Pendaftaran TNI 2018, Ada Kuota Khusus Daerah Perbatasan

Kamis, 26 April 2018 – 07:47 WIB
Prajurit TNI. Ilustrasi Foto: dok.JPNN.com

jpnn.com, BALIKPAPAN - Pendaftaran calon anggota TNI 2018 baru akan dibuka beberapa bulan lagi. Asisten Personel Kasdam VI/Mulawarman Kolonel Inf Gunawan Permadi menjelaskan, untuk peserta tes calon Taruna Akmil dapat mengikuti tes yang diadakan di bulan Juli.

Sedangkan calon bintara nantinya akan mengikuti tes pada Oktober, dan tes bagi calon tamtama dilaksanakan November mendatang.

BACA JUGA: Generasi Penerus Tak Akan Tahu Sejarah Tanpa Ini

Terkait dengan seleksi calon anggota TNI ini, Kodam VI/Mulawarman memberikan kesempatan bagi 20 orang putra-putri daerah Kaltim dan Kaltara. Kuota ini dikhususkan bagi mereka yang berada di perbatasan, pedalaman, dan pulau terluar.

Asisten Personel Kasdam VI/Mulawarman Kolonel Inf Gunawan Permadi mengatakan, sebelum tes penerimaan dimulai, Kodam senantiasa mengirim tim kesehatan maupun Babinsa ke pelosok. Tujuannya melakukan sosialisasi dan memberikan pembinaan. Para Babinsa pun setidaknya mendapatkan lima orang calon tamtama, bintara tiga orang, dan satu orang taruna akmil.

BACA JUGA: Lihatlah, Pengedar Sabu-Sabu Tertunduk di Depan Anggota TNI

Ia menyebut, daerah seperti Nunukan, Sangatta, Kubar, Tanjung Redep, Malinau maupun daerah perbatasan lainnya gencar dilakukan sosialisasi. “Kami datang langsung ke daerah dengan sistem jemput bola. Langkah ini adalah upaya agar tiap daerah memiliki perwakilan calon prajurit,” ucapnya.

Sebelum proses seleksi, calon peserta mengikuti pendaftaran terbuka. Gratis. Setelah dinyatakan lulus syarat administrasi mereka mengikuti tes kesehatan. Di sinilah yang sering menjadi rintangan bagi putra-putri daerah.

BACA JUGA: Penyediaan Rumah Buat ASN, TNI dan Polri Harus Sesuai Target

Sebab menurut Gunawan, peserta terkendala dengan beberapa masalah kesehatan. Yang sering dihadapi peserta, yakni masalah gigi, kolesterol, tinggi badan, dan postur tubuh.

“Proses perekrutan prajurit TNI tidak melihat latar belakang peserta, baik suku, status sosial, maupun agama. Dan, kami juga memahami tato adat sebagai kearifan lokal, jadi tidak masalah. Bahasa pun bukan kendala. Karena seiring masa pembinaan yang dijalani, sikap dan perilaku mereka akan berubah,” ujar Gunawan. (lil/one/k15)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Hadi & Prasetyo Teken MoU, TNI Pasok Info Intel ke Kejagung


Redaktur & Reporter : Soetomo

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler