Pengumuman SBMPTN Picu Penutupan Pintu Gerbang Kampus

Kamis, 30 Juni 2016 – 05:19 WIB
Sejumlah mahasiswa memalangi pintu gerbang kampus Universitas Cenderawasih. Foto: dok/Cenderawasih Pos

jpnn.com - JAYAPURA - Suasana di kampus Universitas Cenderawasih, Abepura, Papua sedikit tegang menyusul aksi sekumpulan mahasiswa memalangi pintu gerbang, Rabu (29/6).

Aksi ini dipicu ketidakpuasan sekitar 10 mahasiswa yang protes hasil tes Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN). Mereka meminta sejumlah nama-nama yang tak lulus bisa diakomodir oleh Uncen. 

BACA JUGA: Lamaran Ditolak, DOR! Oknum Polisi Tembak Kekasihnya

Aksi memalangi pintu gerbang ini dilakukan sejak  pagi hingga pukul 12.30 WIT. Setelah mereka puas menyampaikan aspirasi yang kembali mengganggu. Menariknya kedua pintu gerbang Uncen atas bisa benar-benar ditutup karena pagar besi yang dilepas dengan paksa, kembali digotong dan diletakkan di tengah jalan. 

Pembantu Rektor III Frederik Sokoy menyampaikan bahwa benar yang diinginkan beberapa mahasiswa ini adalah meminta Uncen mengakomodir calon mahasiswa yang tidak lolos. Sebagai pimpinan dirinya hanya menerima untuk diteruskan ke rapat pimpinan.

BACA JUGA: DPD PDIP Bangun Posko Arus Mudik Juga di Sini

“Tadi beberapa mahasiswa meminta seperti itu dan aspirasinya sudah kami terima. Sebenarnya hasil SBMPTN tahun ini sudah sangat berpihak kepada anak Papua, karena yang diterima sebanyak 81 persen (lokal) dan 19 persen lainnya dari non Papua sehingga ini sudah menjawab,” katanya seperti dikutip dari Cenderawasih Pos, Kamis (30/6).

Frederik menyebut bahwa dari hasil ini seharusnya mahasiswa bisa melihat dengan dewasa, tidak mungkin Uncen menerima 100 persen, karena ini ujian terbuka dan secara nasional. “Jangan selalu memalang untuk mengajukan tuntutan, itu tidak arif namanya,” imbuhnya. 

BACA JUGA: Ketua dan Wakil Ketua PN yang Minta THR Akhirnya Dimutasi ke Daerah Ini

Ketua MPM  Uncen, Pontius juga mengakui soal keberpihakan ini. “Kalau saya melihat tahun ini sudah transparan dan ada keberpihakan yang baik,” singkatnya.

Dua calon mahasiswa, bernama Grace dan Erika asal SMAN 1 Sentani mengaku tak lolos. Keduanya sendiri bukan anak asli Papua yang awalnya ingin masuk jurusan FKM, namun karena keterbatasan kuota akhirnya tak lolos. “Tadi sudah cek namanya di koran tapi tidak ada, nanti lihat peluang lain saja.” singkat keduanya.

Kapolsek Abepura, Kompol Arnolis Korowa menyampaikan aksi memalangi kampus tak berlangsung lama dan sudah bubar. Kapolsek sedikit bingung dengan aksi ini, mengingat soal yang diujikan pasti sama karena berstatus seleksi nasional.

“Semua soal sama, dia belajar yang lain juga belajar dan mungkin hanya duduk di kelas dan sekolah yang berbeda. Bila tak lulus ya harusnya introspeksi, jangan salahkan siapa-siapa. Kalau zaman kami yang susah bisa berprestasi mengapa yang zaman sekarang yang canggih dan informasi bisa diperoleh dari mana saja malah terlihat sulit,” tandas Kapolsek. (ade/tri/adk/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Menpar: Dari Mie Aceh sampai Ayam Tangkap Wajib Dicoba


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler