Penyaluran Tuntas dan Tepat Waktu, Mensos Juliari Tutup Program BSB

Selasa, 03 November 2020 – 11:48 WIB
Menteri Sosial Juliari P Batubara saat penutupan penyaluran BSB di Kendal, Jawa Tengah, Selasa (3/11). Foto: Humas Kemensos RI.

jpnn.com, KENDAL - Menteri Sosial (Mensos) Juliari P Batubara menutup pelaksanaan program Bantuan Sosial Beras atau BSB karena telah terealisasi 100 persen secara tepat waktu.

Penyaluran BSB tuntas untuk seluruh wilayah di Indonesia per 31 Oktober 2020 dengan total 450.000 ton beras.

BACA JUGA: Mensos Ari Ajak Masyarakat Berikan Perlakuan Setara Bagi Semua Disabilitas

Penutupan program ditandai dengan pelepasan spanduk paket beras pengiriman terakhir dari Gudang Bulog Kaliwungu, Kabupaten Kendal.

Pada kesempatan itu, Mensos Juliari menyapa masyarakat Kendal dan Jawa Tengah secara umum, sekaligus menyampaikan salam dari Presiden Joko Widodo (Jokowi).

BACA JUGA: Jokowi Tak Perlu Turun Tangan, Cukup Arya yang Hubungi Adian

"Program BSB ini merupakan bagian kebijakan Bapak Presiden untuk meringankan beban masyarakat terdampak pandemi. Presiden berpesan agar selama pandemi tidak ada masyarakat yang kelaparan. Saya datang untuk memastikan program ini bermanfaat untuk bapak ibu," kata Mensos Juliari, Selasa (3/11).

Dia menyebutkan bahwa program BSB merupakan bagian dari Jaring Pengaman Sosial (JPS) yang diamanatkan kepada Kementerian Sosial (Kemensos) dalam menanggulangi dampak pandemi.

BACA JUGA: ISIS Serbu Kampus, 22 Tewas, Sejumlah Mahasiswa Terkapar di Kelas, Ngeri

“Sasarannya adalah 10 juta KPM PKH seluruh Indonesia berupa beras medium dari Bulog,” katanya.

Melalui BSB, setiap KPM PKH mendapatkan 15 kg beras medium dari Bulog setiap bulan selama tiga bulan (Agustus-Oktober 2020) dengan anggaran Rp 4,5 triliun.

Dengan bantuan ini, diharapkan KPM PKH yang sejatinya juga masyarakat dengan pendapatan rendah, bisa terbantu dalam memenuhi kebutuhan pokoknya selama pandemi.

Manfaat lainnya, beban pengeluaran keluarga KPM PKH di masa pandemi bisa dikurangi, dan efek dari program ini juga berdampak luas. "Jadi program dampak positifnya langsung terasa oleh KPM,” katanya.

Secara tidak langsung, BSB membuka pasar bagi petani untuk menjual berasnya ke Bulog sehingga kesejahteraan mereka juga meningkat.

Efek domino dari program ini dirasakan juga antara lain oleh para pekerja bongkar muat, tukang ojek, usaha penyewaan perahu, mobil/truk, pekerja dan pengusaha angkutan barang. “Jadi BSB juga efektif menggerakkan perekonomian, " katanya.

Jateng merupakan salah satu provinsi dengan sasaran penerima BSB sangat besar. Totalnya mencapai 1.560.744 KPM dengan jumlah beras sebesar 70.233.480 Kg.

Untuk penerima BSB di Kabupaten Kendal sebanyak 39.719 KPM atau beras sebanyak 1.787.355 Kg. Adapun di Kabupaten Semarang sejumlah 28.730 KPM menerima BSB atau sebanyak 1.292.850 Kg.

"Saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kelancaran dan kesuksesan penyelenggaraan BSB ini. Kepada Perum Bulog, pemerintah daerah,  transporter, para pendamping dan semua pihak yang telah membantu," ucap Mensos Juliari.

Untuk penanganan dampak Covid-19, Kemensos melaksanakan program Jaring Pengaman Sosial dengan penyaluran Bansos Reguler, Bansos Khusus, dan Bansos Tambahan.

Bansos Reguler diluncurkan untuk penanganan kemiskinan dimana dilaksanakan sebelum masa pandemi, yakni meliputi PKH yang menjangkau 10 Juta KPM dengan anggaran Rp 36,8 triliun. Kemudian Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT)/Program Sembako menjangkau 20 Juta KPM dengan anggaran Rp 43,1 triliun.

Kemudian Bansos Khusus diluncurkan untuk membantu meringankan masyarakat terdampak Covid-19. Penerima Bansos Khusus merupakan masyarakat miskin dan rentan miskin baik terdaftar dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) maupun Non-DTKS yang merupakan hasil pendataan pemerintah kabupaten dan kota.

Bansos Khusus meliputi Bansos Sembako (BSS) Jabotabek menjangkau 1,9 Juta KPM  dengan anggaran Rp 6,8 triliun dan Bansos Tunai (BST) menjangkau 9 juta KPM dengan anggaran Rp 32,4 triliun.

Terakhir adalah Bansos Tambahan untuk membantu KPM bansos reguler memenuhi sebagian kebutuhan pokok dan meningkatkan daya beli, serta menggerakkan roda perekonomian di masa pandemi.

Selain BSB, bansos tambahan lainnya adalah Bansos Tunai KPM BPNT/Program Sembako Non-PKH yang menjangkau 9 Juta KPM dengan indeks sebesar Rp500 ribu/KPM sekali salur, dengan anggaran Rp4,5 triliun.(*/jpnn)

Simak! Video Pilihan Redaksi:


Redaktur & Reporter : M. Fathra Nazrul Islam

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler