Pesan Tabok Jokowi Berpotensi Dimaknai Berbeda oleh Aparat

Selasa, 27 November 2018 – 21:17 WIB
Pengamat Politik sekaligus Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago. Foto: Dokpri for JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Pengamat politik Pangi Sarwi Chaniago mengatakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali mengeluarkan pernyataan yang menuai kontroversi sebagai respons kekecewaannya terhadap pihak-pihak yang menyerang dirinya secara personal melalui isu Partai Komunis Indonesia (PKI).

Menurut dia, Jokowi sangat kecewa karena masih saja ada masyarakat yang percaya terhadap isu yang dihembuskan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Dengan emosional, kata dia, Jokowi mengungkapkan bahwa dirinya ingin mencari dan "menabok" pihak-pihak yang masih memainkan isu ini.

BACA JUGA: Jokowi Puji Kegigihan BI Membela Rupiah

Menurut Pangi, ungkapan ini jika dirunut ke belakang jelas punya korelasi dengan pernyataan emosional dan berapi-api terkait respons Jokowi menyikapi isu kebangkitan PKI.

“Saat itu Jokowi mengeluarkan penyataan akan "gebuk" jika memang PKI itu ada, karena menurutnya, PKI itu jelas bertentangan dengan ideologi negara,” kata Pangi, Selasa (27/11).

BACA JUGA: Habiburokhman: Pak Jokowi, Jangan Libatkan Polisi Dong

Namun, kata Pangi, sangat disayangkan pernyataan yang terlalu reaktif direspons justru memberi sentimen negatif pada Jokowi. Hal ini secara tidak langsung melongsorkan citra Jokowi. “Karena posisi-nya sebagai presiden sangat tidak layak atau kurang tepat mengeluarkan diksi atau frasa emosional semacam ini,” ungkap Pangi.

Sebab, ujar dia, dikhawatirkan diterjemahkan secara keliru oleh perangkat negara yang berada di bawah kendali presiden untuk "menggebuk" dan "menabok" pihak-pihak yang menurut mereka sebagaimana dimaksud Jokowi.

BACA JUGA: Ingin Mengkritik Prabowo atau Jokowi? Datang Saja Kemari

“Bisa saja pesan dan makna "tabok" berpotensi diterjemahkan berbeda aparat (multitafsir), justru akan melebar ke mana-mana bahkan dikhawatirkan keluar dari substansi seperti dimaksudkan presiden,” kata Pangi.

Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting itu menambahkan, situasi ini akan bertambah parah (komplikasi) mengingat posisi Jokowi sebagai calon presiden, punya pendukung loyal (strong voter), bisa juga salah merespons pernyataan tersebut.

Relawan dan tim sukses yang butuh stempel eksistensi sebagai pendukung setia dari Jokowi. “Respons berlebihan dari pendukung Jokowi dikhawatirkan justru akan menimbulkan api gesekan di tengah masyarakat dan mempertajam konflik karena capres yang mereka dukung terus dizalimi dan difitnah,” paparnya.

Sebagai capres petahana, kata Pangi, semestinya Jokowi harus percaya diri dan bijak menyusun diksi atau frasa dalam menghadapi Pilpres 2019. Dia menyarankan fokus pada tagline-nya "kerja-kerja-kerja" tanpa harus terpancing reaksioner, bersikap emosional merespons isu dan peristiwa politik yang dituduhkan belakangan ini.

“Dengan fokus sibuk mempromosikan kinerja, capaian, prestasi yang sukses maka sang penantang secara automatically bakal kesulitan melawan petahana, dengan syarat pemilih diarahkan untuk menunjukkan prestasi dan kerja nyata Jokowi,” jelas Pangi.

Namun sebaliknya, kata dia, jika terpancing untuk merespons isu politik murahan, sentimen publik akan cenderung negatif. Tentu akan merugikan Jokowi secara elektoral. Dalam situasi ini petahana justru kena jebakan batman. “Terjebak ke dalam arus yang dimainkan pihak lain,” tegasnya.

“Dengan kata lain petahana "menari" di atas tabuh gendang orang lain. Semestinya, petahana yang menciptakan arus sendiri bukan malah sebaliknya ikut arus sang penantang,” pungkas Pangi. (boy/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Memfitnah Soeharto di Era Orba? Tak Ditabok tapi Dihilangkan


Redaktur & Reporter : Ken Girsang

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag
Jokowi   Tabok  

Terpopuler