Petani Milenial Bogor Kembangkan Tanaman Hias Berdaun Indah, Diminati Hingga Mancanegara

Sabtu, 12 Februari 2022 – 15:30 WIB
Tanaman hias yang dikelaola oleh petani milenial di Bogor. Foto: dok Kementan

jpnn.com, BOGOR - Kementerian Pertanian (Kementan) memiliki perhatian serius terhadap pengembangan florikultura guna mewujudkan program gerakan tiga kali lipat ekspor (Gratieks).

Kondisi pandemi Covid 19 yang melanda dunia tidak menyurutkan Indonesia mengikuti beragam ajang pameran internasional, di antaranya International Floriculture Expo di Florida, ODICOFF di Belanda, dan Serbia pada November 2021 lalu.

BACA JUGA: Begini Cara Kementan Jaga Stabilisasi Perunggasan

Kontrak ekspor tanaman hias dengan beberapa buyer dalam dua ajang bergengsi itu membuktikan bahwa florikultura lokal diminati pasar Amerika dan Eropa.

Hal tersebut tentunya menjadi peluang bagi pembudidaya lokal untuk meraih pasar internasional.

BACA JUGA: Mentan SYL Sebut Sektor Pertanian Jadi Penyangga Utama Ekonomi Nasional

Terlebih Indonesia merupakan negara megabiodiversitas genetik florikultura.

Direktur Buah dan Florikultura, Liferdi Lukman mengatakan ada tanaman scindapsus truebii Black yang merupakan tanaman dari Kalimantan dan banyak disukai beberapa negara.

BACA JUGA: Pendidikan Vokasi Sebagai Sarana Mencetak Petani Milenial Tangguh

"Saya baru pulang dari Belanda dan Serbia. Mereka familiar dengan tanaman subtropis berwarna warni," kata Liferdi Lukman dalam siaran persnya, Sabtu (12/2).

Liferdi, sapaan akrabnya, bangga dengan hadirnya kaum milenial yang turut berkontribusi menggerakkan sektor pertanian. Salah satunya Pelita Desa Nursery.

Mereka yang baru bergerak di bidang florikultura sejak Maret 2021 itu dikelola para milenial muda, bahkan ada yang tercatat masih pelajar SMA.

Meskipun tidak berlatar belakang pendidikan dari pertanian, anggotanya memiliki antusias tinggi menggeluti bidang florikultura dan bersemangat memperluas jaringan pasar ekspor.

Direktur CV Pelita Desa Nursery, Cici Melita mengatakan beberapa waktu lalu mengikuti pameran tanaman di International Floriculture Expo di Florida.

Di sana, kata dia, pihaknya mempromosikan beragam jenis tanaman hias yang dikembangkannya itu.

"Dari ekspo tersebut kami mendapat kontrak dengan beberapa buyer dan nursery yang kami kunjungi,” kata Melita.

Menariknya, produksi dilakukan dengan memberdayakan masyarakat sekitar.

Jumlah petani binaan mencapai ratusan orang yang tersebar di Desa Putat Nutuh dan Desa Tamansari, Kecamatan Ciseeng, Bogor.

Dalam produksi keseharian, mereka menggunakan istilah mustahik dan muzakki yang mengadopsi konsep islami.

Sederhananya, mustahik merupakan orang-orang yang menerima zakat, sedangkan muzakki ialah orang yang membayar zakat.

Kelompok mustahik digambarkan sebagai petani binaan.

Melalui kerja sama tersebut, petani binaan yang memiliki pendapatan tinggi bisa mencapai level muzakki.

Dia menyebut kerja samanya memadukan konsep mustahik dan muzakki. Petani membeli bibit ke Pelita Desa seharga Rp 35 ribu, kemudian petani melakukan perbanyakan dan menjual anakan ke Pelita Desa rata-rata seharga Rp 25 ribu sampai Rp 35 ribu per anakan untuk jenis tanaman hias yang diminati pasar.

"Dari pola ini, petani mendapat keuntungan dan tidak khawatir karena tanaman yang mereka kembangkan sudah ada pasarnya,” lanjut pengusaha yang masih berusia 24 tahun iru.

Pelita Desa mengembangkan beragam jenis florikultura yang mengikuti selera dan permintaan dari buyer dan analisa tren pasar.

Selain itu, nursery itu juga membangun green house seluas 400 meter persegi yang digunakan sebagai karantina tanaman sementara sebelum dikirim ke luar negeri.

“Florikultura yang kami budidayakan antara lain Scindapsus, Philodendron, Aglaonema, Anthurium, Amydrium, Monstera, Syngonium, dan Cyrtosperma," tuturnya.

Kualitas, kuantitas dan kontinuitas merupakan kunci dalam pemasaran florikultura.

"Kami juga melakukan perbanyakan tanaman dengan kultur jaringan untuk memenuhi permintaan ekspor. Termasuk melakukan kemitraan dengan pelaku usaha di berbagai daerah untuk memenuhi pasar sekaligus memperluas jaringan informasi,” terangnya.

Salah satu petani binaan, Ummi mengembangkan tanaman hias daun di lahan seluas 60 meter persegi mampu menghasilkan 1200 pohon.

Hal itu tentunya membantu meningkatkan kesejahteraan para petani binaannya.

“Saya merasakan manfaat dan rezeki dari menanam tanaman hias milik Mbak Cici ini. Cukup menggunakan halaman depan rumah saja, semula saya hanya menanam 200 anakan kini berkembang lebih dari 1200 anakan,” pungkas Cici Melita. (mrk/jpnn)

Video Terpopuler Hari ini:

BACA ARTIKEL LAINNYA... Andi Akmal Meminta Kementan Tidak Terjebak Proyek Sesaat Petani Milenial


Redaktur : Dedi Sofian
Reporter : Dedi Sofian, Dedi Sofian

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler