Pertumbuhan Penjualan Ritel Sulit Tembus 10 Persen

Senin, 24 September 2018 – 11:29 WIB
Matahari Department Store.FOTO: FATZERIN/KALTIM POST/JPNN

jpnn.com, JAKARTA - Data Bank Indonesia (BI) menunjukkan penjualan ritel pada Agustus 2018 turun 4,13 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Karena itu, ekonomi makro yang bergejolak membuat pengusaha ritel membidik target pertumbuhan di level aman, yakni 5–7 persen.

BACA JUGA: Aprindo Dukung Program Desa Migran Produktif Binaan Kemnaker

Angka itu sedikit lebih rendah dibandingkan dengan proyeksi pada awal tahun sebesar sepuluh persen.

Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Tutum Rahanta mengungkapkan, prediksi tersebut dipicu fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap USD dan pengenaan pajak penghasilan (PPh) pasal 22 terhadap 1.147 komoditas impor.

BACA JUGA: Aprindo Jatim Pede Omzet Ritel Tembus Rp 3,1 Miliar

Tutum menyebut sebagian besar pengusaha ritel menjual produk yang berbahan baku impor.

’’Sehingga nilai tukar rupiah yang terus melemah semakin memberatkan,” ujar Tutum, Minggu (23/9).

BACA JUGA: Peritel Bersedia Bermitra dengan Warung UKM

Apabila tekanan rupiah terus berlanjut, lanjut dia, kinerja penjualan ritel cukup sulit untuk mencapai target awal sepuluh persen.

 ’’Tahun ini, untuk bisa tumbuh dua digit agak susah. Diperkirakan pertumbuhan penjualan ritel modern pada tahun ini hanya 5–7 persen,’’ tambah Tutum.

Ekonom Universitas Indonesia (UI) Lana Soelistianingsih menjelaskan, kekuatan ekonomi Indonesia selama ini dipangku konsumsi rumah tangga, sedangkan penjualan ritel menyumbang 60 persen.

”Tren penurunan ritel ini akan membuat kondisi perekonomian pada kuartal ketiga tidak akan jauh beda dengan kuartal ketiga 2017. Pada periode yang sama tahun lalu, perekonomian Indonesia tumbuh 5,06 persen,” ujar Lana.

Di samping itu, hal yang lebih memberatkan bagi pelaku usaha adalah saat harga bahan baku impor naik, peritel tak bisa langsung menaikkan harga di pasar.

’’Kami paling anti menaikkan harga karena itu keputusan paling sulit bagi kami. Besar sekali dampaknya, pada akhirnya kepada konsumsi masyarakat,’’ kata Ketua Umum Aprindo Roy Mandey.

Menurut Roy, biasanya ritel mulai menaikkan harga saat hulu mengalami eskalasi harga.

Misalnya karena ada kelangkaan barang produksi, biaya bahan baku naik, dan BBM naik yang memengaruhi kenaikan biaya produksi dan harga jual barang.

Saat ini, produksi dan pasokan barang kebutuhan pokok pangan untuk stok ritel cukup stabil. (agf/c17/oki)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Kenaikan Penjualan Ritel Offline Lebih Besar Daripada Online


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler