Petani Milenial Manfaatkan Akar Bambu jadi Zat Tumbuh

Senin, 11 Mei 2020 – 15:23 WIB
Petani milenial makin berani membuat inovasi pertanian. Foto: kiriman dari BPPSDMP

jpnn.com, BANDUNG - Nurmala Alqisthi Najmudillah, seorang petani milenial yang merupakan mahasiswa tingkat akhir Polbangtan Bogor, membuat inovasi pertanian yang sangat berdaya guna.

Dia memanfaatkan akar bambu menjadi zat tumbuh.

BACA JUGA: Muslimin, Masih Muda, Peternak Ayam Kampung, Punya Omzet Rp 165 Juta per Bulan

Di desa Ciapus, Kecamatan Banjaran Kabupaten Bandung, Nurmala melakukan inovasi yang mengarah ke sistem pertanian organik karena terdapat beberapa permasalahan di desa, di antaranya tanah yang kurang subur dan penggunaan pupuk kimia yang berlebihan sehingga struktur tanah menjadi kurang bagus.

"Inovasi yang saya sampaikan ke petani yaitu Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) atau bakteri penumbuh akar. Karena akar merupakan hal yang paling utama dalam pertumbuhan tanaman. Jika akar tanamannya sehat dan bagus maka pertumbuhannya pun akan bagus pula," katanya. 

BACA JUGA: Pertanian Tak Boleh Berhenti, BPPSDMP Kementan Bahas Implementasi Closed Loop

"Dengan teknologi ini diharapkan bisa memperbaiki pertumbuhan tanaman sehingga produksi dan kualitas tanaman dapat terjamin, di samping berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman juga dapat memperbaiki kembali kesuburan tanah," imbuhnya.

Nurmala memanfaatkan bahan-bahan alam yaitu menggunakan akar bambu yang mudah ditemukan sekitaran desa untuk PGPR.

BACA JUGA: Wahai Milenial, Jadilah Petani alias Pemuda Tampan Masa Kini

Ia membuat uji perbandingan tanaman, antara tanaman dengan perlakuan PGPR dengan tanaman yang menggunakan pupuk kimia di tahap awal pertumbuhan.

"Pertumbuhan tanaman dengan menggunakan PGPR ini dilihat dari fisiologisnya lebih tegap daripada tanaman yang tidak menggunakan PGPR," jelasnya.

Berkoordinasi dengan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) setempat, Nurma door to door menyampaikan informasi terkait PGPR.

Upaya Nurmala tidak sia-sia, banyak petani yang antusias dalam menyerap informasi yang saya sampaikan mengenai PGPR dari akar bambu tersebut.

Ketua Kelompoktani Mekarsari Udin mengatakan pembuatan PGPR dari akar bambu ini sangat bermanfaat baginya dan tertarik untuk mengaplikasikannya.

“PGPR sangat berpengaruh terhadap tahap awal pertumbuhan di bandingkan dengan cara yang masih konvensional menggunakan pupuk kimia,” ungkap Udin.

Senada dengan Udin, Iwan Ridwan, anggota kelompoktani Mekarsari 4 pun mulai tertarik mengembangkannya.

"Kebetulan beliau satu-satunya petani yang menerapkan sistem pertanian organik dan juga beliau suka mendalami mengenai pertanian terbarukan di lahannya. Inovasi PGPR ini sangat membantu beliau untuk mengulik dan mendalami mengenai PGPR agar inovasi tersebut bisa diterapkan di lahannya sendiri," tambah Nurmala.

Penyuluh Pertanian Desa Ciapus Paris mengungkapkan kebanggaannya dengan inovasi yang dikembangkan Nurmala. Dirinya juga menyampaikan bahwa teknologi inovasi ini diharapkan dapat mengubah perilaku petani khususnya di desa Ciapus di antaranya kelompok tani Babakan, Mekarsari 2, Mekarsari 3 dan Mekarsari 4.

“Dengan dikenalkan teknologi ini semoga dapat memacu petani mengembangkan pertanian organik untuk meningkatkan produksi pertanian yang sehat,” pungkasnya.

Inovasi yang dilakukan oleh Nurmala merupakan jawaban dari arahan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) yang selalu menekankan generasi milenial harus memiliki kesiapan dan kesigapan dalam menghadapi tantangan.

"Generasi milienial pertanian harus mampu memecahkan segala persoalan dengan cara-cara baru berbasis teknologi", pesan Mentan dihadapan mahasiswa Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) beberapa waktu yang lalu.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Dedi Nursyamsi, pun mengamini pesan Mentan. Ia menegaskan, mahasiswa Polbangtan/PEPI sudah seharusnya menjadi motor penggerak transformasi pertanian tradisional Indonesia menuju modern, sesuai kodratnya sebagai generasi milenial. (*/jpnn)


Redaktur & Reporter : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler