Perbankan Indonesia Segera Panen Valas

Kamis, 06 Oktober 2011 – 04:04 WIB

JAKARTA - PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) siap menampung limpahan valas dari dana aktivitas ekspor senilai total USD 29 miliarDana yang dalam proses pengalihan dari perbankan asing ke perbankan domestik itu akan semakin menggairahkan industri perbankan.

Direktur Keuangan BRI, Ahmad Baiquni, mengatakan pengalihan valas dari bank asing ibara durian runtuh bagi perbankan Indonesia

BACA JUGA: Lengkapi Kawasan BNR, Bakrieland Alokasikan Rp 8 Miliar

"Bank di Indonesia siap menerima limpahan dana valas
Kami siap untuk itu karena menurut data dananya mencapai USD 29 miliar," ungkapnya di Jakarta, kemarin.
      
Saat ini, kata Baiquni, dana valas di BRI sekitar 13 persen dari total dana pihak ketiga (DPK) total sekitar Rp 270 triliun

BACA JUGA: Metland Kebut Pusat Belanja

Berapa pun kelak dana tambahan yang akan masuk, menurutnya, akan turut memerkuat perseroan.

Dana tersebut dinilai akan ikut membantu percepatan pembangunan ekonomi yang membutuhkan kegiatan investasi."Harapan kita, kebutuhan infrastruktur bisa didanai dari dalam negeri baik dari utang atau dana hasil ekspor," tuturnya.

Seperti diketahui, Bank Indonesia (BI) belum lama ini mengumumkan Peraturan Bank Indonesia Nomor 13/20/PBI/2011 tentang Penerimaan Devisa Ekspor Hasil Ekspor dan Penarikan Devisa Utang Luar Negeri
Dalam peraturan yang akan mulai efektif 2 Januari 2012 ini, eksportir diwajibkan menerima Devisa Hasil Ekspor melalui bank devisa di Indonesia

BACA JUGA: Pelanggan Indosat Tembus 50 Juta

Baiquni mengatakan, dana yang ada di bank asing terkait aktivitas itu saat ini sekitar USD 29 miliar.

Dalam riset Deutsche Bank bertajuk Global banks credit quality in a deleveraging world, yang dirilis kemarin, perbankan di Indonesia termasuk di antara bank-bank yang paling kuat di tengah tingginya tekanan keuangan yang didasarkan pada tinjauan komprehensif dari sistem ketahanan perbankan global terhadap goncangan keuangan yang hebat.
      
Perbankan di Indonesia dinilai akan lebih tahan terhadap lonjakan tajam kredit macet dan penurunan laba daripada perbankan di Amerika Serikat, Inggris, dan Perancis"Bank-bank di Indonesia memiliki ketahanan dan kesiapan yang baik untuk menghadapi risiko resesi dan goncangan hebat pada sistem perbankan internasional," ungkap riset tersebut.
      
Dengan level kredit yang relatif rendah pada perekonomian Indonesia dan tingginya tingkat kapitalisasi bank, pihaknya berharap Indonesia dapat memperoleh manfaat dari akses kredit yang baik dalam beberapa tahun ke depanRiset ini juga mengukur risiko sistem perbankan sejumlah negara berdasarkan beberapa kriteria, termasuk risiko makro ekonomi, risiko sistemik, ketahanan bank terhadap lonjakan tajam provisi kredit macet dan laba praprovisi (pre-provision profits) yang tertekan.

Berdasarkan skor 'peta bahaya', Indonesia memperoleh skor 19 dari 45, yang menjadikan sistem perbankan Indonesia termasuk peringkat teratas di antara negara berkembang, di belakang Meksiko (17) dan Thailand (16)Sebaliknya, negara-negara maju di dunia menduduki peringkat bawah, seperti Perancis memperoleh nilai 24, sementara Inggris memperoleh nilai 23 dan Amerika Serikat memperoleh nilai 22Yunani dan Portugal memperoleh nilai 33, sementara Spanyol dan Irlandia masing-masing memperoleh nilai 32.

Jerman, Jepang, Australia, Swedia dan Israel menduduki peringkat lima teraman untuk sistemperbankan negara maju berdasarkan kriteria tersebut"Kebijakan fiskal pemerintah yang disiplin memungkinkan level kredit Indonesia ada di bawah 30 persen dari PDB (Product Domestic Bruto) dan memastikan terjaganya kapasitas bank untuk tetap memberikan pinjaman dan mendukung pertumbuhan ekonomi," ungkap laporan tersebut.(gen)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Toyota Optimis Segera Akhiri Dominasi Jazz


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler