PGRI: 14,5 Persen Orang Tua Tak Khawatir Anak Kembali ke Sekolah di Masa Pandemi

Selasa, 02 Juni 2020 – 16:30 WIB
Ilustrasi anak sekolah. Foto: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) mengapresiasi arahan Presiden Jokowi yang mewanti-wanti jajarannya agar tidak gegabah menerapkan normal baru pendidikan.

Sekolah memerlukan perlakuan khusus karena berbeda kondisinya dengan sektor lainnya. Terutama karena menyangkut keselamatan dan kesehatan anak didik.

BACA JUGA: PB PGRI: Pemerintah Punya Utang Gaji Guru Honorer Puluhan Tahun

"Kami mendukung arahan presiden karena sejalan dengan hasil survei Departemen Litbangmas PB PGRI pekan lalu," kata Ketua Umum PB PGRI Unifah Rosyidi, Selasa (2/6).

Dia melanjutkan, arahan Presiden Jokowi ini juga selaras dengan harapan para orang tua, peserta didik, dan guru.

BACA JUGA: 6 Pernyataan Sikap PB PGRI terhadap New Normal Dunia Pendidikan

PB PGRI telah mengadakan survei dengan responden 61,913 orang tua, 19,296 guru, dan 64,386 peserta didik di 34 provinsi, pada Kamis (28/5).

Melalui survei yang disebar melalui berbagai media sosial dan jaringan organisasi di 514 kab/kota seluruh Indonesia, didapatkan hasil 85,5% orang tua khawatir jika sekolah dibuka kembali.

BACA JUGA: Ini 10 Fakta tentang New Normal, Nomor 7 Paling Menakutkan

Hanya 14,5 persen orang tua yang tidak khawatir jika putra/putrinya kembali ke sekolah.

"Mayoritas orang tua nampaknya tetap menghendaki pembelajaran di sekolah dilanjutkan dengan pembelajaran daring dan sekolah tidak dibuka kembali hingga situasi memungkinkan," ujarnya.

Unifah mengungkapkan, yang menyatakan setuju Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dilanjutkan sebanyak 72.2 persen, sisanya 27.8 persen tidak setuju. Mereka juga menyatakan bahwa siswa mengikuti PJJ dengan baik sebanyak 68.5 persen, dan 31.5persen menyatakan belum.

Sedangkan kesiapan guru dalam normal baru sekolah adalah 53.5 persen menyatakan siap, sisanya 46.5% menyatakan belum siap.

Di sisi lain, ketika siswa ditanya perpanjangan PJJ hingga akhir Desember 2020, yang menyatakan setuju 42.6 persen, sisanya 57.4 persen menyatakan tidak setuju.

“Perlu evaluasi dan perbaikan pelaksanaan PJJ agar ke depan lebih baik dan siswa merasa nyaman,” tambah Sekjen PB PGRI 
Ali Rahim.

Sementara Dudung Nurullah Koswara, Ketua PB PGRI, mengatakan, hasil survei ini bisa menjadi bahan masukan bagi pengambil kebijakan, agar dalam mengambil keputusan membuka sekolah membutuhkan kehati-hatian dan kecermatan.

PGRI memandang tahun akademik tetap bisa dilaksanakan Juli 2020 dengan pelaksanaan pembelajaran secara daring, blended learning atau luring dengan protokol kesehatan yang sangat ketat agar sekolah tidak menjadi cluster baru dalam penyebaran Covid-19. (esy/jpnn)


Redaktur & Reporter : Mesya Mohamad

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler