Peringatkan Penguasa yang Menzalimi Rizieq, Ustaz Abdul Somad Ungkap Kisah Trump dan SBY

Senin, 23 November 2020 – 12:52 WIB
Ustaz Abdul Somad. Foto: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Ustaz Abdul Somad (UAS) merasa tergelitik melihat fenomena penegakan hukum yang tebang pilih. Dia mencontohkan masalah yang menimpa para aparat karena berhubungan dengan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab (HRS)

Yang berkaitan dengan Habib Rizieq, tidak segan-segan diberikan sanksi. Sedangkan untuk kasus lainnya yang serupa seperti kerumunan massa, menurut UAS, tidak mendapatkan sanksi.

BACA JUGA: 5 Berita Terpopuler: Bung Karno saja Tak Searogan Rizieq, Tak Usah Mendewakan Keturunan Nabi, Anggota Polri Wajib Baca

Begitu pula dengan hinaan yang diderakan kepada Habib Rizieq, menurutnya, seolah-olah diabaikan. Padahal yang dihina adalah seorang ulama.

UAS pun lantas mengingatkan para pemimpin negara yang tengah berkuasa. Bahwa, jabatan itu ada masanya. Hari ini dihormati begitu jabatan itu lepas, bukan tidak mungkin akan panen hinaan.

BACA JUGA: Rizieq Shihab Tolak Swab Test, Wagub DKI Suarakan Denda Rp 5 Juta

"Wahai para pemimpin yang hari ini dititipkan amanah kekuasaan. Beberapa hari ini kau lihat apa yang dilakukan orang pada Donald Trump," kata UAS dalam ceramahnya di kanal YouTube religiOne.

Dia menuturkan soal kehebatan Donald Trump saat berkuasa di negara adidaya dengan kekuasaan besar dan kaya raya.

BACA JUGA: Bareskrim Kebut Penyidikan Kasus Rizieq, FPI Langsung Singgung soal Anak Jokowi: Biar Allah yang Balas

Namun, ketika kekuasaan diambil Joe Biden, Donald Trump justru dipermalukan banyak pihak.

"Kalau hari ini punya kekuasaan sampai masanya kau pun akan mengalami seperti yang dialami Donald Trump. Jabatan itu dicabut oleh Allah," kata UAS mengingatkan.

Dia juga mengungkapkan kejadian sama menimpa Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Saat berkuasa, SBY sangat disegani karena punya partai, purnawirawan jenderal. Setelah kekuasaan itu tidak ada di tangan, dia difitnah, di-bully, balihonya disobek. 

"Saya masih melihat video bagaimana Bapak SBY waktu ke Pekanbaru beberapa tahun lalu. Di depan beliau, balihonya disobek. Beliau jenderal, ganteng, punya partai, tetapi setelah kekuasaan itu tidak ada di tangan, dia difitnah, di-bully, balihonya disobek," tuturnya.

"Bagaimana ketika hal itu tidak ada pada diri kita, tidak jenderal, tidak ganteng, tidak pula punya partai," sambungnya. (esy/jpnn)

 

Video Terpopuler Hari ini:


Redaktur & Reporter : Mesya Mohamad

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler