Perang Yaman: Krisis Kemanusiaan yang Terlupakan

Senin, 18 Juni 2018 – 10:56 WIB
Korban perang di Yaman. Foto: AFP

jpnn.com - Seandainya koalisi tidak melancarkan serangan besar-besaran ke Al Hudaida pekan lalu, dunia mungkin lupa Yaman masih dilanda perang.

Konflik yang kali pertama muncul akibat Arab Spring 2011 dan berkelanjutan sampai sekarang itu telah membuat 22 juta penduduk Yaman menderita. Perang pun tidak kunjung mereda.

BACA JUGA: Arab Saudi Bikin Krisis Kemanusiaan Yaman Kian Parah

”ABDA bisa merasakan ketakutan itu di tiap sudut jalan. Bukannya bersenang-senang merayakan Idul Fitri bersama keluarga, mereka malah sibuk menyetok makanan dan bahan bakar agar bisa tetap bertahan,” kata seorang jubir Palang Merah Internasional (ICRC) kepada Los Angeles Times Jumat (15/6).

Akhir Ramadan yang menjadi hari kemenangan umat muslim di seluruh dunia itu justru menjadi momen duka bagi masyarakat Yaman yang sebagian besar beragama Islam.

BACA JUGA: Rudal Saudi Hantam Gedung Kemendagri, 50 Tewas

Melengkapi salat Id yang diramaikan deru mesin jet tempur, Idulfitri pun dihiasi dentum ledakan dan desing peluru. Bahkan, intensitas serangan menjadi kian tinggi di hari kedua Lebaran, Sabtu (16/6).

Seorang staf CARE di Hudaida mengatakan bahwa pasukan koalisi melancarkan serangan udara sejak pagi buta. ”Pesawat tempur koalisi terbang rendah di atas kawasan ini sejak pukul 4 pagi. Sangat mengerikan. Bahkan, lebih mencekam daripada serangan-serangan sebelumnya,” katanya.

BACA JUGA: Ngeri, Pangeran Mohammed Perintahkan Pembunuhan Tokoh Houti

Serangan udara tanpa henti itulah yang membuat warga panik. Kota berpenduduk sekitar 600.000 orang itu pun menjadi sepi. Sebagian penduduk melarikan diri ke kota lain.

Sebagian lain yang tertinggal terpaksa bertahan di dalam rumah demi keselamatan. Para pria dan wanita dewasa sibuk memborong makanan dan barang kebutuhan pokok agar bisa bertahan hidup di tengah pertempuran.

Selain makanan, bahan bakar menjadi barang yang banyak dicari. Bukan hanya oleh warga sipil, melainkan juga rumah sakit dan kantor pemerintah. Sebab, sejak Hudaida digempur koalisi mulai 3 Juni, aliran listrik byar-pet.

Rumah sakit di kota pelabuhan terbesar Yaman itu terpaksa mengandalkan generator untuk membangkitkan listrik secara mandiri.

Bagi Sarah Leah Whitson, direktur Timur Tengah Human Rights Watch (HRW), pertempuran Hudaida tidak akan membuat kondisi rakyat menjadi lebih baik.

Siapa pun yang berkuasa atas kota tersebut hanya akan membuat penduduk sipil semakin menderita. Sebab, Houthi maupun pasukan koalisi sama-sama punya catatan buruk soal kemanusiaan.

”Dua pihak yang berkonflik itu punya rekor yang sama buruknya. Mereka sama-sama pelanggar HAM dan hukum internasional,” kata Whitson seperti dikutip ABC News.

Karena itu, dia mendesak Dewan Keamanan (DK) PBB bertindak. Jika perlu, DK PBB harus mengancam Houthi dan koalisi dengan sanksi.

April lalu Sekjen PBB Antonio Guterres menyebut Perang Yaman sebagai perang yang terlupakan. Sebab, dunia seolah-olah tak peduli pada penderitaan rakyat di sana.

Selain harus bertahan dalam situasi perang, penduduk sipil yang setiap hari kekurangan pangan pun dibayangi wabah penyakit. Salah satu yang menjelma menjadi nyata dan merenggut banyak nyawa adalah kolera.

Sayang, menurut Guterres, fakta-fakta menyedihkan itu tidak terlalu terekspos karena media hanya fokus ke Syria.

Di Yaman hampir separo bocah usia 6 bulan sampai 5 tahun kekurangan gizi. Wajar, tidak mudah bagi warga sipil di wilayah konflik untuk mendapatkan makanan. Bantuan dari PBB pun tidak bisa dipastikan datangnya.

Dibandingkan dengan Syria, krisis kemanusiaan di Yaman jauh lebih parah. PBB menempatkan Yaman pada peringkat pertama indeks negara-negara konflik yang dicekam krisis kemanusiaan.

Alasannya, mungkin karena Amerika Serikat (AS) tidak tampil secara terang-terangan sebagai salah satu lakon dalam perang Yaman. Padahal, dari sebanyak 17.000 serangan udara yang dilancarkan koalisi atas Sanaa dan Hudaida, ada peran penting AS.

Sebab, bom yang dijatuhkan di kota-kota yang menjadi sarang Houthi itu didapatkan koalisi dari Negeri Paman Sam. (hep/c10/dos)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Tawa Lepas Pangeran Mohammed Usai Membeli Senjata dari Trump


Redaktur & Reporter : Adil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler