Pertumbuhan Upah Riil Asia Diprediksi Tertinggi pada 2018

Senin, 18 Desember 2017 – 18:21 WIB
Ilustrasi pekerja industri. Foto: Rakyat Kalbar/JPNN

jpnn.com, JAKARTA - Korn Ferry memprediksi Asia akan mengalami pertumbuhan upah riil tertinggi pada 2018 meski kenaikan melambat dibanding tahun sebelumnya.

Salah satu divisi Hay Group itu memperkirakan gaji naik 5,4 persen. Namun, angka itu turun dibanding tahun lalu yang mencapai 6,1 persen.

BACA JUGA: Tarif Tol Naik, Perekonomian Makin Sulit

Peningkatan upah riil yang disesuaikan dengan inflasi diperkirakan naik 2,8 persen alias tertinggi di seluruh dunia.

Meski begitu, angka tersebut turun dari tahun lalu yang sebesar 4,3 persen.

BACA JUGA: Cabai Merah Sumbang Inflasi Tertinggi

Tiongkok tetap konsisten dengan kenaikan upah riil yang diprediksi sebesar 4,2 persen pada 2018 dibandingkan empat persen tahun lalu.

Sebagian besar negara di Asia mengalami penurunan prediksi upah riil year ove year.

BACA JUGA: Waspadai Gejolak Harga Volatile Foods Jelang Akhir Tahun

Vietnam diprediksi mengalami penurunan sebesar 4,6 persen. Angka itu turun dari 7,2 persen.

Sementara itu, Singapura sebesar 2,3 persen atau turun dari 4,7 persen dan Jepang sebesar 1,6 persen alias anjlok dari 2,1 persen.

Korn Ferry juga memprediksi Indonesia akan mengalami perlambatan di pasar secara keseluruhan.

Hal itu diperburuk oleh sektor industri, perkebunan, pertambangan, minyak, dan energi.

Untuk bertahan di pasar yang lamban, banyak organisasi di Indonesia mengurangi tenaga kerja atau membekukan kenaikan gaji.

Di sisi lain, pemerintah saat ini fokus pada pengembangan sektor infrastruktur. Langkah itu memungkinkan industri pendukungnya untuk pulih sedikit dan meningkatkan perkiraan gaji secara keseluruhan.

Terkait inflasi, karyawan di seluruh dunia diperkirakan mengalami kenaikan upah riil rata-rata 1,5 persen.

Angka itu turun dari prediksi 2017 yang sebesar 2,3 persen dan 2016 yang mencapai 2,5 persen.

"Dengan inflasi yang meningkat di sebagian besar belahan dunia, kami melihat adanya pemangkasan terhadap kenaikan upah riil di seluruh dunia. Persentase kenaikan atau penurunan gaji akan bervariasi sesuai peran, industri, negara dan wilayah. Namun, satu hal yang jelas, secara rata-rata karyawan tidak melihat pertumbuhan gaji riil yang sama dengan yang mereka peroleh satu tahun yang lalu,” kata Korn Ferry Global Head of Rewards and Benefits Solutions Bob Wesselkamper, Senin (18/12).

Dia menambahkan, upah di Australasia diperkirakan tumbuh sebesar 2,5 persen.

Angka itu merupakan kenaikan 0,7 persen pada upah riil bila disesuaikan terhadap inflasi.

Australia akan melihat pertumbuhan top-line 2,5 persen, tingkat inflasi 2,1 persen, dan kenaikan upah riil 0,4 persen.

Di Selandia Baru, kenaikan gaji diperkirakan 2,5 persen dengan inflasi 1,5 persen, untuk kenaikan gaai riil satu persen.

Di Amerika Serikat (AS), rata-rata kenaikan gaji diprediksi pada angka tiga persen alias sama dengan tahun lalu.

Disesuaikan dengan tingkat inflasi dua persen yang diharapkan pada 2018, kenaikan upah riil adalah satu persen,

Angka itu turun dari tahun lalu yang berada pada 1,9 persen. Pekerja Kanada akan melihat kenaikan gaji sebesar 2,6 persen.

Dengan inflasi sebesar 1,7 persen, pertumbuhan upah riil sebesar 0,9 persen.

Di sisi lain, karyawan di Eropa Timur diperkirakan mengalami kenaikan gaji dengan rata-rata enam persen pada 2018.

Namun, setelah memperhitungkan inflasi, upah riil hanya akan meningkat 1,4 persen atau turun 2,1 persen dari tahun lalu.

Di Eropa Barat, pekerja diperkirakan mengalami kenaikan upah yang lebih rendah.

Rata-rata kenaikan sebesar 2,3 persen. Kenaikan upah riil yang disesuaikan terhadap inflasi sebesar 0,9 persen.

Dengan ketidakpastian setelah keputusan Brexit, upah di Inggris hanya naik dua persen.

Dikombinasikan dengan tingkat inflasi 2,5 persen, upah riil diperkirakan turun sebesar 0,5 persen.

Ini berbeda dengan 2017 saat upah riil di Inggris naik hingga 1,9 persen.

Karyawan di kedua negara ekonomi terbesar Eropa, Prancis dan Jerman, diperkirakan melihat kenaikan upah riil masing-masing 0,7 dan 0,8 persen.

Di Timur Tengah, upah diperkirakan meningkat 3,8 persen dibanding tahun lalu yang mencapai 4,5 persen.

Kenaikan upah riil diperkirakan mencapai 0,9 persen dibanding tahun lalu sebesar 2,5 persen.

Di UAE, inflasi sebesar 4,6 persen dikombinasikan dengan kenaikan gaji hanya 4,1 persen, maka upah riil akan turun sebesar -0,5 persen.

Yordania dan Lebanon melihat penurunan terbesar di kawasan ini. Yordania diperkirakan memiliki pertumbuhan upah riil 1,6 persen atau turun dari 6,3 persen tahun lalu.

Sementara itu, pertumbuhan upah riil Lebanon diperkirakan 1,8 persen dibanding 6,1 persen tahun lalu.

Meski gaji teratas akan meningkat 8,5 persen di Afrika, inflasi tinggi berarti kenaikan sesungguhnya hanya 1,7 persen atau naik dari 0,7 persen tahun lalu.

Di Mesir, gaji teratas akan meningkat sebesar 15 persen. Namun, tingkat inflasi 18,8 persen. Artinya, karyawan akan melihat pemotongan upah riil sebesar -3,8 persen.

Karyawan di Amerika Latin diperkirakan melihat kenaikan upah 6,2 persen.

Dengan inflasi yang melambat di kawasan itu, kenaikan upah riil akan mencapai 2,1 persen atau naik dari 1,1 persen tahun lalu.

Di Kolombia, inflasi diperkirakan 2,7 persen untuk 2018. Dengan kenaikan gaji yang diproyeksikan sebesar 5,3 persen, upah riil untuk Kolombia naik sebesar 2,6 persen.

Di Brasil, kenaikan gaji yang diharapkan adalah 7,3 persen. Dengan inflasi empat persen, kenaikan riil diperkirakan akan mencapai 3,3 persen.

"Pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat di negara-negara maju menjaga keseimbangan kenaikan upah. Di negara berkembang, meningkatkan keterampilan pekerja sangat penting bagi perusahaan untuk mempertahankan keunggulan dalam persaingan. Karyawan terampil tersebut dapat berharap untuk melihat kenaikan upah karena kekurangan bakat di wilayah tertentu mendorong kenaikan upah,” imbuh Wesselkamper.

Para ahli penetapan upah di Korn Ferry merekomendasikan penerapan pendekatan holistik saat menentukan upah.

"Meski indeks inflasi merupakan tolok ukur yang solid untuk mengkaji tren pasar terkait upah, kami merekomendasikan agar perusahaan mengambil sudut pandang yang lebih luas dengan menentukan dan menyetujui langkah-langkah pengendali biaya, strategi bisnis dan kondisi perdagangan setempat. Program kompensasi perlu ditinjau secara berkala untuk memastikannya sesuai dengan perubahan kondisi bisnis dan pasar,” kata Global Korn Ferry General Manager-Pay Benjamin Frost. (jos/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Inflasi Rendah Berlanjut, Waspada Kenaikan Harga Akhir Tahun


Redaktur & Reporter : Ragil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler