jewer Ketum Muhammadiyah, Buya: Tak Usah Didengar

Menariknya Muhammadiyah sebagai organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam tetap konsisten dalam menjaga jarak dengan dunia politik.

Meskipun secara pribadi terdapat kader Muhammadiyah yang terjun dalam politik praksis, namun secara organisasi sikap tetap berjarak dengan politik-memberikan kebebasan kepada para kadernya menentukan pilihan politik.

Maka, ketika ada kader Muhammadiyah menjadi timses atau pemenangan, sungguh tidak etis. Apalagi jika yang bersangkutan mengarahkan warga Muhammadiyah untuk memilih paslon (pasangan calon) tertentu.

Sikap Muhammadiyah mengambil jarak dengan pergumulan politik ini, tidak lain dimaksudkan untuk menghindari terjadinya konflik keumatan, akibat perbedaan haluan politik.

Jadi, posisi Muhammadiyah yang tidak ingin terlibat dalam politik praksis tetap pada konteks untuk memajukan bangsa Indonesia yang sangat pluralis ini.

Maka, peran Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah dituntut harus mampu memberikan warna corak politik kebangsaan yang mengembirakan di negeri ini, bukan justru sebaliknya terbawa arus permainan panggung politik dari masa ke masa. (jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Pengusaha Muda Muhammadiyah Dukung Cak Nanto Pimpin PPPM


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler