Pendidikan Vokasi Punya Andil Dongkrak UMKM

Kamis, 15 Juli 2021 – 23:28 WIB
Pendidikan vokasi punya andil dongkrak UMKM. Ilustrasi Foto: Antara

jpnn.com, JAKARTA - Pendidikan vokasi dan UMKM memiliki keterkaitan yang sangat besar. Keduanya menjadi tumpuan penciptaan lapangan kerja sekaligus menciptakan sumber daya yang andal karena pendidikan vokasi berorientasi pada keahlian menciptakan SDM yang siap kerja.

Sementara itu, sektor koperasi dan UMKM merupakan salah satu tulang punggung perekonomian Indonesia.

BACA JUGA: 6 Fakta DS Membunuh Perempuan yang Menolak Lamarannya, Baca Nomor 1 dan 5, Bikin Merinding

Namun sayangnya, pandemi COVID-19 memberikan dampak yang sangat signifikan terhadap ketahanan sektor UMKM.

Ketua Umum CEO Business Forum Jahja Sunarjo mengatakan bahwa dari 64 juta UMKM di Indonesia, sekitar 78 persen sudah di ambang kegalauan atau kesusahan.

BACA JUGA: Santri dan Staf Pondok Pesantren Al Falah Berhamburan Saat Api Mulai Berkobar, Mencekam

“UMKM kita sedang menghadapi tantangan yang sangat berat 15-16 bulan menghadapi pandemi. Pemerintah sudah habis-habisan mempertahankan ekonomi, tapi ternyata tidak cukup,” ujar Jahja dalam webinar Seri Diskusi Riset Keilmuan Terapan Pendidikan Tinggi Vokasi dengan tema “Solusi Riset Terapan Vokasi Untuk Resiliensi UMKM” oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, belum lama ini.

Menurut Jahja, sektor yang harus menjadi prioritas untuk diselamatkan saat ini adalah UMKM dan koperasi karena keduanya menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia dalam lima sampai sepuluh tahun ke depan.

BACA JUGA: Video Mali Menghina Jokowi dan Polisi dengan Sebutan Binatang Viral, Petugas Gerak Cepat

“Kekuatan ekonomi tidak akan lagi bergantung pada konglomerasi, tapi pada koperasi dan UMKM,” ujar Jahja.

Menurutnya, di saat pandemi ini banyak lulusan politeknik, SMK, dan universitas yang tidak tertampung.

“Lebih baik mereka kembali ke daerah masing-masing dan menjadi motor UMKM di sana sehingga UMKM kita menjadi lebih tangguh dan memiliki manajerial yang lebih baik. Dan digitalisasi juga akan lebih cepat terjadi karena generasi muda ini yang akan membawa perubahan ke daerahnya masing-masing,” ujar Jahja.

Wientor Rah Mada, Director of Business & Marketing SMESCO Indonesia mengatakan bahwa digitalisasi menjadi salah satu cara membuat UMKM di Indonesia lebih resilience dan survive.

“Sampai saat ini data UMKM yang sudah onboard digital itu sekitar 13,7 juta. Kami dari KemenkopUKM sedang mendorong agar jumlah UMKM yang onboard digital mencapai 30 juta di tahun 2024. Tapi, definisi digital ini berbeda-beda antara usaha mikro, kecil, dan menengah,” ujar Wientor.

Menurut dia, di seluruh kementerian/lembaga di Indonesia ada sekitar 3.000 program yang semuanya bertujuan untuk meng-onboarding-kan UMKM ke digital. Karenanya, dia optimistis pada 2024 jumlahnya menjadi 30 juta.

"Kalau para UMKM sudah memanfaatkan digital untuk bisnis, maka hasilnya akan signifikan terhadap penjualan UMKM itu sendiri," katanya.

Selain digitalisasi, kemampuan riset juga menjadi salah satu syarat UMKM untuk dapat berkembang dan berekspansi. Sayangnya, menurut Wientor, para UMKM ini sudah terlalu sibuk dengan produksi mereka sehingga tak sempat untuk riset.

“Karena itu, untuk membantu proses riset mereka, dibutuhkanlah pihak ketiga seperti dari vokasi atau akademisi,” ujarnya.

Wientor mengatakan bahwa SMESCO dan KemenkopUKM akan menjalankan sejumlah program untuk membuat UMKM di Indonesia menjadi lebih tangguh.

Pertama adalah bagaimana caranya membuat mereka menjadi lebih formal, bisa berarti punya dokumen formalitas atau punya badan hukum. Pasalnya, mayoritas dari usaha mikro ini kebanyakan di sektor informal.

Kedua adalah memasukkan para UMKM ke rantai pasok industri yang lebih besar. Namun, kendalanya adalah industri besar umumnya memberikan persyaratan yang sama rata bagi usaha mikro, kecil, dan menengah sehingga hal tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi usaha mikro masuk ke rantai pasok industri besar.

"Yang ketiga adalah digitalisasi. Kalau UMKM sudah on boarding digital, itu artinya UMKM bisa naik kelas,” ujar Wientor.

Berikutnya adalah mendorong sebanyak mungkin para UMKM atau individu yang terkena dampak pandemi untuk masuk ke sebuah skema ekosistem penjualan secara digital yang dibuat oleh SMESCO, yaitu SMESCO Indonesia Retail Network.

“Ini seperti platform dropshipping atau reseller yang 100 persen bisa dilakukan dari rumah. Semua bisa masuk ke situ karena SMESCO adalah layanan pemasaran. Tugas kami memang membuka akses pasar terhadap produk-produk UMKM,” ujar Wientor.

Tim Riset Keilmuan Terapan Kemdikbudristek Heddy Agah mengatakan, pendidikan vokasi sangat membutuhkan tempat untuk pelatihan, dan mau tidak mau harus bekerja sama dengan UMKM serta pelaku industri skala besar atau kecil.

Solusi yang diberikan salah satunya melalui Program Riset Keilmuan Terapan Dalam Negeri – Dosen PT Vokasi, yakni sebuah program yang digagas oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Kemendikbudristek dengan sumber dana dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

Program ini, kata Heddy, bertujuan menciptakan riset terapan yang berbasis pada demand driven atau persoalan rill yang dihadapi langsung, baik oleh dunia usaha dan dunia industri (DUDI) maupun masyarakat.

“Kami berusaha menyambungkan apa yang diberikan dunia vokasi dan apa yang dibutuhkan oleh masyarakat di industri,” ujar Heddy.

“Politeknik mendapat pengalaman bagaimana UMKM bekerja, dan UMKM tahu bagaimana cara meningkatkan usaha mereka,” katanya.

Ekonom Universitas Indonesia Berly Martawardaya mengatakan bahwa tantangan lain yang dimiliki industri makanan adalah soal sertifikat BPOM.

“Untuk produk-produk makanan, kalau tidak punya sertifikat BPOM tidak bisa masuk supermarket. Biar pun dikasih dana sebanyak apa pun tidak bisa masuk juga,” ujar Berly. (rhs/jpnn)

Video Terpopuler Hari ini:


Redaktur & Reporter : Rah Mahatma Sakti

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler