Perkirakan Harga BBM Subsidi Juga Bakal Naik

Dradjad Ingatkan Pemerintah Cerdas Sikapi Tekanan Ekonomi

Kamis, 14 Mei 2015 – 14:27 WIB

jpnn.com - JAKARTA - Pengamat ekonomi Dradjad H Wibowo memerkirakan kebijakan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) tidak hanya terhenti pada jenis non-subsidi saja. Menurutnya, harga jual BBM subsidi jenis Premium pun tak lama lagi akan naik.

Dradjad mengatakan, untuk kenaikan harga Pertamax tentu bukan hal mengejutkan. Sebab, selama ini harga jual Pertamax memang dilepas sesuai mekanisme pasar. “Jadi hanya masalah waktu saja untuk Premium dan juga Pertalite naik harganya,” kata Dradjad saat dihubungi melalui telepon, Kamis (14/5).

BACA JUGA: Citilink Kedatangan Pesawat Baru

Anggota Komisi Keuangan dan Perbankan DPR periode 2004-2009 itu menjelaskan, harga minyak dunia memang diperkirakan akan merambat naik hingga akhir tahun 2015. Misalnya, harga minyak mentah jenis Brent sudah mulai naik sejak Februari 2015. Sedangkan minyak mentah jenis  West Texas Intermediate (WTI) saat ini juga merambat naik. “Penyebabnya adanya kenaikan permintaan minyak dunia,” katanya.

BACA JUGA: Siap-Siap, Tengah Malam Nanti Harga BBM Non-Subsidi Naik Lagi

Merujuk pada data Organisasi Negara Eksportir Minyak (OPEC), Dradjad mengatakan bahwa saat ini kebutuhan minyak dunia mencapai 29,3 juta barel per hari atau naik 300 ribu barel per hari. Di sisi lain, katanya, terjadi penurunan aktivitas rig di Amerika Serikat sehingga produksi minyak dari negeri Barack Obama itu pada kuartal ketiga dan keempat 2015 pun diperkirakan akan turun.

“Ini semua mendorong harga minyak mentah dunia bergerak naik. Karena harga BBM di Indonesia semakin bergerak mengikuti harga dunia, saya rasa memang harga BBM sejak Mei ini akan cenderung naik hingga akhir tahun,” ulasnya.

BACA JUGA: OJK Genjot Pertumbuhan Investor di Indonesia Timur

Namun demikian Dradjad juga mengingatkan pemerintah untuk bisa bertindak kreatif dan tidak buru-buru menaikkan harga Premium. Sebab, menaikkan harga Premium justru akan membuat pemerintah menghadapi persoalan baru.

“Dilemanya untuk pemerintah, kurang dari sebulan lagi sudah masuk Ramadan di mana biasanya inflasi naik. Jika kalau (Premium, red) dinaikkan sebelum Ramadan, inflasi bisa melonjak tinggi,” ulasnya.

Dradjad menambahkan, jika harga Premium dinaikkan usai Ramadan dan Lebaran maka efek infliasinya bisa rendah. Hanya saja, beban subsidi tetap akan lebih besar.

“Padahal penerimaan APBN masih seret. Yang jelas, kondisi ekonomi 2015 ini memang jauh lebih berat dari tahun-tahun lalu. Pemerintah harus lebih cerdas dan kreatif dalam menghadapi situasi yang makin sulit,” cetusnya.(ara/jpnn)

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Tim Antimafia Migas Akhiri Masa Kerja, Ini Rekomendasinya


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler