Pertanian Menjadi Sektor Paling Terdampak Perubahan Iklim, Waspada!

Kamis, 03 Agustus 2023 – 04:49 WIB
Pertanian Menjadi Sektor Paling Terdampak Perubahan Iklim, Waspada!. Foto: Edi Suryansyah/Jpnn.com

jpnn.com, JAKARTA - Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengatakan bahwa pertanian merupakan sektor yang paling terdampak perubahan iklim.

Menurut Dwikorita, perubahan pola curah hujan dan kenaikan suhu udara menyebabkan produksi pertanian menurun secara signifikan.

BACA JUGA: Universitas Terbuka Jadi Host AHEC Communique, Angkat Mitigasi Perubahan Iklim

"Kejadian iklim ekstrem berupa banjir dan kekeringan menyebabkan tanaman yang mengalami gagal panen atau puso makin meluas," ujar Dwikorita.

Dia menuturkan dampak perubahan iklim yang besar memerlukan upaya aktif untuk mengantisipasinya melalui strategi mitigasi dan adaptasi.

BACA JUGA: Peringatan BMKG untuk Daerah-Daerah ini, Waspada Gelombang Tinggi!

"Jika tidak, maka ketahanan pangan nasional akan terancam," ungkap Dwikorita saat pembukaan Sekolah Lapang Iklim (SLI) Komoditas Buah Jeruk yang berlangsung di Balai Desa Bringin Kecamatan Bayan Kabupaten Purworejo, baru-baru ini.

Sebagai ujung tombak pertanian, petani harus memiliki bekal ilmu pengetahuan untuk dapat memahami fenomena cuaca dan iklim beserta perubahannya.

BACA JUGA: Begini Strategi Subsektor Hortikultura Mengatasi Dampak Perubahan Iklim Global, Mantap!

“Dengan mengetahui lebih dini, petani dapat melakukan perencanaan mulai dari penyesuaian waktu tanam, penggunaan varietas unggul tahan kekeringan, pengelolaan air, dan lain sebagainya," katanya.

Melalui SLI, BMKG berupaya membantu petani memahami informasi iklim. Terlebih, pertanian merupakan kegiatan yang dilakukan di tempat terbuka sehingga sangat berkaitan dengan cuaca dan iklim.

"Harapan kami, setelah petani dibekali ilmu tentang cuaca dan iklim maka kedepan volume produksi dan kualitas jeruk asal Purworejo, makin baik sehingga membawa kesejahteraan bagi petani," imbuhnya.

Dwikorita mengungkapkan bahwa fenomena El Nino dan IOD Positif yang terjadi membuat musim kemarau tahun ini dapat menjadi lebih kering dan curah hujan pada kategori rendah hingga sangat rendah.

Jika biasanya curah hujan berkisar 20 mm per hari, kata dia, maka pada musim kemarau ini angka tersebut menjadi sebulan sekali atau bahkan tidak ada hujan sama sekali.

"Puncak kemarau kering ini diprediksi akan terjadi di Agustus hingga awal September dengan kondisi akan jauh lebih kering dibandingkan 2020, 2021 dan 2022," jelasnya. (jlo/jpnn)

Simak! Video Pilihan Redaksi:


Redaktur & Reporter : Djainab Natalia Saroh

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler