Pengamat Politik Merespons Isu Politisasi Bansos di Pilpres 2024, Simak

Selasa, 23 Januari 2024 – 07:33 WIB
Warga penerima bansos. Ilustrasi. Foto: Ricardo/jpnn.com

jpnn.com, JAKARTA - Pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Bakir Ihsan menilai aturan pelaksanaan pemilu sudah digariskan dengan jelas.

Bakir menyampaikan hal itu untuk merespons isu penggunaan anggaran negara untuk menopang pemenangan salah satu pasangan calon presiden dan calon wakil presiden (paslon) di Pilpres 2024.

BACA JUGA: Bantah Isu Ganjar-Mahfud akan Setop PKH dan Bansos, Atikoh Berbicara Soal KTP Sakti

“Sebenarnya koridor pelaksanaan pemilu khususnya bagi masing-masing kontestan sudah jelas dan terang benderang. Namun sejauh mana kejelasan tersebut bisa memacu para penegak aturan untuk menindaklanjutinya,” ujar Bakir, Senin (22/1/2024).

Sebelumnya, Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri menyindir kampanye terselubung bermodus bagi-bagi sembako alias bantuan sosial (bansos) untuk memenangkan pasangan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) tertentu.

BACA JUGA: Pemilu 2024, Timnas AMIN Ingatkan Potensi Kecurangan dan Politisasi Bansos

Bakir menerangkan persoalan politisasi bansos seharusnya mampu ditepis oleh Bawaslu dan pihak terkait lain.

“Di sini integritas penyelenggara atau aktor pemilu seperti Bawaslu dan pihak terkait lainnya dipertaruhkan. Para aktor pemilu harus mengawasi secara lebih jeli terhadap pelaksanaan pemilu di tengah kontestasi melibatkan anak biologis penguasa,” ujarnya.

BACA JUGA: Kader TMP Jawa Barat Solid untuk Menangkan Ganjar-Mahfud di Pilpres 2024

Menurut Bakir, netralitas terhadap semua peserta pemilu dan keberpihakan pada tegaknya aturan main menjadi agenda yang harus ditegakkan secara bersama, termasuk kontrol masyarakat terhadap kerja para aktor pemilu.

Bakir berpendapat penguasa menjadi pihak yang paling berpeluang melakukan pelanggaran dengan segala kewenangan dan fasilitas yang disertakan.

“Peluang untuk melakukan pelanggaran adalah penguasa, karena kekuasaan itu cenderung menyimpang (tend to corrupt),” tegasnya.

Segala pelanggaran pemilu harus bisa ditepis. Pasalnya, efeknya akan sangat mengerikan jika dibiarkan bagi keberadaan demokrasi.

“Apabila pelanggaran pemilu dibiarkan, maka secara perlahan tapi pasti, demokrasi sedang menggali kuburnya sendiri. Pemilu hanya ritual oligarki berjubah demokrasi,” ujarnya.

Preferensi Pemilih

Peneliti Politik BRIN Devi Darmawan mengatakan, dugaan dan spekulasi akan politisasi Bantuan Sosial (Bansos) sangat wajar terjadi, untuk itu penyaluran bansos harus diawasi.

“Untuk itu, penyalurannya perlu diawasi agar tidak dimanfaatkan untuk kepentingan pemenangan calon tertentu,” kata Devi, Senin (22/1/2024).

Sejak awal dugaan politisasi bansos sangat kencang. mengingat dilakukan saat masa kampanye dan oleh pemerintahan, presiden yang mendukung paslon tertentu.

Menurut program pemerintah, ada 5 bansos yang akan turun awal tahun ini, yaitu BLT El Nino, Bantuan Pangan Beras, PKH, Bantuan Pangan Non Tunai, dan Program Indonesia Pintar.

“Jadi, masalahnya bukan tentang pembagian bansos semata, melainkan konteks pembagian berbagai varian bansos yang rawan dipolitisasi untuk menguntungkan pasangan calon tertentu menjelang pilpres,” sebut Devi.

Bansos Jokowi pada musim kampanye, bukan tanpa pesan, tetapi akan berpengaruh pada preferensi pemilih.

“Hal ini disebabkan oleh asosiasi bansos tentunya akan lekat dengan pemerintah petahana sehingga semakin memperkuat approval rating public terhadap Presiden Jokowi. Akibatnya “realitas Jokowi effect” akan semakin berpengaruh positif bagi salah satu pasangan calon yang dianggap lekat dan identik dgn program pemerintah incumbent,” ujar Devi.

Dengan adanya ‘kekuatan besar’, termasuk bansos di belakang paslon tertentu, maka persaingan antar paslon menjadi timpang.

“Terutama, mengingat sejak awal pendaftaran kandidat capres cawapres sudah ada persepsi publik yang terbentuk tentang cawe-cawe presiden dalam pemilu mendatang,“ tandas Devi.(fri/jpnn)

Yuk, Simak Juga Video ini!


Redaktur & Reporter : Friederich Batari

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler