Piagam dari Massa BEM SI Sangat Menohok Jokowi

Selasa, 20 Oktober 2020 – 14:25 WIB
BEM SI menggelar demonstrasi menolak UU Ciptaker di area Patung Kuda, Jakarta Pusat, Selasa (20/10). Aristo/jpnn

jpnn.com, JAKARTA - Massa dari Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) mulai menyampaikan asiprasi dalam aksi demo 20 Oktober 2020, menolak UU Cipta Kerja di areal Patung Kuda, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, hari ini (20/10).

Massa BEM SI membawa beberapa poster yang isinya menolak UU Cipta Kerja dan mengecam aksi anarkis petugas yang menurutnya terjadi pada aksi unjuk rasa sebelumnya. 

BACA JUGA: Ferdinand Unggah Foto Jokowi Menunduk di Depan SBY, Pemimpin Akan Berganti

Selain itu, massa juga membawa piagam yang ditujukan untuk pemerintah dalam demonstrasi kali ini.

Piagam itu berisikan tentang kegagalan pemerintah mengurus negara sebagai buntut pengesahan UU Ciptaker.

BACA JUGA: Demo 20 Oktober, Gerakan Muda Soekarno Kasih Kartu Merah kepada Jokowi

"Piagam kegagalan diberikan kepada pemerintah atas gagalnya mengelola negara. Tertanda rakyat yang menggugat," tulis piagam yang dibawa massa BEM SI di lokasi demonstrasi, Selasa.

Selain poster, BEM SI turut menggelar teatrikal dalam demonstrasi menolak UU Cipta Kerja hari ini.

BACA JUGA: Mahfud MD Endus Skenario Ada Korban di Demo 20 Oktober

Teatrikal itu menggambarkan matinya demokrasi, karena menurut mereka UU Cipta Kerja disahkan tanpa mendengar aspirasi rakyat.

Sementara itu, Koordinator Pusat Aliansi BEM SI Remy Hastian mengkritik ucapan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang menyebut aksi mahasiswa pada 8 Oktober 2020 untuk menolak UU Ciptaker, karena termakan hoaks.

Sebab, kata Remy, draf final UU Ciptaker baru diserahkan DPR ke pemerintah belum lama ini.

Namun, Jokowi sudah jauh hari mengklaim gerakan mahasiswa didasari haoks.

"Draf final UU Ciptaker baru diserahkan, tetapi kenapa Pak Presiden ketika mahasiwa menggelar aksi pada 8 Oktober kemarin, dibilang elemen masyarakat dan mahasiswa termakan hoaks," tutur dia dalam orasinya dari atas mobil komando. 

Selain itu, Remy juga mengkritik pemerintah karena terkesan menghalangi mahasiswa menggelar demonstrasi.

Melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), kata dia, mahasiswa diminta tidak menggelar aksi karena Indonesia masih dalam keadaan pandemi Covid-19.

"Mahasiswa tidak boleh turun ke jalan karena pandemi. Pak, Ibu, saya paham protokol kesehatan. Namun Bapak Ibu, kami memahami betul ada masalah besar yaitu kepentingan oligarki," ujar dia. (ast/jpnn)

Simak! Video Pilihan Redaksi:


Redaktur & Reporter : Aristo Setiawan

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler