Perang Bintang

Oleh: Dhimam Abror Djuraid

Sabtu, 15 Oktober 2022 – 17:02 WIB
Irjen Teddy Minahasa Putra. ANTARA/HO-Polda Sumbar

jpnn.com - Warganet menyambut gegap gempita penangkapan Irjen Teddy Minahasa dalam kasus narkoba 5 kilogram sabu-sabu. 

Warganet mengaitkan penangkapan ini dengan dugaan adanya perang bintang di kalangan petinggi Polri.

BACA JUGA: Irjen Teddy Minahasa Ditangkap, Pengamat Menduga Ada Perang Bintang di Internal Polri

Teddy Minahasa ditetapkan sebagai Kapolda Jatim berdasarkan Surat Telegram Kapolri Nomor: ST/2134 IX/KEP/2022.

Posisi Kapolda Jatim itu sebelumnya diduduki Irjen Nico Afinta yang dicopot setelah terjadinya tragedi Kanjuruhan.

BACA JUGA: Jokowi Sentil Gaya Hidup Mewah Anggota Polri: Saya Mengingatkan Hati-Hati, Rem Total!

Belum sempat menduduki jabatan baru Teddy sudah ditangkap karena narkoba.

Pada Jumat (14/10) sore, kata kunci 'Kapolda Jatim' menduduki peringkat teratas trending topic Twitter Indonesia dengan 11.600 kicauan.

BACA JUGA: Edi Hasibuan: Teddy Minahasa Layak Diancam Hukuman Mati

Kata kunci terkait, seperti 'Narkoba', 'Kapolri', dan 'Perang Bintang' berturut-turut ada di peringkat 11, 12, dan 14

Ada warganet yang terheran-heran, belum dilantik dan belum sertijab, tetapi sudah dicokok terkena kasus narkoba.

Lainnya menyebut perang bintang Star Wars di tubuh Polri. Seorang warganet mengutip serial Star Wars V: Empire Strikes Back menyindir serangan balik oleh Sang Kaisar yang sekarang tengah menjadi pesakitan dalam kasus pembunuhan anak buahnya.

Ada juga yang lebih iseng menyebut Star Wars episode ke-20 ‘’Star Wars XX: New Hope’’. Ini sindiran lucu karena episode ke-20 masih jauh, dan berarti ‘’new hope’’ atau harapan baru juga masih jauh.

Warganet itu mengutip Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo yang berjanji akan bersih-bersih di institusi Polri.

Karena janji itu maka warganet pura-pura menaruh harapan kepada Polri, tetapi mungkin harus menunggu 20 tahun.

Warganet lain memelesetkan ‘’new hope’’ menjadi ‘’no hope’’ alias tidak ada harapan. Warganet tidak percaya janji Listyo Sigit bisa ditunaikan.

Diketahui, sempat beredar struktur organisasi 'Konsorsium 303' yang digawangi oleh mantan Kadiv Propam Ferdy Sambo. Dia dijuluki sebagai 'Kaisar Sambo' dan disebut menjadi pemimpin jaringan judi online dengan omzet triliunan rupiah.

Salah satu nama yang disebut sebagai sebagai bagian jaringan itu adalah Nico Afinta, kapolda Jatim yang sekarang dicopot dan digantikan oleh Teddy.

Kasus Teddy yang terjadi semasa masih di Sumbar ditangani oleh Ferdy Sambo yang ketika itu masih menjabat Kadiv Propam.

Sekarang ketika Teddy mendapatkan promosi kasus itu pun diledakkan. Penangkapan di wilayah Polda Metro Jaya juga dikaitkan dengan Fadil Imran, Kapolda Metro Jaya yang namanya juga disebut-sebut dalam struktur ‘’Konsorsium 303’’.

Isu perang bintang menjadi ramai. Profil Teddy Minahasa yang kaya raya juga menjadi sorotan.

Sebuah akun mempertanyakan sumber kekayaan Teddy Minahasa yang hampir Rp 30 miliar. Warganet itu merasa janggal dan tidak masuk akal melihat kekayaan Teddy.

Menurut catatan LHKPN per 31 Desember 2021, harta Teddy mencapai Rp 29,97 miliar.

Harta itu meliputi aset tanah dan bangunan Rp 25,8 miliar, alat transportasi dan mesin Rp 2 miliar, harta bergerak Rp 500 juta, surat berharga Rp 62,5 juta, dan kas senilai 1,5 miliar.

Seorang wartawan senior bercerita bahwa ia dihubungi temannya yang pensiunan jenderal bintang dua dan mengatakan bahwa real kekayaan Teddy bisa 10 kali lipat dari yang diakuinya di LHKPN.

Rekening gendut pernah membuat heboh Indonesia ketika pada 2010 Majalah Tempo membuat laporan investigasi mengenai ‘’Rekening Gendut Perwira Polisi’’.

Lima orang pimpinan polisi terungkap punya rekening gendut miliaran rupiah dari sumber yang mencurigakan.

Di antara pemilik rekening gendut itu adalah Budi Gunawan yang ketika itu menjabat sebagai Kepala Lembaga Pendidikan Polri.

Rentetan dari kasus ini berkembang sehingga pada 2015 Budi Gunawan ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi).

Setelah melalui perseteruan yang keras Budi Gunawan lolos dari sangkaan. Akan tetapi akibatnya dia gagal menjadi Kapolri.

Nama lain yang muncul sebagai pemilik rekening gendut ialah Susno Duadji yang ketika itu menjabat sebagai kepala Bareskrim.

Susno kemudian terlibat dalam perseteruan sengit dengan KPK. Perseteruan ini terkenal dengan sebutan pertarungan cicak lawan buaya, istilah yang diungkapkan oleh Susno. 

Sekarang Susno rajin muncul di televisi nasional menjadi komentator kasus Ferdy Sambo, Kanjuruhan, dan terbaru kasus Teddy Minahasa.

Tiga kasus besar ini menjadi tamparan beruntun yang harus diterima Kapolri Listyo Sigit Prabowo. 

Hattrick tiga kali berturut-turut merupakan kebobolan besar yang memalukan. 

Kasus Ferdy Sambo menjadi pekerjaan rumah jumbo buat Kapolri. Belum jelas penyelesaiannya, muncul Tragedi Kanjuruhan yang benar-benar membuat institusi Polri remuk redam karena sasaran hujatan publik nasional dan internasional.

Penggunaan gas air mata oleh polisi terhadap suporter dikutuk secara internasional. 

Di berbagai pertandingan kompetisi Eropa muncul spanduk bertuliskan ‘’Police Murderer’’. 

Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) bentukan pemerintah sudah mengeluarkan rekomendasinya.

Salah satu poinnya mendesak pimpinan puncak PSSI dan jajarannya mengundurkan diri. 

TGIPF masih berbaik hati tidak menuntut Kapolri mundur. Akan tetapi, masih ada tim lain pencari fakta yang bersikap kritis terhadap Polri, misalnya Komnas HAM.

Kasus penangkapan Irjen Teddy Minahasa terkait kasus narkoba betul-betul membuat KO Listyo Sigit Prabowo. 

Timing-nya benar-benar menohok, yaitu ketika Listyo Sigit dan seluruh jajaran perwira tinggi dan perwira menengah Polri dipanggil oleh Jokowi ke Istana dalam keadaan dilucuti total, tanpa ada simbol pangkat sama sekali.

Teddy Minahasa ibarat final blow yang membuat Listyo Sigit terjungkal di ring. Listyo Sigit benar-benar menjadi bebek lumpuh yang sudah tidak bisa lagi bergerak. Tak ayal Listyo Sigit terlihat gemetar.

Ketika membacakan hasil-hasil pertemuan dengan presiden kepada media, tangan Listyo Sigit terlihat gemetar. 

Warganet yang punya hawk eyes, mata elang, melihat tangan Kapolri gemetar waktu mengumumkan hasil pertemuan dengan Kapolri. 

Catatat kertas yang dipegangnya terlihat sering kali bergetar dan itu menunjukkan bahwa Kapolri gemetar.

Ada yang iseng menyebutnya terkena Parkinson, tentu saja tidak ini sekadar komentar usil. Akan tetapi, kamera zoom yang diarahkan ke tangan Listyo Sigit bisa menyorot dengan jelas gerakan jari-jarinya yang gemetar sehingga membuat kertas catatan yang dipegangnya bergetar.

Salah satu poin yang disampaikan Sigit adalah bahwa presiden menyampaikan adanya penurunan kepercayaan masyarakat terhadap Polri. Ini adalah pernyataan yang penuh eufimisme. 

Kepercayaan masyarakat terhadap polisi bukan hanya turun, tetapi menguap. Tiga kasus besar yang beruntun ini mengikis habis kepercayaan masyarakat kepada Polri.

Jokowi yang mencomot langsung Listyo Sigit sebagai Kapolri pun sudah terlihat hilang kepercayaan terhadap pilihannya sendiri. 

Indikasi itu terlihat pada momen upacara peringatan hari ulang tahun TNI. 

Ketika itu, setelah acara selesai, Jokowi menyalami semua undangan VVIP kecuali Listyo Sigit Prabowo.

Indikator kedua ketika kemarin Listyo Sigit Prabowo dilucuti habis oleh Jokowi ketika diundang ke istana. 

Tidak ada topi berbintang, tidak ada tongkat komando, tidak ada ajudan, tidak ada HT maupun HP. 

Listyo Sigit diplonco—kalau tidak dipermalukan--habis-habisan oleh Jokowi.

Pantas saja Listyo Sigit gemetaran tangannya. 

Jabatannya sebagai Kapolri mungkin tinggal menghitung hari. (*)

Jangan Lewatkan Video Terbaru:


Redaktur : M. Kusdharmadi
Reporter : Cak Abror

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler