Petani Buah Naga Babat Tanamannya, Ada yang Biarkan Busuk di Pohon

Senin, 04 Februari 2019 – 07:20 WIB
Salah satu petak kebun buah naga di kawasan Jalan Cemara, Desa Bakungan, Kecamatan Glagah, Banyuwangi. Foto: BAYU SAKSONO/RADAR BANYUWANGI/JPNN.com

jpnn.com, BANYUWANGI - Sejumlah petani buah naga di wilayah Banyuwangi Selatan, Jatim, menebas tanaman yang harganya masih jeblok tersebut.

Pantauan wartawan Jawa Pos Radar Banyuwangi, di Desa Temurejo, Kecamatan Bangorejo, petani tampak membabat tanaman buah naga yang ditanam di lahan seluas setengah hektare. Para petani mengaku tidak mau ambil pusing akibat takut merugi saat panen raya tiba nanti.

BACA JUGA: Petani Protes, Buang Buah Naga ke Sungai dan Jalan

Salah satu petani buah naga di Dusun Kedungringin, Desa Temurejo, Kecamatan Bangorejo, Agus Purwadi, 58, mengaku, tanaman buah naga miliknya itu sengaja dibabat. Sebab, harga buah naga semakin tak menentu dan tidak kunjung naik.

Selain itu, petani juga kecewa dengan hasil panen yang harganya murah. ”Capek panen buah naga, harganya murah dan tidak naik-naik,” keluhnya.

BACA JUGA: Harga Buah Naga Anjlok, Satu Kilogram Jadi Rp 1.000

Sebelumnya, harga buah naga untuk grade A dihargai Rp 2.000 per kilogram (kg), grade B Rp 1.000, dan grade C Rp 500 per kg. Untuk saat ini, harga buah naga naik menjadi Rp 2.500 per kg untuk grade A.

BACA JUGA: Harga Anjlok, Manfaat Buah Naga Tetap Juara

Namun, kenaikan buah naga sebesar Rp 500 itu dianggap tidak membawa dampak yang signifikan bagi para petani. Petani mengaku tetap merugi jika harga pasaran buah naga di bawah Rp 5.000 per kg. ”Kalau harga buah naga di atas Rp 5.000 masih dapat menutupi biaya operasional,” ungkapnya.

Agus menyebut, sebenarnya perawatan dan penanaman buah naga memang tergolong mudah dan tidak ribet. Namun, karena harga jual yang cenderung terus menurun, petani akhirnya memilih untuk merombak dan membabat habis tanaman buah naga miliknya itu. ”Rencananya mau saya tanami jeruk. Saya malas menanam buah naga lagi,” imbuhnya.

Sebagian besar petani juga enggan memanen buah naga miliknya. Petani lebih memilih membiarkan buah naga matang di pohonnya dan enggan memetiknya. Murahnya harga buah naga juga sangat berdampak pada pendapatan petani.

BACA JUGA: Petani Protes, Buang Buah Naga ke Sungai dan Jalan

Petani juga tidak dapat berbuat banyak untuk masalah anjloknya harga buah tersebut. ”Ya mau bagaimana lagi. Saya juga malas memanen. Buah naga saya biarkan tumbuh dan busuk di pohonnya,” pungkasnya.

Sementara itu, para petani di sekitar wilayah pusat Kota Banyuwangi terpantau masih mempertahankan tanaman dengan buah berwarna merah itu. Apalagi, panen buah naga di kawasan Banyuwangi kota tidak membeludak seperti di wilayah Banyuwangi Selatan.

BACA JUGA: Kementan Gandeng Tiga Investor Serap 150 Ton Buah Naga

Selain itu, para pedagang eceran buah naga di tepi jalan kawasan pusat kota Banyuwangi juga tidak sebanyak di wilayah Banyuwangi Selatan. (kri/als/bay/c1)

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Stabilkan Harga Buah Naga, Petani Banyuwangi Dapat Kontrak Besar Pembelian


Redaktur & Reporter : Soetomo

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler